Princess Pratama

Princess Pratama
Kembali ke Medan


__ADS_3

Papi Tama dan Mami Annisa menatap nanar pada mereka semua yang kini berlalu meninggalkan mereka berdua.


Kedua orang itu menatap sendu pada saudara dan keponakannya itu.


"Bang,"


"Ya sayang. Biarlah seperti ini. Mungkin ini yang terbaik. Sebaiknya kita segera kembali ke perusahaan. Danis saat ini sudah berada di tempat yang seharusnya. Ayo! Kamu harus cepat bertindak." Mami Annisa mengangguk, "Ali!" panggilnya pada papi Ali yang kini juga sedang bersiap bersama mami Kinara.


"Iya Bang. Kami udah siap kok. Kalian langsung saja ke perusahaan. Dan kami akan segera kesana. Alkira pun sudah menyusul tadi. Yang lainnya pun sudah menunggu. Ayo, sayang!" ajaknya pada mami Kinara yang diangguki olehnya.


"Kakak sama Abang hati-hati. Kami berangkat dulu. Seperti janji kita! Bahwa saat ini keadaan masihlah genting. Kita sebaiknya bergerak cepat!" Ucap Mami Kinara yang diangguki oleh Mami Annisa dan papi Tama.


"Tentu, ayo!" ajak Papi Tama pada mereka semua.


Semuanya mengangguk dan segera berlalu meninggalkan rumah besar kediaman mereka yang saat ini ditempati oleh Uwak Lana dan Ziana.


Sementara uwak Lana yang kini sedang sibuk mengurus kepulangan Kendra, bersama Aldo kini keduanya sednag mengurus segala sesuatunya.


Ziana dan Malik dengan setia menunggui Kendra yang kini sudah berada di dalam ambulan. Mereka langsung menuju ke bandara setelah segala sesuatunya selesai di urus.

__ADS_1


Aldo dan Uwak Lana pun berada di dalam ambulan itu. Mereka berlima pulang malam itu juga ke Indonesia setelah mengatakan kepada adik dan juga saudara iparnya.


Mami Maura dan Ummi Mutia sudah pulang ke kediaman nya. Mereka ingin menunggu dirumah saja. Menunggu kepulangan mereka berlima.


Pukul satu dini hari mereka berlima tiba di kediaman Uwak Lana. Dimana Ummi Mutia langsung saja menubruk bangkar Kendra yang kini masih tertidur dengan lelapnya.


Tidak terganggu sedikitpun dengan suara bising dan suara tangisan dari Ummi Mutia yang kini tersedu melihatnya sambil memeluk tubuh ringkih yang kini semakin kurus itu.


"Sudah, ayo kita bawa Kendra masuk dulu. Kakak!"


"Iya Pi. Bawa ke kamar kakak aja. Biar mudah untuk merawat dan mengurus Bang Kendra!"


Deg!


Deg!


"Kita masuk dulu. Setelah kami istirahat, baru kita bicara." Lirihnya dengan dada yang lumayan sesak mengingat sang Putri ternyata tidak ingin melepaskan Kendra setelah kepergian Tania.


Malik menatap datar pada sang papi yang kini berjalan smabil mendorong bangkar Kendra bersama Ummi Mutia.

__ADS_1


Uwak maura melihat pada Malik yang kini menatap datar pada kepergian kedua orang itu.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi Nak? Boleh mami tahu?" Ucapnya pada Malik yang diangguki oleh putra sulungnya itu.


Malik merangkul bahu Uwak Maura sambil menuntunnya masuk menuju ke dalam rumah mereka.


"Kakak memang sudah tiada mami. Maksud papi, Kak Ziana harus berpisah dari Bang Kendra hidup ataupun mati tentang kabar kak Tania. Tetapi.. Entah apa yang terjadi kepada kakak sampai dia memutuskan tidak akan berpisah dari Bang Kendra." Jelas Malik yang diangguki oleh Mami Maura.


"Tapi Nak, bukankah Kendra akan melepaskan Ziana juga nantinya? Bukankah itu keputusannya dulu jika Tania sudah ditemukan? Lalu apa yang terjadi sampai kakak kamu berubah pikiran seperti itu? Ini pasti ada sesuatu yang kita lewatkan hingga kita tidak tahu?"


"Abang nggak tahu, Mi. Yang jelas, semua masalah ini akan di selesaikan oleh papi ketika bang Kendra sembuh kembali. Untuk saat ini, kita harus bersabar dulu. Kakak bisa saja mengatakan jika dirinya ingin bertahan. Tetapi bagaimana dengan Bang Kendra? Pastilah suami kakak itu punya keputusannya sendiri. Suka tidak suka, kak Ziana harus menerima keputusan suaminya.


Semua itu demi kehidupan masa depannya. Dan Abang pun udah bilang sama papi. Kalau kakak harus patuh pada keputusan suaminya. Dan papi, tidak boleh ikut campur dalam hal itu.


Papi menyetujuinya. Kita tunggu bang Kendra sadar dulu. Ayo Mi. Kita istirahat. Badan Abang pegel semua ini!" Keluhnya pada sang mami yang kini terkekeh mendengar ucapannya.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2