
Enam belas tahun kemudian.
"Zayn! Zayden!!!"
Dua saudara kembar yang sama persis itu mematung dan membeku di tempat kala mendengar suara sang Queen of Kendra Wiryawan itu melengking tinggi di dalam rumah yang baru mereka tempati selama lima belas tahun terakhir ini.
Di komplek dan gang yang sama dengan mami Annisa dan papi Tama, mereka tinggal di sana sesuai dengan permintaan Oma Annisa yang tidak boleh pergi jauh darinya.
Entah apa maksud dan tujuan wanita paruh baya itu, mami Tania pun tidak tahu. Yang jelas, mereka tetap harus bersama di komplek perumahan yang sama dengan sang mami.
Tania sebenarnya tidak mau. Ia lebih memilih ikut Kendra yangakan pulang ke Kalimantan. Tetapi, Abi Kendra sangat memahami isi hati mami Annisa yang tidak ingin berjauhan dari cucunya.
Cucu sulung keluarga King Pratama.
Dengan napas memburu, mami Tania turun dari tangga dan menuju dua bocah kembar yang kini ketakutan saat mendengar derap langkah kaki yang begitu cepat menuju tempat mereka berdiri saat ini.
Wajah keduanya memucat seketika. Keduanya saling pandang saat mendengar deru napas yang memburu dari sang mami saat ini berada di belakang mereka berdua.
Bulu kuduk keduanya meremang. Keduanya menelan saliva dengan sulit.
"Berbalik!" titah Tania dengan suara lembut tetapi, begitu mengerikan bagi dua bocah kembar yang kini sedang ketakuatn itu.
__ADS_1
"Ma-ma-mi...," tergagap keduanya saat menyebut kata itu pada mami Tania yang kini menatap keduanya dengan berang.
Dari luar seorang pemuda tampan yang mirip si kembar pun masuk ke dalam rumah. Di ikuti ketiga adik kembarnya. Dzaka, Dzaki, dan Alishba.
Gadis cantik mirip mami Annisa itu menatap kedua Abangnya dengan wajah datarnya.
"Assalamu'alaiku, Hunny." ucap abi Kendra yang dijawab pelan oleh mami Tania.
Ke empat orang itu berdiri di hadapan Abi Kendra yang kini menatap kedua putranya yang menunduk dan tidak berani melihat padanya dan ketiga adiknya itu.
"Berbalik!! Apa kalian tuli?! Huh?!"
Kedua bocah kembar itu tersentak mendengar sentakan mami Tania pada mereka. Seumur hidup keduanya, baru kali ini mereka di sentak begitu kuatnya.
"Hunny," tegur Abi Kendra sembari mendekati mami Tania dan mengelus lembut punggungnya.
Napasnya masih memburu melihat pada bocah kembar penurut bin nakal itu.
"Hunny," panggil Abi Kendra lagi padanya yang tidak di gubris sama sekali. Mami Tania menatap tajam pada Abi Kendra yang kini tersenyum lembut padanya.
"Hentikan senyum Abang yang menjengkalkan itu! Aku sedang marah karena kedua bocah penurut bin bandal ini selalu saja suka buat masalah!" tukasnya masih berang pada Abi Kendra yang kini mengangguk setuju padanya.
__ADS_1
"Iya, abang tahu. Duduk dulu, yuk! Kita bicarakan ini baik-baik! Ya?" bujuknya lagi pada mami Tania yang kini mendengkus keras padanya saking kesalnya.
Ia berbalik dan ingin beranjak dari sana. Tetapi, belum lagi tubuh itu berbalik, kedua tangan lembutnya sudah menggeplak kepala dua bocah kembarnya itu hingga memba bi buta.
"Hunny! Hentikan! Kamu menyakiti mereka!" seru Abi Raga melerai ketiganya yang saat ini sednag bergumul itu.
Ketiga anak kembarnya yang lain hanya bisa terkejut plus melongo melihat sifat sang mami yang begitu bar bar itu.Mami yang mereka kenal begitu lembut dalam bertutur kata ternyata seperti singa betina jika sedang mengamuk.
Plak!
Plak!
Plak!
"Anak sialan! Mami melahirkan kalian bukan untuk membuat nista! Inikah tujuan kalian meminta kuliah jurusan hukum?! Huh? Karenakau ingin melecehkan anak gadis orang, begitu?!" pekiknya pada Zayn dan Zayden yang kini saling berpelukan dan menahan tangan mami mereka di kedua kepala yang setiap tahunnya selalu di fitrahkan oleh sang abi.
"Hunny! Sudah!" suara tegas itu menghentikan tangan mami Tania yang ingin menggeplak kepala si kembar yang kini sudah meneteskan air matanya saking sakitnya pukulan sang mami di kepala mereka berdua.
Mami Tania yang mendengar suara tegas suaminya segera melengos dan duduk di sofa ruang tamu rumah mereka. Ia bersidekap dada dengan wajah datar dan dinginnya.
Abi Kendra menghela napasnya. "Ayo, duduk dulu. Jelaskan semua apa yang sebenarnya, terjadi. Jangan ada yang di tutupi. Semua penjelasan kalian merupakan keputusan kami berdua!" tegas Abi Kendra menuntun kedua bocah kembarnya itu untuk duduk di hadapan sang mami yang saat ini sedang kesal kepada mereka berdua.
__ADS_1