
Zayn dan Zayden merubah raut wajah keduanya dengan tersenyum ramah.
'"Maafkan atas kelancangan kami yang datang tanpa berkabar. Kami hanya ingin bertamu. Ada masalah yang belum kami selesaikan. Bolehkah kami masuk, Tuan?"
Deg.
Deg.
Jantung lelaki itu seakan copot dari tempatnya. Tubuhnya bergetar. Keringat dingin mengucur di dahinya.
"Emm, b-baik! A-ayo, masuk! Ummi!" serunya pada Jia dan Riya yang kini terkesiap melihat Zayn dan Zayden sudah berlalu dari hadapan keduanya. Alish pun demikian. Ia masuk sembari menyuruh supir taksi itu untuk membawa ketiga koper mereka.
Jia dnan Riya berjalan pelan di belakang Alish. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya.
Tiba di dalam rumah, ketiga orang itu terpukau melihat empat orang bocah yang kini sedang melafalkan ayat AlQur'an dengan suara cadelnya. Ada seorang pria yang sama umurnya dengan Zayn dan Zayden sedang mengajarkan keduanya.
Zayn dan Zayden menatap lekat sepasang bocah kembar itu. Alish pun demikian. Laki-laki yang pertama tadi segera mendekati pemuda yang sedang mengajar itu dan berbisik padanya.
Terlihat jelas oleh ketiga orang yang baru datang ini, kalau wajah pemuda itu terkesiap melihat kedatangan mereka bertiga, ia bangun dan meninggalkan ke empat bocah itu.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak tahu. Mari, silahkan masuk!" katanya dengan tubuh bergetar dan juga menunduk.
Zayn dan Zayden sampai heran di buatnya. Ingin mereka bertanya, Akan tetapi, keduanya tidak memiliki hak apapun di sana. Kedatangan keduanya hanya untuk meluruskan masalah, itu saja.
Keduanya tidak akan berharap banyak dari kedua istri, ah, bukan. Apakah mantan istri? Entahlah. Inilah yang keduanya ingin pastikan.
"Ayo, Tuan Zayn dan Zayden! Silahkan duduk!" ucp pemuda pertama sembari melirik Jia dan Riya yang berdiri berdua dan tidak terpisahkan saat ini.
Ke empat bocah itu segera berbalik dan melihat pada dua laki-laki yang sering Ummi mereka ceritakan. Mata ke empat bocah itu berbinar. Akan tetapi, ketika salah satu pemuda itu melihat pada mereka, wajah empat bocah itu menunduk takut. Zayn menaikkan alisnya sebelah melihat itu.
Alish yang begitu merindukan ke empat bocah itu segera menghampiri dan memeluk mereka bersamaan yang membuat bocah itu terkejut bukan main. Ke empat bocah itu malah tenang berada dalam pelukan Alish. Hal yang membuat kedua lelaki itu kesal bukan main pada kedua bocah itu.
Zayden melihat semua gerak gerik dua lelaki yang kini melihat mereka dengan dingin itu.
Alish yang sadar, segera melepaskan pelukannya dari ke empat bocah itu. Alish mengecup kening mereka satu persatu dengan air mata berderai. Setelahnya, ia kembali berdiri di samping Zayn dan Zayden.
Alish menatap lekat kedua kakak iparnya yang mematung itu. "Segitu tidak inginkah Kakak bertemu dengan kami bertiga? Sampai-sampai yang menyuruh kami masuk bukan kalian berdua, melainkan orang lain?"
Deg.
__ADS_1
Deg.
Kedua bersaudara itu terkesiap mendengar ucapan Alish. Keduanya maju dengan perlahan tanpa menoleh.
"S-silahkan duduk!" katanya sedikit tergagap. Riya yang menyuruh mereka.
Sementara Jia, mendatangi ke empat anak itu dan membawanya ke hadapan Zayn dan Zayden untuk bersalaman.
Ke empat bocah itu melihat Zayn dan Zayden dengan mata berkaca-kaca. Tanpa di komando, ke empat anak itu tahu yang mana ayah mereka.
Ke empat anak itu menubruk kaki Zayn dan Zayden. Keduanya menangis bersama yang membuat Zayn dan Zayden menatap terkejut pada Riya dan Jia yang kini menatap keduanya dengan tatapan nanarnya.
Seolah tahu maksud yang Riya dan Jia sampaikan, Zayn dan Zayden berjongkok sembari melepas kedua tangan bocah kecil yang kini membelit kedua kakinya dengan erat.
Keduanya tidak ingin melepaskan kaki mereka dari kaki rajanya.
"Hiks.. Abi Zayn.."
"Hik, hiks.. Abi Zayden.."
__ADS_1
Dduuaaarr!!
Zayn dan Zayden jatuh terduduk di lantai dengan wajah pucat pasi. Kedua bocah itu langsung menubruk abi mereka dan menangis di ceruk leher keduanya dengan kuat.