
Kendra menghela nafas pasrah. "Iya Wak. Malam ini akan aku pikirkan apa dan bagaimana nanti. Ayo kita pulang dulu Wak. Biar aku bisa bersiap untuk keberangkatan ku besok pagi. Jam berapa Wak berangkatnya?" tanya Kendra masih melihat kaca spion mobil Uwak Lana.
"Jan sembilan pagi. Sama seperti keberangkatan Tania malam ini ke Aceh. Mungkin saat ini mereka sudah tiba disana. Kita pun hamir tiba dirumah kok. Sudah jam sebelas kurang sepuluh. Itu berarti mereka sudah mendarat saat ini. Palingan lagi naik travel menuju kerumah Nenek." Jawabnya yang diangguki oleh Kendra.
Sementara Tania, mami Annisa dan papi Tama sudah berada di rumah sang Nenek yang kini sudah dibersihkan karena mami Annisa mengabari kedatangan mereka bertiga.
"Kok malam sih Nak?" tanya kakek Abang dari almarhum kakek Yoga.
"Iya wak. Malam ini Tania yang ingin kesini. Mau liburan katanya." Jawab mami Annisa sembari menyambut uluran tangan lelaki paruh baya itu.
Ketiganya bersalaman. Setelahnya masuk kerumah peninggalan kedua kakek dan nenek mami Annnisa itu, mereka segera istirahat.
Kamar utama dirumah itu masih sama seperti dulu. Tetapi Mami Annisa tidak ingin kesana. Ia lebih memilih kamar tempat biasa dimana mereka dulunya sering menginap bersama kedua saudara perempuannya.
Yaitu Uwak Ira dan juga mami Kinara. Kamar utama ditujukan bagi mereka yang akan menetap disana nantinya.
Menurut rencana mami Annisa dan Papi tama, Alzana lah yang akan ia kirim untuk mengurus rumah kedua kakek dan nenek nya itu.
Untuk saat ini Alzana masih kecil. Tetapi ketika ia sudah dewsa dan menikah dengan Prince nanti, maka mereka berdua akan di ungsikan kerumah tua itu.
Mami Annisa terkekeh kala melihat wajah datar papi Tama padanya.
"Ayolah Yang! Kebelet ini! Gimana sih? Masa iya udah mancing tapi nggak mau dikasih! Nggak asih ah!" keluhnya sambil bangkit menuju pintu dan ingin keluar.
"Baiklah Bang Tama tuaku.. Ayo! Kita mulai mencetak generasi baru lagi setelah Aggam!"
Papi Tama melotot. "Nggak boleh! Cukup Aggam yang terakhir! Tak ada bantahan!" tegasnya yang disambut gelak tawa oleh mami Annisa.
Keduanya pun larut dalam ha srat yang belum tua walau umur yang sudah tua itu.
__ADS_1
Sementara Tania sedang berbaring di ranjangnya sambil memegangi ponsel miliknya. Ia melihat status Kendra yang saat ini sedang berkemas.
Tania menghela nafasnya.
"Terserah apa mau mu lah Bang Ken! Pusing aku tuh!" gerutunya sambil menarik selimut dan meletakkan ponsel di nakas lalu terpejam.
Pikiran yang tidak enak, hati yang sakit ditambah tubuhnya yang begitu lelah membuat dirinya cepat sekali terlelap.
Begitu pun dengan Kendra. Setelah memikirkan apa dan bagaimana untuk ke esokan harinya, ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya demi menjaga kebugaran untuk besok pagi.
Butuh waktu dua jam untuk sampai dirumah Nenek buyut Tania. Itu pun menggunkan pesawat terbang. Tetapi jika dengan mobil atau bus, bisa sampai satu malam setengah hari.
( Kampung othor gini nih di Aceh. Jam 8 malam berangkat, jam 3 sore baru masuk kesana.)
Keduanya pun terlelap untuk menunggu hari esok yang entahkah baik atau pun tidak. Tergantung mereka yang menjalaninya.
Ke esokan harinya.
Dua keturunan Uwak Lana itu sangat ingin mudik kesana. Jadilah mereka pun ikut juga lantaran libur sekolah. Jika tidak, pastilah Uwak Lana tidak mengizinkannya.
Sepanjang jalan Ziana dan Malik terus berceloteh hingga membuat Kendra berpikir ulang tentang rencananya.
Menurut papi Tama, keduanya akan pulang hari ini setelah mengantar Tania. Tapi ini? Malah kedua bocah itu yang ikut bersamanya.
Pastilah Tania tidak menginginkan hal itu nantinya. Tahu saja Tania siapa yang akan datang, ia pasti lebih memilih kabur dari rumah Nenek buyutnya.
Rencana nya Kendra tidak ingin menculik Tania. Karena ia pikir jika ia akan sendiri kesana dan dirumah itu hanya mereka berdua saja.
Maka Kendra bebas berbuat apapun dirumah itu. Lah ini?
__ADS_1
Bocah cunguk!
Batin Kendra sangat kesal melihat kedua sepupunya itu. Uwak Lana terkekeh melihat wajah Kendra mendadak masam.
Uwak tahu apa yang kamu pikirkan Ken. Maka dari itu Uwak sengaja mengirim dua perusuh ku ini bersama kamu. Untuk apa? Agar kamu bisa melakukan rencana yang sudah Uwak susun. Kamu tetap harus menculik Tania, Ken!
Kamu harus melakukan itu. Orang-orang Uwak sudah bergerak saat ini disana. Tunggu saja!
Batin Uwak Lana lagi dan lagi terkekeh melihat wajah datar Kendra.
Mereka tiba di bandara saat pengumuman akan pesawat menuju ke Aceh akan berangkat.
Ketiganya langsung saja chek uot setelah berpamitan dengan uwak Lana yang masih terkekeh melihat Kendra menggiring dua perusuhnya itu.
Tak lama setelahnya, pesawat menuju ke Aceh pun lepas landas menuju ke tanah Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien itu.
Tanah kelahiran Oma Alisa yang kini telah tiada. Tempat dimana kenangan termanis yang pernah mereka ukir dulunya dirumah itu bersama dengan kelima anaknya.
Uwak Lana menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes kala mengingat Oma Alisa dan Opa Gilang. Dua orang yang begitu menyayangi nya tanpa kata lelah hingga keduanya tutup usia dalam kecelakaan satu setengah tahun yang lalu.
Ia tersenyum dan segera berlalu.
Kendra melihat ke bawah, dimana Uwak Lana berlalu pergi meninggalkan Bandara.
Aku akan memenuhi keinginan Uwak. Aku akan menculik Tania saat sampai disana. Aku tidak akan mengecewakan uwak.
Tania.. Abang datang menyusulmu! Tunggu Abang Hunny!
Batin Kendra tersenyum jahat.
__ADS_1
...****************...
Beneran di culik nih?