
Tania, Uwak Lana dan papi Tama terus berbicara tentang Tania yang akan berangkat seorang diri kesana. Kendra yang duduk termenung, hanya terdiam mendengarkan rencana para tetua itu tanpa melibatkan dirinya.
Padahal Ziana itu 'kan masih istrinya? Lantas kenapa mereka tidak ingin membawa Kendra serta? Kenapa hanya Tania seorang diri? Begitu tidak bergunakah dirinya sampai semua keluarga tidak melibatkannya?
Kendra yang lelah menunggu salah satu dari orangtua itu bertanya dan meminta pendapat darinya, memilih pergi. Uwak Lana terkejut melihat itu.
"Ken! Mau kemana?" tanya Uwak Lana pada Kendra yang sudah berlalu kembali berhenti dan berbalik.
Saking kerasnya seruan Uwak Lana, Tania dan yang lainnya menatap Kendra yang kini berdiri mematung dengan wajah datarnya.
"Aku amu istirahat, Waka. Kalian lanjutkan saja. Toh, ada dan tidak adanya kehadiranku, kalian tetap tidak membutuhkanku. Bahkan istriku sendiri pun, tidak meminta izin dari ku untuk berangkat ke Belanda besok pagi!"
Deg!
Tersentak jantung Tania mendengarnya. Ia menatap pias pada Kendra yang kini berlalu meninggalkan ruangan yang dipenuhi oleh keluarga besarnya kini menatap pada Tania.
Tania menunduk, "Kakak belum mengabarkan dan juga minta izin padanya untuk pergi besok. Rencananya, nanti malam. Tetapi, udah keduluan..," lirih Tania dengan dada yang sesak saat melihat Kendra berlalu di ikuti si sulung Zayn dibelakangnya.
Papi Tama menghela napasnya. "Susul suamimu. Jelaskan padanya. Lain kali, sebelum kamu ngomong sama kami, kamu ngomong dulu sama suami kamu agar ia tidak tersinggung. Lihatlah sekarang ini? Kendra jadi tersinggung 'kan dengan kami? Dikira kami tidak membawanya serta dalam hal Ziana. Padahal kami pikir, jika suami kamu sudah tahu dengan rencana ini. Pergilah!" Ketus papi Tama pada Tania yang membuat Tania sedikit terhenyak.
__ADS_1
Karena papinya itu sedikit marah padanya. Tania berlalu dengan kepala menunduk. Uwak Lana menatap tidak tega padanya.
"Jangan bicara seperti itu, bang. Kasihan Tania," katanya pada papi Tama yang kini menatap Uwak Lana dengan sendu.
"Inilah kebiasaan Tania. Apa-apa nggak mau ngmong sama suami. Lihatlah tadi Kendra. Pantas saja abang perhatikan, dia lebih banyak diam dibandingkan berbicara. Ternyata ini dia masalahnya. Huh.. Tania, Tania. Kebiasaan yang tidak pernah berubah. Sudah menikah dan punya anak, masih beranggapan jika semua itu bisa ia selesaikan sendiri!" ucap Papi Tama sembari mengerling mami Annisa yang kini menunduk tidak ingin melihat padanya.
Ucapan papi Tama sangat menyindir mami Annisa yang juga melakukan hal yang sama seperti Tania lakukan saat ini. Ingatkan saja mami Annisa pergi ke Bandung dan mengurus segalanya seorang diri.
Jika papi Tama tidak menyusulnya, mungkin. Mereka belumlah kembali hingga saat ini. Boleh mandiri. Tetapi lihat situasi. Jika itu wanita yang sudah bersuami, ada hal apapun, sekecil apapun harus tahu suami.
Boleh mengerjakan sendiri tetapi, saat suami tidak bisa melakukan dan sudah menyerahkannya kepada kita sebagai istrinya. Tidak baik terlalu mandiri. Jika wanita sudah mandiri dan bisa hidup sendiri, buat apa kita butuh suami?
Lain lagi dengan pembatu rumah tangga. Ia bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup dan ekonomi anak dan keluarga terpenuhi. Mungkin, ia memilih bekerja seperti itu karena hanya dirinya yang bisa. Dan berniat membantu suaminya. Sedang suaminya berusaha dengan yang lain. Lain lagi ceritanya.
Setiap orang punya masalah dan cara sendiri untuk menanganinya. Akan tetapi, berbeda dengan seorang wanita yang masih bersuami. Segala sesuatunya harus tahu suami. Jika tidak, maka berdosa.
Kenapa berdosa?
Karena membohongi suami dan menganggap kalau suami sudah tidak ada. Padahal suaminya masihlah hidup. Lain cerita jika suami tidak mau membantu menyelesaikan masalah itu.
__ADS_1
Intinya, setiap perbuatan kita para wanita bersuami harus meminta izin dulu. Mau kemana pun, atau apapun itu. Tanpa mengantongi izin darinya, berdosa kita melangkah walau keluar rumah satu langkah saja. Terkecuali jika ia ridho.
Sama seperti Tania saat ini. Ia ingin mengatakan hal keberangkatannya ke Belanda nanti malam. Akan tetapi, malah semua itu keluarga membahasnya sekarang.
Tania lupa satu hal. Jika keluarganya berkumpul hari itu, maka otomatis semua bahasan tentang Tania dan Ziana akan mereka bahas disana.
Inilah kesalahan Tania yang lalai dalam mengatakan hal itu pada suaminya, Kendra. Tania tidak tahu, jika hal ini sangat berpengaruh pada Kendra.
Kendra yang belum sepenuhnya sembuh, ia merasa jika Tania tidak membutuhkannya lagi. Karena dirinya sakit, Tania tidak ingin melibatkan Kendra dalam hal itu. Kendra jadi berasumsi seperti ini.
Jangan salahkan Kendra jika berpikir demikian. Bukankah Kendra memang belum sembuh? Ia masih butuh obat dari Tania. Sedangkan Tania lupa hal itu.
Tania melangkah gontai menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Tiba disana, ia mematung mendengar ucapan Kendra pada putra sulungnya yang kini sedang berusaha menenangkan abinya itu.
"Kenapa mami kamu tega, Nak? Apakah segitu tidak pentingnya abi? Apakah karena abi pernah keganggu jiwanya, tidak boleh tahu apa rencananya? Kenapa seolah penyakitku ini yang menjadi tolak ukur Tania untuk berbicara terus terang padaku tentang rencananya? Apakah aku ini terlalu kotor dan hina?"
Deg!
"Apakah aku ini terlalu bodoh? Hingga tidak pantas mengetahui rencananya?"
__ADS_1
"Abi..."