Princess Pratama

Princess Pratama
Hampir saja!


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Pagi ini, Tania merasakn tubuhnya kurang enak. Ia merasa seperti meriang dna sangat lemas. Ia hanya ingin tidur. Tetapi, ia hanya ingin tidur bersama Kendra.


Aneh menurut Tania. Tapi, itulah yang terjadi padanya. Ia ingin tidur tetapi mencium bau tubuh Kendra. Sama seperti ia hamil si kembar dulunya.


Deg, deg, deg..


Tania tertegun mengingat sesuatu. "Bulan berapa ini? Udah satu bulan lebih sejak terakhir kali aku dapat? Itu pun tiga hari sebelum aku bertemu bang Kendra? Apa jangan-jangan..." Tania menduga apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


Gejala yang sama ia rasakan kembali. Ia sangat mengantuk jika dipagi hari. Matanya sangat berat terbuka. Seperti ada lem yang lengket disana. Belum lagi, ia sangat ingin menghirup bau tubuh Kendra akhir-akhir ini.


Kendra tidak menolak ketika Tania berubah menjadi aneh seperti itu. Karena yang Kendra tahu, jika Tania memanglah sangat menyukai harum tubuhnya.


Tania menutup mulutnya kala melihat tanggal yang tertera di ponsel miliknya.


"Benar! Aku telat!!" seru Tania kegirangan.


Ia hampir saja melompat jika tidak mengingat kondisinya nanti. Ia jadi senyum-senyum sendiri mengingat dirinya yang kini kembali seperti saat isi si kembar dulunya.

__ADS_1


"Maaf, Bang kendra. Kali ini, aku tidak bisa menuruti kemauanmu untuk menunda kehamilan. Aku ingin memberikan surprise untukmu pada saat acara anniversarry kita dan juga ulang tahun kamu dua bulan lagi. Aku akan membuat kejutan untukmu. Tetapi sebelum itu, aku akan menyusul adikku dulu. Aku ingin membawannya kembali. Apapun keadaannya, aku akan menerimanya. Kenapa Uwak tidak ingin melihat dan ketemu kami, ya? Apakah ia masih marah padaku? Ataukah mereka tidak tahu akan keberadaanku?" gumam Tania semabri memijat pelipisnya yang terasa berdenyut karena terlalu lama memegang ponselnya.


Matanya yang masih mengantuk dan kepala yang pusing membuatnya ingin seegra neranjak dari tempatnya duduk. Akan tetapi, saat ia berdiri tubuhnya malah oleh dan jatuh ke sofa.


Beruntungnya Kendra cepat menangkap tubuh chubby Tania.


"Hunny!" serunya pada Tania yang kini sudah terpejam erat dipelukannya.


Kendra panik. Sementara, dirumah itu tidak ada siapapun. Ia merebahkan Tania di sofa dan mengambil ponselnya untuk menghubungi mami Annisa.


Setelah berbicara sejenak dengan mami Annisa, ia segera menghubungi kakak sepupunya, Zee. Dokter spesialis kandungan dirumah sakit Umminya sendiri.


"Mana? Tania mana Ken!" seru mami Annisa terdengar begitu panik disusul Zee dibelakangnya.


"Tania di sofa mami. Ayo, Kak! Periksa dulu istriku!" Katanya pada Zee yang mengangguk padanya dengan raut wajah khawatir.


Zee sudah paham kenapa Kendra menghubunginya. Tetapi, ia ingin bertanya nanti saja. Ia ingin dengar dari mulut Tania sendiri tentang kabar ini.


Zee segera memeriksa Tania. Zee tersenyum dibalik niqobnya. Ia melihat Kendra yang begitu khawatir padanya. Zee ingin berbicara pada Kendra.

__ADS_1


Tetapi cekalan tangan Tania menghentikan langkahnya. Tania menggeleng dengan mata terpejam. Zee yang paham segera mengangguk kecil sembari membereskan alatnya.


"Bagaimana Kak? Ada apa dengan Tania? Sakitnya parahkah? Perlu dibawa ke rumah sakit untuk dirawat?" tanya Kendra pada Zee yang dijawab dengan kekehan kecil dan gelengan kepalanya melihat Tania yang kini terpejam lagi setelah tadi ia membuka matanya sebentar untuk memberi isyarat pada Zee agar diam saja tidak memberitahukan keadaanya pada Kendra saat ini.


"Tania nggak apa-apa, kok. Ia hanya kelelahan saja. Ia harus banyak istirahat. Jika pusing, biarkan ia berbaring seperti ini. Ini resep obatnya, mami. Kamu temani Tania saja, Ken!" Jawabnya yang diangguki oleh kendra.


"Ayo, mi. Tebus dulu obat Tania dirumah sakit. Kakak nggak bawa obatnya karena terburu-buru saat Kendra menelpon tadi," katanya pada mami Annisa yang mengerti kode darinya.


"Ya sudah, mami tebus obatnya dulu, ya? Kamu jaga Tania, Ken! Sekalian mami akan bawa pulang si kembar!" Ucap mami Annisa yang diangguki oleh Kendra.


Keduanya pun berlalu. Meninggalkan Tania dan Kendra yang kini begitu khawatir pada Tania. Tania menghela napas lega saat Zee mengerti akan kode darinya.


Kendra duduk disamping Tania dan mengusap lembut kepala Tania serta pipi Tania yang terlihat semakin chubby.


Kendra terkekeh mengingat Tania yang begitu lahap makan jika ia lapar pada tengah malam. Sudah dua minggu ini Tania seperti itu.


"Jika kamu sering makan malam setiap malam. Abang yakin. Tubuh kamu semakin chubby dan montok! Dan ya. Itu menjadi suatu anugerah untuk abang. Karena tubuh kamu yang sintal sangat enak saat dipeluk!" celetuk Kendra yang membuat Tania menyunggingkan senyum senang dengan pujian Kendra.


Hufftt.. Alhamdulillah.. Hampir saja!

__ADS_1


Batin Tania bersyukur karena rahasianya aman untuk saat ini. Untuk kedepannya, lain lagi. Yang terpenting sekarang.


__ADS_2