
Dirasa cukup untuk menertawakan Uwak Lana, kini Kendra akan menjelaskan duduk perkaranya. Hubungannya dan Ziana. Serta pernikahannya dengan Ziana yang sudah selesai sejak tiga tahun yang lalu.
"Wak, aku akan mengatakan sesutu tentang pernikahanku dan El. El menikahi Ziana itu secara sah. Dan ia sudah memiliki bukti yang kuat. Surat nikahnya sudah ada," ucap Kendra yang membuat Uwak lana terkejut bukan main.
"Tapi, bukannya Ziana hingga saat ini masih menjadi istrimu? Lalu, bagaimana ceritanya El bisa sah menikahi Ziana? Sementara Ziana masih terikat denganmu?" tanya Uwak Lana pada Kendra yang kini tersenyum teduh padanya.
"Aku dan Ziana sudah beroisah sejak tiga tahun yang lalu, wak. Uwak ingat pada saat malam itu, kalau aku ingin mengatakan sesutu dan ziana meminta berbicara berdua?" Uwak lana mengangguk.
"Malam itu, aku sudah nmenjatuhakn talak padanya. Ziana menerimanya. Dan malam itu juga kami remi berpisah," ujar Kendra menjelaskan yang semakin membuat Uwak Lana terkejut lagi.
"Sudah berpisah?" Kendra mengangguk mantap. "Tetapi kenapa tidka kamu beritahukan Uwak, Ken! Segitu tidak pentingkah Uwak selama ini? Segitu bencikah kamu dengan janji kakek kamu hingga kamu memilih berbohong? Dan menyimpannya sendiri? Uwak selama ini hidup dalam kebohongan yang sengaja kalian perankan!" tekan Uwak Lana yang membuat Kendra merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafkan aku, Wak. Aku tidak berniat sedikitpun membohongi Uwak waktu itu. Aku ingin menjelaskan. Tetapi Ziana melarang. Katanya, biarkan kami berdua saja yang tahu dengan status pernikahan kami waktu itu. Ziana tidak ingin kalian bersedih dan kecewa lantaran perpisahan kami," ujar Kendra menjelaskan jika ia dan Ziana sudah resmi berpisah sejak tiga tahun yang lalu.
Semua itu karena permintaan Ziana. Jika bukan Karena permintaan Ziana, ia sudah mengatakan yang sebenarnya waktu itu. Tapi lihatlah kini. Ia malah yang menjadi tertuduh karena Uwak Lana merasa dibohongi. Walau sebenarnya memang iyakan?
"Tapi, Nak. Jika demikian, kenapa kamu mengizinkan El untuk menikahi Ziana? Apakah kedatangan El waktu itu kamu tidak tahu? Atau kamu tidak ingin tahu lagi tentang keadaan Ziana?" tuduh Uwak Lana pada Kendra yang kini tersenyum padanya.
"Aku tahu saat itu El datang menemuiku. Dan akupun, melihat jika El mengucapkan ijab atas nama Ziana menggantikan diriku. Ada rasa senang dihatiku saat itu karena Ziana sudah ada yang menjaga. Hanya saja.. Pikiranku saat itu seperti buntu. Yang aku ingin saat itu ialah, bisa melihat Tania dan Ziana. Agar rasa bersalah dihati ini tidak terlalu mendalam. Rasa bersalah ini terus bercokol dalam dihatiku saat kita tiba di Belanda jika Ziana tidak ada ditempat. Kepalaku sakit waktu itu. Tapi aku berusaha menahannya karena mengingat Tania dan kalian semua," lirih Kendra menghela napas berat mengingat perjalanan mereka yang sia-sia saat tiba di Belanda, Ziana sudah tidak ada disana.
El memegang bahu abangnya itu. Kendra tersenyum teduh pada mantan ayah mertuanya itu.
"Aku memang tahu jika El berada di Belanda. Tetapi tempatnya, aku tidak tahu pasti. Karena sebelum Aldo menghilang, ia sempat bilang. Kalau Abi Kevin yang asli berada di Belanda. Di pulau tanpa penduduk waktu itu," ujar Kendra menjelaskan yang sebenarnya.
__ADS_1
El mengangguk. "Benar, Pi. Aku sengaja mengirim sinyal serta kode dariku yang dipahami oleh keluarga Wiryawan saja. Makanya bang Aldo tahu dimana aku saat itu. Namun, saat ia akan mendatangiku, kak Tania malah kecelakaan. Bang Kendra kembali kambuh dan Ziana menghilang," timpal El yang diangguki oleh Aldo dan Kendra.
Uwak Lana menghela napasnya. "Semuanya jadi rumit gara-gara kembaran kamu bang Kevin! Kalau saja kembaran kamu itu tidak menyamar menjadi kamu, pastilah semua ini tidak akan terjadi. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan untuknya? Tidakkah kalian berniat untuk merebut hak kalian yang saat ini dikuasai olehnya?" Uwak Lana menatap satu persatu anggota Wiryawan itu.
Ketiganya memilih diam. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Kami sudah melepaskan perusahaan itu untuknya Wak. Biarkan dia menikmati semua itu. Toh, aku, el dan abi sudah memiliki usaha masing-masing yang saat ini tersebar dimana-mana. Tanpa harta itupun, kami masih bisa hidup." Kendra menatap lekat manik mata hitam yang kini menatap sendu padanya.
El mengangguk. Abi Kevin tersenyum. Mata hitam miliknya mirip pada Kendra dan El itu menatap sendu pada mereka semua.
"Aku ikhlas jika harta itu berada ditangannya. benar yang Kendra katakan. Tanpa harta warisan Abah, kami masih bisa hidup, kok. Walau tidak seberapa, kami tidak bisa menghidupi keluarga kecil kami," ucap Abi Kevin pada mereka semua yang membaut kedua menantunya itu tertegun ditempatnya berdiri saat ini.
__ADS_1