Princess Pratama

Princess Pratama
Nafkah Batin


__ADS_3

Ehem, sedikit 21+ ye?


**


Tania tertegun mendengar ucapan Kendra. Ia masih mengusap surai hitam itu hingga Kendra terlelap.


Pikiran Tania melalang buana memikirkan hal itu. Jika memang dirinya satu-satunya, lalu kenapa ia harus menikahi Ziana?


Tania larut dalam pikirannya hingga tanpa sadar mata itu pun ikut terpejam mengikuti Kendra yang kini sudah lebih dulu terlelap.


Angin sepoi-sepoi meniup begitu tenang ke dalam kamar mereka hingga tanpa sadar keduanya kini sudah mengarungi dunia mimpi.


Pukul lima sore keduanya terbangun karena suara ketukan pintu di kamar mereka. Kendra yang lebih dulu sadar, kini bangun dan menemui orang itu.


Ia tersenyum saat melihat perlengkapan kamar mereka yang saat ini ingin disiapkan oleh mereka.


"Maaf tuan. Sesuai permintaan anda. Kami ingin merias kamar ini saat ini. Mohon kesediaan anda untuk keluar sebentar," ucapnya sopan yang di angguki oleh Kendra.


"Tunggu sebentar ya. Saya bangunkan istri saya dulu untuk keluar dari kamar ini."


"Baik," jawab mereka semua yang berjumlah lima orang.


Kendra segera mendekati Tania dan membangunkannya. "Bangun Hunny. Kita mandi dan sholat dulu yuk. Udah sore loh.. Sekalian kita jalan-jalan di tepi pantai batu putih ini." Ucapnya sambil mengelus pipi halus Tania.


Tania segera bangkit dan menyampir hijab di tangan Kendra. Padahal matanya begitu berat saat ini. Tetapi ia paksakan untuk berjalan mengikuti Kendra yang entah membawanya kemana.


Kendra mengangguk saat melewati orang itu. Mereka berlima pun segera masuk ke kamar Kendra dan mulai meriasnya.


*


*

__ADS_1


*


Selepas isya, keduanya baru kembali ke kamar mereka. Setelah tadi sore Kendra membawa Tania ke suatu tempat untuk menyegarkan tubuhnya yang katanya sangat lelah.


Tania tertawa saat Kendra membawanya ke tempat spa. Disana Tania di pijat dan juga luluran untuk kesegaran tubuhnya.


Keduanya keluar darisana setelah waktu maghrib. Sebelum pulang ke hotel, keduanya melakukan sholat di tempat yang sama saat tadi sore keduanya melakukan sholat ashar.


Mereka sholat maghrib disambung sholat isya. Setelahnya makan malam di restoran hotel itu. dan kini keduanya sedang berada di pintu kamar keduanya.


Tania membuka pintu kamar itu dan sangat terkejut melihat dekorasi kamar mereka yang kini sudah berubah menjadi kamar pengantin seperti saat mereka baru pertama menikah dulunya.


Tania mematung di depan pintu masuk keduanya. Kendra yang tahu segera memegang bahunya dan membawa masuk.


"Malam ini, malam kita berdua. Abang ingin memberikan mu nafkah batin untukmu yang pertama kali nya," ucapnya sambil membawa Tania masuk ke kamar mandi dan berwudhu.


Tania yang masih tertegun mengikuti langkah Kendra. Tanpa banyak kata, ia pun mengambil wudhu bersama Kendra.


Setelah itu keduanya mulai melaksanakan sholat dua rakaat sebelum melakukan hal itu kepada Tania untuk pertama kalinya.


Kendra berbalik dan mengulurkan tangannya pada Tania. Tania menyambut uluran tangan itu. Kendra tersenyum melihatnya.


Ia kemudian berbisik lirih di telinga Tania yang membuat bulu halusnya meremang.


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaaโ€.


Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.


Tania memejamkan kedua matanya saat sapuan hangat nafas Kendra menyapu wajahnya. Kendra tersenyum lebar.


Ia mulai menggiring Tania untuk di ranjang mereka. Tiba disana, Kendra segera membuka mukenah Tania dan meletakkan nya di bawah yang saat ini banyak bertabur bunga mawar merah.

__ADS_1


Tania membuka kedua matanya dan melihat Kendra. Lelaki tampan sedikit berisi itu tersenyum manis padanya yang membuat wajah Tania memerah seketika.


Kendra terkekeh, "Abang menyukai wajahmu yang seperti ini. Kita mulai ya?"


Tania mengangguk dengan kepala menunduk. Ia mengangguk dengan pipi kemerahan. Kendra segera mencapit dagu itu untuk melihat padanya.


Cup!


Reflek saja mata itu tertutup saat merasakan kecupan lembut itu kembali menyerangnya.


Keduanya mabuk dalam alunan cinta yang belum pernah mereka rasakan. Sekali, dua kali hingga berulang kali terdengar suara decapan di dalam kamar itu.


Kendra yang memang mudah terpancing bila di dekat Tania semakin gencar membuat wanitanya itu tidak berdaya dibawah kuasanya.


Tania yang baru pertama kali merasakan hal seperti itu menginginkan nya lagi dan lagi. Pagutan demi pagutan hingga sentuhan lembut mengalir begitu saja.


Kendra menuruti insting lelakinya. Ia memperlakukan Tania dengan sangat lembut hingga membuat wanitanya itu melenguh dan melenguh di sepanjang aktivitas itu.


Hingga tiba di bukit kembar dan juga gurun pasir yang begitu lembut, Kendra melepaskan penyekat yang masih melekat disana.


Ia membuangnya secara asal. Ia kembali mereguk manisnya madu bukit sintal itu yang membuat Tania kembali melenguh dan memanggil namanya.


Sedikit demi sedikit turun hingga bertemu dengan rimba yang dipenuhi semak belukar yang lumayan padat.


Kendra menutup kedua matanya dan mulai bergerak disana yang membuat Tania blingsatan tubuhnya.


Suara alunan merdu kembali terdengar di ruangan pengantin baru kamar hotel batu putih itu.


Ia sibuk mereguknya manis madu di lembah yang masih tekunci rapat itu. Semakin lama semakin membuatnya tersiksa dan ingin dilepaskan.


Hingga lahar madu miliknya itu keluar seketika dengan tubuh sang empu membusung membentuk busur panah.

__ADS_1


...****************...


Kabuurrrr!!! ๐Ÿƒโ€โ™€๏ธ๐Ÿƒโ€โ™€๏ธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2