
Zayn dan Zayden kompak menggeleng. "Nggak, kamu nggak bisa seperti ini sama Abang. Bukankah sudah jelas jika kami sedang di jebak? Kami tidak melakukan hal itu, Sayang! Demi Allah!"
Dduuaar!
Semua orang tersentak dengan suara gemuruh yang tiba-tiba ada di atas atap rumah Nenek Ira. Oma Annisa menghela napasnya.
"Jika sudah berjanji atas nama Allah, itulah yang terjadi. Kita tunggu saja mereka seperti apa keputusan mereka. Mami harap, keduanya tidak salah dalam membuat keputusan yang merugikan kedua belah pihak." Ujar Oma Annisa pada mami Tania yang mengangguk setuju dengan ucapan maminya itu.
Semua orang menunggu dengan harap-harap cemas. Sementara di dalam kamar, kedua pasangan itu sedang berdebat saat ini.
"Ayolah, Sayang. Jangan begini. Abang tahu, abang salah. Abang mohon, jangan tinggalkan abang, Sayang. Abang bisa gila jika kamu pergi," lirih Zayn menatap lekat pada istrinya.
"Nggak! Sekali enggak tetap enggak! Abang udah begitu melukai perasaanku! Abang udah membohongiku! Abang juga melanggar apa yang aku katakan! Dan sekarang? Abang ingin kembali padaku di saat Abang mendapatkan masalah? Apa yang terjadi selanjutnya jika kami terlambat tahu? Abang akan menikahi gadis itu dan menjadikan mereka istri keduamu, begitu? Kamu ingin menjadikannya simpanan? Huh?"
__ADS_1
Dduuaarr!
Lagi, suara gemuruh itu kembali menghantam rumah mereka. Semua orang semakin ketakutan saat ini. Seolah gemuruh itu merupakan luapan emosi kedua istri yang saat ini sedang terluka akibat ulah suaminya itu.
Zayn menunduk saat mendengar ucapan Jia. Benar, jika istri mereka tidak melihat keadaan kemarin, pastilah keduanya sudah menikahi gadis itu secara sembunyi-sembunyi. Dan terjadilah peperangan yang lebih besar dari ini. Ketahuan dari sekarang, itu lebih baik bukan?
"Sayang, abang mohon, jangan pergi. Sampai hati kamu ingin meninggalkan abang? Mana janjimu yang dulu mengatakan jika kamu setia padaku? Apa itu cuma bohong belaka?" ucap Zayn masih memohon pada Jia yang kini tertawa hambar mendengar ucapan sang suami padanya.
"Maaf, Bang. Seiring waktu dan juga perbuatan saat di Amerika kemarin, meruntuhkan sisi setiaku padamu. Aku meralat ucapanku itu. Lebih baik berpisah denganmu daripada harus setia pada suami yang suka berbohong dan juga suka menipu! Maaf, keputusanku sudah bulat! Kamu harus melepasku mau tidak mau. Aku tak peduli! Jika kamu ingin menikah dengannya, maka silahkan nikahi. Toh, ada atau tanpa kehadiranku kamu juga akan menikah dengan gadis pilihanmu itu kan? Lagipula, rasa ini sudah melebur saat melihat cintaku malah mengumumkan status wanita lain menjadi tunanganmu. Sementara aku, istrimu? Kamu abaikan selama ini demi wanita sialan itu! Kamu jahat! Aku benci kamu Zayn! Aku- hhmmppttt.." ucapan Jia terputus saat Zayn mengecup putik ranum itu tanpa permisi. Riya tersenyum tipis saat mendengar ucapan adiknya yang mengomeli abang sepupunya itu.
Tes.
Tes.
__ADS_1
Buliran bening itu mengalir di pipi Zayden yang kini merasakan kelembutan dan kehangatan yang istrinya berikan untuknya. Riya terus melakukan apa yang Zayn lakukan pada Jia saat ini. Di rasa cukup, Riya melepaskannya yang membuat Zayden kecewa.
Tetapi, ia senang melihat perbuatan istrinya itu padanya. Zayden bukan tak tahu seperti apa jiwa Riya. Karena ia tahu makanya ia lebih memilih menatap Riya saja tanpa memohon seperti yang abangnya lakukan saat ini.
"Tak perlu memohon padaku Bang Zayden. Kamu berhak dengan kehidupanmu. Kamu berhak memilih apa yang terbaik untuk hidupmu. Dan, ya, kamu dapatkan dari gadis itu. Gadis yang akan kamu nikahi sebentar lagi. Aku ucapkan selamat. Selamat menempuh hidup baru. Kamu tidak perlu menangis. Hubungan kita memang cukup sampai di sini. Tak ada gunanya mempertahankan pernikahan yang sudah tidak lagi layak ini. Aku, Famiriya Prince Arryan melepasmu untuk gadis pilihanmu. Aku ikhlas. Akan tetapi, maaf. Aku tidak bisa berbagi kamu dengannya. Aku lebih baik mundur daripada menahan rasa sakit yang tiada tara menggores relung batinku."
"Kamu sangat tahu seperti apa sifatku. Aku tidak perlu mengomel atau apapun Bang Zayden. Aku rela dan ikhlas untuk melepasmu dengannya. Tak apa jika kita berpisah. Toh, aku masih suci hingga saat ini bukan? Jadi, tak ada yang perlu di sesali saat ini. Pergilah. Pulang ke tempatmu. Anggap saja hubungan ini tidak pernah terjadi. Walau kita berpisah, kami tetap menjadi adikmu. Jika di tanya tentang cinta? Ya, aku sangat, sangat mencintaimu. Akan tetapi, ada kata lain untuk orang yang kita cintai jika tidak bisa bersama. Aku rela dan ikhlas melepasmu. Walau aku mencintaimu, aku tetap bahagia melepasmu bersamanya agar kau bahagia. Pergilah, aku melepasmu Bang Zayden untuk tidak menjadi suamiku lagi di mulai dari saat ini juga!"
Dduuaarr!
Dduuaarr!
Zayden membeku saat ucapan itu akhirnya lepas juga dari bibir mungil istrinya. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Sementara Riya, ia sudah keluar dan menuju kedua orangtuanya. Begitupun dengan Jia. Ia sudah turun lebih dulu dan meninggalkan suami mereka di dalam kamar sana.
__ADS_1
Kedua pangeran Mami Tania itu tidak bisa bernapas. Dada keduanya begitu sesak hingga sulit untuk menghirup udara. Zayn dan Zayden jatuh terkapar di ranjang itu dengan mata menatap nanar pada langit-langit ruangan kamar istri mereka.