Princess Pratama

Princess Pratama
Obat Penenang


__ADS_3

Dokter Umar yang tahu jika pasiennya ini sedang tidak stabil segera mengambil obat penenang untuk menyuntikkannya.


Masih beliau berusaha memegang cairan obat yang ditusuk dengan jarum sun tik, tangannya malah ditepis tak sengaja oleh Kendra karena masih saja mengamuk dan meronta-rota di dalam pelukan kedua orang itu.


"Astaghfirullah Kendra!" seru Dokter Umar kesal. Ummi Mutia melangkah masuk dan mendekati kedua orang itu.


Keduanya begitu kewalahan menangani tingkah Kendra yang kini mengamuk semakin menggila. Dokter Umar mengambil kembali botol cairan obat penenang itu dan kembali menyuntikkannya ke jarum.


Setelahnya ia melihat Kendra yang semakin tidak terkendali.


"Giliran kamu, Tia!" katanya pada Ummi Mutia yang kini mengangguk dan meringsek masuk dari celah tubuh Uwak Lana dan memeluk tubuh putranya yang sedang meronta itu dari depan. Uwak Lana melepaskan dekapannya dari tubuh Kendra.


Tapi tanpa sengaja Kendra menampar Ummi Mutia dan memukul punggungnya.


Plak!


Bugh.

__ADS_1


Bugh.


"Allahu akbar.. Sayangku.. Putra sulung Ummi.. Sadar, Nak. Ini Ummi.. Maafkan Ummi sayang. Maafkan Ummi.."


Deg, Deg, deg, deg..


Jantung Kendra bertalu-talu saat mendengar suara alunan merdu yang mirip dengan Tania dan Ziana itu. Spontan saja ia berhenti meronta dan mengamuk.


Ummi Mutia tersedu di pelukan Kendra yang kini mematung dengan mata terpejam. Air mata itu kembali mengalir lagi.


Karena Dokter Umar berhasil menyutikkan obat penenang di lengannya yang kini memeluk erat Ummi Mutia yang terus terisak di dadanya.


"Hiks.. Maafkan Ummi, sayang. Maafkan Ummi.. Maafkan Ummi, Nak.."


Kendra tersenyum dengan mata terpejam. "Aku sangat mencintaimu, Hunny. Sampai kapanpun hanya kamu. Dek.. Maafkan Abang yang tidak bisa membalas cintamu.. Se-semoga.. Ka-kamu.. Mendapatkan pengganti y-yang le-lebih baik dariku.. A-abang sayang Ziana.. A-adikku.." lirihnya dengan cepat terjatuh lemas diranjang Ziana beserta Ummi Mutia yang terikut juga bersamanya.


Ibu dan anak itu saling berpelukan. Ummi Mutia semakin merasa bersalah kepada putranya itu. Ia terus tersedu. Begitupun dengan Kendra. Ia tidak sedikitpun melepaskan pelukannya dari tubuh Ummi Mutia yang ia kira Tania dan Ziana.

__ADS_1


Dokter Umar menghela napasnya saat melihat Kendra sudah berangsur tenang. Ia memberi kode pada Uwak Lana dan yang lainnya untuk keluar.


Tapi tidak dengan Aldo. Pemuda itu begitu kelelahan hingga ia langsung saja membaringkan tubuhnya di Sofa kamar Ziana. Tepat dikaki Kendra dan Ummi Mutia yang kini masih saling berpelukan dan menangis bersama.


Uwak Lana menghela napas panjang. Ia beranjak dari kamar itu di ikuti oleh dokter Umar. Uwak Lana mengusap air matanya.


Ia tidak menyangka, jika apa yang dokter Umar katakan terjadi juga. Ke empat paruh baya yang masih belum paruh baya itu duduk termenung diruang tamu Uwak Lana.


Tak ada satupun yang berbicara. Semuanya sunyi senyap dengan pikiran berkelana entah kemana. Memikirkan Tania yang sudah tiada. Dan juga Ziana yang kini entah seperti apa keadaannya.


Jika masih hidup, mereka sangat bersyukur. Namun, jika tidak? Apa yang bisa mereka lakukan selain hanya bisa pasrah.


Innashsholati, wanusuki, wamahyaya, wamamati, lillahirobbil'alamin..


Serahkan semuanya kepada Allah. Karena hanya Dia yang tahu jawaban dari kegelisahan yang kini ke empat orangtua itu rasakan. Dan mereka pun harus berjuang lebih keras lagi untuk membujuk Kendra, menerima Tania yang kini sudah tiada.


Walau menurut Kendra masih hidup, tetap saja. Uwak Lana melihat sendiri saat jasad Tania di kuburkan dimatanya. Saat mereka di Singapura.

__ADS_1


__ADS_2