Princess Pratama

Princess Pratama
Terpaksa melakukannya


__ADS_3

Mendengar ucapan dokter kenalan sang papi, membuat Ziana tertegun sejenak. Ia memikirkan hal itu matang-matang. Tak lama setelahnya, Ziana segera menemui temannya dan pamit sebentar ingin ke kamar mandi.


Ia melewati ketiga orang yang kini melihat kepergiannya menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua sana.


Tiba di depan pintu kamarnya itu, tangannya bergetar. Ia menekan rasa sesak di dadanya.


"Harus! Ini harus aku lakukan. Semua ini demi Bang Kendra bangun. Jika setelah ia bangun dan dirinya membenciku? Inilah pilihanku! Inilah keinginanku! Maaf mami.. Papi.. Kakak mendahului kalian berdua. Kakak akan berusaha sekali lagi. Jika tidak, kalian lah yang maju. Kakak menyerah!" Gumamnya sambil menekan handel pintu kamarnya dan segera masuk ke dalam.


Ziana menarik napasnya yang terasa begitu sesak. Ia berjalan perlahan dan menatap sendu dan nanar pada kekasih hatinya itu. Cinta keduanya setelah Uwak Lana. Papi nya.


Ziana menguatkan dirinya agar bisa berbicara seperti yang pikirannya saat ini katakan. Ia duduk dan menggenggam gamisnya dengan erat untuk menekan rasa takut, sedih dan juga sesak dalam waktu bersamaan.


Hingga tanpa sadar, dirinya meluapkan kata-kata yang seharusnya tidak ia katakan kepada Kendra. Karena ia tahu, betapa cintanya Kendra kepada Tania.


Tania merupakan hidupnya. Hidup dan matinya hanya Ziana. Ia hidup pun untuk Tania. Dan mati pun untuk Tania.


Dan tanpa sadar, lisannya itu menusuk relung hati Kendra hingga membuat napas pemuda yang koma itu mendengkus dan juga menggeram karena marah.

__ADS_1


Ziana tahu itu. Ia terus berusaha menyudutkan kakak sepupunya. Kata-kata yang seharusnya tidak pernah terucap olehnya, hari ini keluar juga dari hati, pikiran dan lisannya.


Ziana terpaksa melakukannya demi kesembuhan Kendra. Hidup tidak akan berhenti jika kita terus mengingat yang telah mati.


Jika Allah mengambilnya, maka Allah mempersingkat segala dosanya. Dan jika Allah masih memberikan umur panjang padanya, pertanda dirinya masih diberikan kesempatan untuk beramal lebih banyak lagi.


Dan ini juga yang Ziana coba katakan pada Kendra. Melalui perkataan nya yang menyudutkan Tania, pastilah pemuda itu akan segera sadar.


Benar seperti yang dokter Umar katakan. Bahwa Kendra langsung saja bangun setelah mendengar ucapan Ziana tadi.


Meluapkan rasa dihati yang sudah bersalah dengan mengatakan yang tidak-tidak tentang Tania.


Sebenarnya, pemikiran itu sempat terbit di pikirannya saat Kendra mengatakan jika dirinya akan melepaskan Ziana jika Tania sudah ditemukan hidup ataupun mati.


Ziana yang merasa cemburu dan sakit hati, bergumam lirih mendoakan jika Tania mati. Yang tanpa di duga olehnya ucapannya itu menjadi kenyataan yang akhirnya membuat dirinya kini semakin dirundung rasa bersalah pada Kendra dan juga Tania. Kakak sepupunya.


"Hiks.. Maafkan hiks adek, kak.. Maafkan adek.. Hiks.. Adek terpaksa kak.. Adek terpaksa.. Hiks.. Semua ini demi kesembuhan suami kita! Maafkan pikiran kotorku yang pernah ingin memiliki suami kita seorang diri.

__ADS_1


Aku merasa tidak panantas bersamanya kak. Aku bukanlah oranga yang dia inginkan untuk berada di sisinya. Hanya kamu Kak..


Maafkan aku kak.. Hiks.. Aku salah padamu. Seharusnya aku senang kala dirinya kini sudah menjadi milikku seutuhnya. Tetapi tidak Kak. Rasa bersalah dihatiku karena sudah merebut suami mu sangat membuatku tersiksa Kak.. Aku mohon.. maafkan aku Kak..


Aku harus apa sekarang? Aku tidak mungkin menemuinya setelah tadi berhasil melukai persaaannya dan membuatnya kecewa padaku. Karena aku menjelekkan dirimu.


Apa yang harus aku lakukan Kak? Aku yakin. Jika saat ini ia sudah sadar kembali. Karena sekilas aku bisa melihat pergerakan tangannya yang mengepal karena marah dengan ucapanku dan juga bola matanya yang bergerak cepat.


Yang artinya kalau bang Kendra sudah sadar kembali.


Allah.. Aku harus apa saat ini? Aku tidak mungkin menemuinya lagi. Aku tidak ingin melihat wajah datar dan kecewanya padaku! Aku harus apa?


Jika aku tidak menemuinya, maka mami dan papi akan curiga padaku, jika aku sudah membuat masalah dengan kesadarannya. Hiks.. Maafkan ku kak Tania.. Maafkan aku Bang kendra..


Kenapa kamu pergi secepat ini Kak? Kenapa kamu pergi disaat aku masih butuh kamu? Kamu kakak ku! Aku rela mengalah asal kamu bahagia Kak. Pernikahan ini bersifat sementara.


Setelah kamu kembali, kami akan berpisah. Itu janjinya. Tetapi kenapa kamu malah pergi Kak? Kenapa kamu melepasnya untukku? Kenapa?" isak Ziana seorang diri di kamar kedua adik kembarnya yang kini tertegun melihat dirinya menangis dan melupakan rasa sakit dihatinya karena bersalah pada suami dan juga kaka sepupu mereka itu.

__ADS_1


__ADS_2