Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Penjelasan si kembar sulung.


__ADS_3

Setelah menempuh beberapa jam dari Amerika ke Jakarta, dilanjut lagi ke Medan, saat ini mereka semua sudah berkumpul di rumah Nenek Ira. Wanita tua itu sengaja mengumpulkan semua adik-adiknya dan juga keponakan serta cucunya untuk menyidang putra sulung mami Tania yang sudah membuat kedua cucunya terluka.


Riya dan Jia, semenjak kepulangan mereka dari Amerika memilih mengurung diri di dalam kamar. Keduanya tidak ingin keluar karena malas bertemu dengan suami mereka. Keduanya masih sakit hati akibat perbuatan suami mereka pada keduanya.


Oma Annisa duduk bersender dengan tangan terpasang jarum infus. Mami Tania yang sudah tiba pun, duduk di dekat maminya yang kini terpejam erat di samping Opa Tama.


Nenek Ira menatap datar pada mami Tania yang kini juga menatpnya dengan datar. "Sudah bisa kamu jelaskan Tania? Ada apa ini? Kenapa uwak mendengar kabar yang tidak baik tentang kedua putramu saat di luar sana? Dan kamu, ikut serta terlibat di dalamnya?" tanya Nenek Ira pada mami Tania yang kini menghela napas panjang.


Mami Tania menatap pada kedua putranya yang kini terus menatap ke lantai dua sana. Menatap pada lantai dua yang pintu kamar itu tertutup rapat sejak kedatangan mereka.


Si kembar sulung menundukkan kepalanya. Semua keluarga menatap datar dan menunggu jawaban dan penjelasan darinya.

__ADS_1


"Akan kami jelaskan tetapi, bolehkah kami berdua menemui istri kamu dulu?" tanya Zayn begitu berharap bisa menemui istrinya melalui permintaannya pada sang Nenek yang kini menatap dingin padanya.


Sadar, jika dirinya tidak di perbolehkan karena tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Zayn dan Zayden menceritakan hal yang sebenarnya. Kedua pangeran mami Tania itu menghela napas dengan berat sebelum keduanya menceritakan hal itu.


"Sebelumnya, jangan ada yang menyanggah saat kami berbicara. Ada sesi pertanyaan jika kalian ingin bertanya." Tegas Zayn yang diangguki oleh semuanya.


Dua Gadis yang terduduk di undakan tangga sana, mendengar jelas suara salah satu suami mereka. Ingin sekali keduanya berlari mengejar keduanya dan memeluk tubuh yang begitu mereka rindukan itu. Tetapi, mereka tidak bisa. Keduanya sudah memiliki keputusan. Keputusan yang akan mereka ambil setelah mendengar penjelasan dari suami mereka saat ini.


"Satu minggu yang lalu, kami di undang oleh salah satu rekan kampus untuk memenuhi acara undangan ulang tahunnya. Sebenarnya, kami ingin menolak. Tetapi, kami tidak bisa melakukan itu," ucap Zayn sedikit berat dengan kepala menunduk.


"Teman kami itu merupakan salah satu orang yang baik yang pernah menolong kami saat di sana. Ia mengundang kami bukan untuk memberitahukan, jika dirinya lebih kaya, bukan itu. Ia bermaksud mengundnag kami, karena kami berdua sahabat dekatnya selama tiga tahun ini. Akan tetapi," timpal Zayden yang kemudian berhenti lagi, tidak sanggup untuk melanjutkannya.

__ADS_1


Karena sebuah fakta yang baru keduanya tahu ialah..


"Akan tetapi, dia lah dalang di balik semua penjebakan itu. Ia sengaja memanggil dan membuat pesta itu atas permintaan sepupunya yang juga berasal dari Indonesia. Awalnya, kami tidak curiga sedikit pun dengan pesta itu." Lnajut Zayn yang masih di dengarkan oleh semua orang dan juga istri mereka yang kini mengepalkan kedua tangannya.


Sesekali Zayn dan Zayden melihat ke atas, di mana pintu kamar istri mereka masih tertutup rapat.


"Acara itu berjalan dengan lancar. Kami yang tidak suka minum alkohol, mereka berikan jus. Jus yang ternyata sudah di bubuhi obat dan membuat kepala kami pusing hingga hampir pingsan di dalam acara tersebut." Ujar Zayden lagi yang membuat keluarga masih menunggu apa yang selanjutnya ia katakan.


Zayn memejamkan matanya saat akan menceritakan pada bagian itu. "Kami berdua yang sudah pusing di tuntun oleh kedua gadis yang Ummi dan Abi lihat saat di Hotel itu untuk di bawa ke kamar yang berbeda. Setibanya di sana, kepalaku seperti di hantam kayu dan begitu sakit. Aku tidak sadarakan diri saat itu. Dan saat aku sadar paginya," ujarnya tercekat dengan napas sesak saat melihat di tangga sana istri mereka sedangg meneteskan air mata.


"Kami berdua bangun dalam keadaan tanpa busana dan tidur di ranjang yang sama bersama gadis yang membawa kami itu. Keduanya shock saat tahu jika kami berdua yang menodai mereka. Kami bingung. Kapan kami berdua menodai wanita yang tidak kami kenal? Kami itu pingsan! Bukan sadar! Kalaupun kami di cekoki dengan obat sialan itu, kami lebih memilih mengurung diri di kamar mandi dari pada harus menuntaskannya kepada yang bukan hak!" lanjut Zayden yang juga tercekat saat melihat istrinya kini tergugu di tangga sana.

__ADS_1


"Kami berdua yang bingung harus melakukan apa, hanya bisa pasrah saat kami di grebek dan di minta pertanggung jawaban oleh kedua orangtua mereka. Dan saat Ummi dan Abi datang, keduanya sudah menekan kami. Mereka akan mempermalukan Mami dan Abi jika kami tidak mengakui keduanya sebagai tunangan kami. Kami berdua terpaksa melakukannya. Kami terpaksa, " lirih Zayn yang berdiri dan menuju istrinya yang kini tergugu dengan penjelasannya.


__ADS_2