Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Introspeksi diri


__ADS_3

Setelah Nenek Ira mengatakan permasalan di masa lalu berimbas ke masa depan, kini keluarga itu sudah kembali tenang. Tak ada lagi tangisan pilu seperti seminggu yang lalu terjadi di kediaman Nenek Ira dan Kakek Ragata.


Sudah sepekan berlalu saat hari buruk itu terjadi. Si kembar sulung sudah bisa berbicara. Hanya saja, keduanya banyak melamun dan tidak seceria dulu-dulu sebelum kejadian itu terjadi.


Besok adalah hari pernikahan keduanya dengan gadis yang konon kata mereka keduanya tiduri dalam keadaan tidak sadar. Jika di pikir-pikir, apakah bisa orang terlelap atau pingsan bisa meniduri gadis di sampingnya?


Kalau iya, bagaimana caranya? Ada yang tahu? Bagaimana orang pingsan bisa menggagahi wanita di sampingnya? Hal ini yang membuat Zayn dan Zayden termenung memikirkannya. Belum lagi dengan perpisahannya dengan istri mereka yang kini sudah kembali ke Aceh untuk melanjutkan hidup.


Saat itu di kamar Zayn.


"Sayang, jangan pergi. Kamu tega ninggalin abang? Apakah sudah tidak cinta lagi? Abang bersumpah atas nama Allah, bahwa abang tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan. Jika iya, harusnya 'kan ada bekasnya? Abang hanya pernah melakukannya denganmu, Sayang. Sungguh! Kamu tahu sendiri kan? Bukankah kamu sudah merasakannya saat dulu? Bekas itu pastilah ada di tubuh abang dan juga tubuh gadis itu. Sedang ini? Tak ada Sayang!" ucap Zayn menjelaskan yang sejujurnya pada Jia yang kini menatap lekat padanya.


"Dari mana Abang tahu kalau tubuh gadis itu tidak memiliki bekasnya? Apakah Abang melihat tubuh polos gadis itu? Makanya Abang tahu tak ada bekasnya?"

__ADS_1


Deg


Deg


Zayn menggeleng cepat. "Nggak! Abang tak melihat tubuh polosnya. Abang terkejut saat pintu di dobrak dari luar. Abang yang terkejut langsung berlari menarik selimut dan mengambil baju abang dengan berlari masuk ke kamar mandi. abang tak tahu keadaan gadis yang abang tinggal tanpa selimut itu. Tetapi abang sempat mendengar jika tubuhnya itu tidak memiliki bekas apapun seperti yang pernah Abang buat di tubuhmu. Abang dengar, kalau tubuh gadis itu bersih dari tanda kismark dari abang. Awalnya abang bingung. Tapi setelah abang telaah, barulah Abang tahu. Abang pun tidak memiliki bekasnya? Lah, wong pisang Abang kering kayak biasanya? Kalau iya, pastilah pisang ambon punya abang berjekat atau gatal-gatal bukan?" ujar Zayn lagi dan lagi berusaha menjelaskan apa yang terjadi padanya saat itu.


Jia diam. Ia tidak ingin menanggapi apapun. Karena keputusan awal tetap di tangannya saat ini. Apapun penjelasan Zayn, ia terima. Tetapi tidak dengan kembali lagi pada suaminya itu.


Jia tersenyum melihat wajah sendu suaminya. "Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, suamiku. Akan tetapi, kepergianku ini untuk membuat diriku layak dan pantas bersanding di sisimu. Aku ingin menjadi wanita dewasa yang tidak mengambil keputusan secara tiba-tiba. Aku ingin mandiri sebelum melanjutkan rumah tangga ini. Mari kita introspeksi diri masing-masing. Ini lebih baik daripada kita bertahan tetapi, akan saling melukai. Aku sadar, aku masihlah kecil saat menikah denganmu. Dengan kejadian ini, membuatku sadar. Bahwa kita butuh waktu untuk mendidik diri menjadi lebih dewasa lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap menjadi istrimu tergantung dengan keinginanmu. Jika kamu masih menginginkanku, maka berubahlah. Buktikan jika kamu pantas menjadi suamiku. Bukan berarti kamu tidak pantas."


"Tidak. Bukan itu maksudku. Hanya saja, kita lebih baik berpisah dulu demi memantaskan diri. Sekiranya kamu sudah siap untuk membangun rumah tangga lagi setelah itu, maka jemputlah kami. Jemput kami di saat kamu sudah bisa menjadi imam yang sudah dewasa dan memutuskan segala sesuatunya dengan kepala dingin. Mari kita bersama memantaskan diri, hem?"ujar Jia membujuk Zayn dengan ucapan dan perkataan bijaknya yang membuat Zayn memeluk Jia dengan eratnya.


Puas dengan memeluk Jia, Zayn mengecup kening, kedua mata, pipi Jia dan terakhir, putik ranum yang tadi ia kecup sebelum keduanya tidak sadarkan diri. Jia tidak menolaknya. Ia malah menerima setiap sentuhan Zayn di tubuhnya.

__ADS_1


Ini akan menjadi kenangan terakhirnya sebelum berpisah dengan suaminya. Keduanya larut dalam gelora syahdu yang begitu menggebu. Dirasa cukup, Zayn melepaskannya.


Ia menatap lekat wajah Jia yang semakin cantik terlihat. "Baik, abang akan memenuhi keinginanmu. Mari, kita bersama menjadi lebih baik lagi. Tak apa jika berpisah. Toh, hanya sementara bukan? Di saat abang siap dan kamu selesai dengan kuliahmu, maka abang akan menjemputmu. Boleh abang tahu kamu akan melanjutkan kuliah kemana?" tanya Zayn pada Jia yang kini sudah beranjak duduk.


"Nanti Abang akan tahu. Datanglah saat wisuda kami. Abi dan Ummi akan mengatakan di mana tempatnya. Kamu yang akan menjadi waliku nantinya," jawab Jia yang diangguki pasrah oleh Zayn.


"Baik, jika itu yang menjadi keputusanmu. Mengenai pernikahan abang dengan gadis itu, jangan pikirkan. Abang dan Abi sudah memiliki solusinya. Abang harap, ucapan kamu tadi bukan hanya sebagai penyemangat untuk abang yang sengaja kamu tinggal sebelum kamu pergi!" ucap Zayn yang diangguki oleh Jia.


"Abang bisa pegang kata-kataku. Aku tidak akan ingkar! Janji seorang wanita muslim itu adalah ucapannya. Dan ucapan itu merupakan janjiku padamu. Sudah, jangan bersedih lagi. Mari kita berdamai. Kami harus pulang hari ini juga. Aku harap, Abang bisa maklum dengan keputusan ini," balas Jia yang diangguki oleh Zayn.


Tanpa berkata apapun, keduanya saling berpelukan lagi. Pelukan terakhir yang akan selalu keduanya rindui. Jika dulu Zayn yang pergi, maka kali ini, Jia lah yang pergi. Jia pergi untuk menuntut ilmu dan membuat dirinya lebih dewasa lagi sebelum keduanya menjalani biduk rumah tangga seperti yang seharusnya terjadi.


Dua ja ye? Besok, othor tambahin 🙏

__ADS_1


__ADS_2