
Keduanya menatap surat itu dengan mata menatap kosong ke dinding ruangan yang ditempati Kendra saat ini.
Tania menghela napas panjang. "Jadi.. Selama ini Bang Aldo menghilang ternyata sedang berusaha mengumpulkan bukti tentang kecelakaanku dan juga penculikan Ziana?" tanya Tania yang diangguki oleh Kendra.
"Kamu benar, Hunny. Pantas saja waktu itu, Om Kenan pernah bilang sama Abang kalau Aldo sudah diPekanbaru. Tetapi tidak sendiri. Dan kemarin pun, Om Kenan sempat juga menyebut tentang Aldo sama Abang. Tapi nggak abang gubris." Ujar Kendra yang ditatap bingung oleh Tania.
"Kenapa begitu? Kenapa Abang tidak ingin tahu tentang bang Aldo? Bukankah dia selama ini tangan kanan yang paling setia sama Abang?" tanya Tania yang diangguki oleh Kendra.
"Benar. Tapi waktu itu, pikiran abang buntu. Yang abang pikiekan waktu itu hanya kamu dan Ziana. Lagi pula, abang belum bisa dijak kompromi saat Om Kenan ngomong tentang Aldo. Lah abang cuma ingat dan ingin ketemu kamu?" ucap Kendra yang dibalas helaan napas kasar oleh Tania.
Kendra benar. Baru kemarin malam ia normal. Dan itupun saat dirinya sudah kembali dan bertemu dengan Kendra. Jadi, Kendra tidaklah salah dalam hal ini.
Ia pun baru kembali ari pikirannya yang begitu pelik. Sekiranya Tania tidka kembali, maulah Kendra selamanya akan seperti itu. Tania tersenyum lembut pada kendra yang kini terus menatapnya begitu dalam.
__ADS_1
Pipi Tania merona merah. Kendra menaikkan satu alisnya. "Kenapa dengan pipi mu, Hunny? Kmau sakit?" tanya Kendra sembari menyentuh pipi chubby Tania yang semakin memerah saat tangan kurus Kendra menyentuhnya.
Ampuh dah Bang Kendra! Nggak tahu apa, matanya itu begitu lekat saat menatapku? Dikira aku nggak salah tingkah apa?
Batin Tania menggeutu karena kesal Kendra yang kurang paham akan keadaan pipinya itu.
Bukannya menjawab, pipi Tania semkain bersemu hingga seperti tomat masak yang membuat kendra sadar dna paham. Setelahnya ia tergelak keras setelah tahu jika sang istri malu padanya karena terlalu lama ditatap seperti itu.
"Hahaha.. Salah tingkah toh? Dikira kamu kenapa tadi? Hahaha..." Kendra tertawa melihat wajah Tania semakin memerah.
Tingkah kedua sejoli itu tidak lepas dari pengawasan dua pasang mat diruangan mereka.
"Gimana, Mas? Udah diizinan pulang dong Kendra nya? Lihat aja tuh! Udah normal gitu orangnya!" celutuk Om Kenan yang dijawab kekehan kecil oleh Dokter Dimas.
__ADS_1
"Tentu Bang. Putuskan saja, kapan kalian ingin membawanya pulang. Kalau bisa, harus ada salah satu suster yang mengawasi keadaannya. Laporkan segala sesutunya kepadaku. Dan akan aku sampaikan kepada Prince nanti." jawab Dokter Dimas yang diangguki oleh Om Kenan dengan senyum puas diwajah tampannya.
Sementara dua Om itu sedang berdiskusi tentang kepulangan Kendra, Tania malah berencana ingin kerumah sakit Jaya Medistra terlebih dahulu untuk melihat keadaan Aldo.
Ia akan menyamar untuk masuk keruangan Aldo dirawat. Menurut Fatma. Saat ini, mereka sedang dijaga oleh anggota Paman Kevan.
"Sebaiknya aku memakai niqob. Sedang Abang harus memakai kumis dan janggut palsu demi mengelabui penjaga itu. Kita harus bertemu dnegan Bang aldo dan Fatma. Sebelumnya, kita harus meminta pertolongan Om Dimas dna Om Kenan dulu." Ucap Tania yang diangguki oleh Kendra.
"Harus ya, kita minta tolong Om Kenan dna Om Dimas? Nggak bisa gitu, kita langsung aja masuk keruangannya? 'Kan belum tentu anggota Paman Kevan ada disana setiap saat?" Ucap Kendra pada Tania yang kini menggeleng tidka setuju dnegan ucapan Kendra.
"No! Jangan Abang! Kita harus mengatakan hla ini pada pemilik rumah sakitnya. Agar dipermudah saat masuk kesana. Kalau kita tidak menyamar, apa Abang bisa menjamin, setelah kita keluar dari ruangan Bang Aldo. Anggota Paman Kevan tidka akan memburu kita?" Kata Tania pada kendra yang kini tertegun dengan ucapan Tania yang memnag benar adanya.
"Harus ya?" tanya Kendra
__ADS_1
"Harus! Kita harus berbicara dulu pada mereka. Abang kok jadi kayak orang linglung sih? Masih takut, kalau aku pergi lagi?" Balas Tania yang diangguki cepat oleh Kendra.