Princess Pratama

Princess Pratama
Tertawa setelah sekian lama.


__ADS_3

Kendra dan Tania masih saja menangis dengan saling mendekap. Sesak yang mereka rasa kini keduanya tumpahkan dengan saling berpelukan dan menangis bersama.


Tania mengurai pelukannya yang membuat Kendra kembali memeluknya. Tania memegang pipi mulus yang kini berjambang itu.


Ia mendongak.


"Hiks.. Bang Kendra.. Kenapa wajah kamu seperti ini? Hiks.." tanya nya masih terisak dengan tangan halus itu terus mengelus pipi Kendra yang kini semakin lebat bulunya.


Kendra menunduk dan tersenyum padanya. "Kamu tidak takut melihat Abang brewokan seperti ini? Gimana? Keren nggak? Hem?" katanya sambil menggerakkan kedua alisnya yang membuat Tania terkekeh dalam tangisnya.


"Mana ada Abang keren? Yang ada tuh ya, anak kita takut lihat Abang kalau bertemu nanti!" Tania tertawa setelah mengatakan hal itu.


Sementara Kendra menatap lekat pada wajah Tania yang sama seperti ia lihat di dalam mimpinya itu.


"Mana anak kita? Kenapa tidak kamu bawa kesini untuk bertemu Abi nya? Kamu sengaja menyembunyikannya, Tania?!"


Deg!


Deg!


Tania yang masih tertawa kini mendadak berhenti saat mendengar ucapan Kendra. Ia menoleh ke belakang dan mengangguk pada empat paruh baya itu.

__ADS_1


Ke empatnya pun setuju. Mereka segera berlalu meninggalkan ruangan Kendra setelah menutup pintunya dnegan rapat. Tapi sebelum itu, mami Annisa meletakkan dua paper bag di diujung sofa ruangan Kendra.


Setelahnya ia segera berlalu dengan bibir menyunggingkan senyum padanya. Senyum ketulusan yang terlihat oleh Kendra.


Cetak!


Pintu terkunci dari luar. Kendra kembali menoleh pada Tania. Tania pun menatapnya dengan tatapan lembut dan teduhnya. Walau matanya sedikit bengkak, tetapi tidak mengurangi kecantikannya yang semakin membuat Kendra jatuh cinta padanya untuk kedua kalinya.


"Kita bangun dulu. Duduk diranjang yuk!" ajaknya pada Kendra yang diangguki olehnya.


Entah kekuatan apa dan darimana, Kendra bisa berdiri tegak dan duduk kembali di bangkarnya. Padahal selama ini, kakinya itu lemas dna tak bertenaga. Tania duduk dipangkuan Kendra yang disambutnya dengan senang hati oleh Kendra.


Tania menatap lekat bola mata Kendra yang kini mengembun kembali. Buliran bening itu kembali meluncur di pipinya yang kini ditumbuhi jambang dan jenggot yang lumayan panjang itu.


Ia memegang kedua pipi itu dan mengelusnya. "Kenapa Abang tidak bisa jaga diri saat jauh dariku? Kenapa sampai masuk rumah sakit lagi? Kenapa sampai harus dirawat sampai dua tahun lebih? Kenapa Abang tidak bisa bertahan? Hem?" tanya Tania dengan bibir bergetar dan suaranya pun ikut bergetar.


Buliran bening itu semakin mengucur deras di wajah Kendra. Tania mengusapnya. Ia pun ikut menangis.


"Karena Abang begitu merindukanmu. Setiap hari, detik, menit dan jam. Abang selalu merindukanmu. Hanya kamu. Bukan yang lain Hunny.." lirih Kendra dengan suara bergetar juga.


Tania tersenyum dengan air mata bercucuran. "Aku tahu. Aku pun demikian. Tiada hari tanpa memikirkanmu. Apalagi saat mengandung si kembar. Aku sangat ingin mencium bau tubuhmu. Aku sangat ingin memakai baju mu. Aku ingin tidur selalu dalam pelukanmu. Karena hanya kamu yang aku mau. Sampai-samapi saat aku sadar dari koma pun, kamu yang aku cari. Bukan yang lain.." lirih Tania juga yang segera dipeluk erat oleh Kendra.

__ADS_1


Kepalanya kini menghadap pada da da Tania. Ia tersedu disana. Hingga hijab hitam pemberiannya dulu itu basah dengan air matanya.


"Tapi kenapa kamu tidak kembali Hunny? Jika saat kecelakaan itu kamu masih hidup dan koma, kenapa kamu tidak pulang ke Medan untuk menemui Abang? Apakah segitu benci dan sakitnya kamu sampai kamu tidak ingin bertemu lagi dengan Abang?"


Tania menggeleng, "Nggak.. Bukan itu masalahnya. Nanti saja kita bahas masalah itu. Yang jelas, baru satu tahun ini aku tahu kalau Abang itu sakit dan dirawat lagi dirumah sakit. Aku tidak bisa pulang karena melanjutkan studiku setelah melahirkan si kembar.


Umur si kembar baru satu bulan setengah saat aku kembali melanjutkan studiku. Kamu tahu kenapa aku ingin melanjutkan studiku kembali?" tanya Tania yang dijawab gelengan oleh Kendra yang kini masih menatapnya.


"Kenapa?" tanya Kendra.


Tania memegang pipi yang dipenuhi jambang tebal itu. Ia mengelusnya. "Karena saat aku koma, aku melihatmu berada dirumah sakit ini. Diruangan ini. Kamu kembali sakit dan menggila seperti saat pertama kali bertemu. Kamu tertekan karena kami berdua yang menghilang tanpa kabar berita. Belum lagi kamu tidak mempercayai jika aku sudah tiada.." lirih Tania dengan dada yang semakin tumpah ruah ingin mengeluarkan sesaknya.


Kendra mengangguk setuju. "Abang tidak percaya jika kamu sudah tiada. Karena Abang pun melihat, jika kamu sedang mengandung anak kita. Bukan Ziana, seperti dugaanmu!" Tania terkekeh mengingat itu. "Abang bisa melihatmu saat mengandung, tetapi tidak bisa menyentuhmu. Itulah yang Abang coba katakan pada mereka semua. Tetapi mereka tidak mengerti. Mereka menuduhku berhalusinasi karena kehilanganmu. Dan juga.. Ziana.." lirih Kendra kembali merasa bersalah pada istri keduanya itu.


Tania menegelus lembut punggung kurus Kendra. "Bukan salahmu. Itu sudah menjadi takdir kita bersama. Untuk Ziana, kita pikirkan nanti. Sekarang? Kita bersihkan dulu tubuhmu. Ya? Aku udah bawa semua perlengkapannya!" tunjuk Tania pada paper bag yang tadi mami Annisa letakkan di ujung sofa di samping pintu ruangan itu.


Kendra menggeleng. "Abang nggak mau. Biarkan seperti ini. Abang masih merindukanmu, Hunny.."


Tania yang paham pun mengangguk. "Tentu suamiku. Kita berbaring aja ya? Kasihan tubuhmu. Aku gemuk loh.." kata Tania dengan mata mengerling nakal yang membuat Kendra terawa.


"Nggak, kamu nggak gemuk kok. Cuma sedikit chubby aja! Mantap saat dipeluk! Apalagi kalau di uyel-uyel?" balasnya dengan mata mengerling nakal juga yang membuat Tania menepuk dadanya yang kini tersipu malu padanya.

__ADS_1


Kendra tertawa begitu kerasnya karena berhasil menggoda Tania. Tertawa setelah sekian lama setelah dirinya mengalami gangguan jiwa.


__ADS_2