
Keduanya masih syok saat melihat pengantin pengganti pilihan Abi mereka. Saking terkejutnya, keduanya tidak sadar, jika kedua pipi tampan mereka kini di kecup mesra oleh lelaki tampan yang mirip sekali dengan keduanya saat ini.
Abi Kendra terkekeh melihatnya. Mami Tania pun demikian. Oma Annisa apalagi. Beliau yang paling senang saat melihat dua pengantin pilihan Abi Kendra itu.
"Masyaallah.. Cantiknya cucu Oma! Nggak salah kalau pilihan Abi kalian sangat tepat!" seru Oma Annisa begitu senang saat melihat cucunya itu.
"Mami, apa kabar? Sehat? Udah lama banget, ya, kita nggak ketemu? Terakhir saat Papi meninggal dua tahun yang lalu," ucap ibunda dari pengantin wanita calon istri Dzaka dan Dzaki.
"Putriku! Mami sehat, Nak! Mana si tua bangka, raja kamu itu? Nggak ikut?" tanyanya dengan tawa renyahnya.
Beliau terkekeh. "Ada, Mami sama Papi sedang di sibukkan sama cucu, anak pertama dari Fania. Begitu rusuh! Palingan bentar lagi mereka kesini," jawabnya sembari memeluk Oma Annisa yang menghadiahkan semua kecupan di wajahnya.
Beliau tertawa sembari melepaskan pelukan hangat seorang wanita yang sudah ia anggap ibu untuknya itu. Beliau mendekati sang suami yang masih memeluk kedua bocah tampan yang kini sudah dewasa itu.
"Apa kabar, Sayang? Masih ingat dengan mami?" katanya pada kedua orang yang kini masih menatapnya dengan terkejut.
"Ck. Ada apa dengan keduanya, Sayang? Kenapa jadi patung hidup begini, sih?" ucapnya mendengkus kesal pada bocah tampan yang kini masih syok itu.
Beliau terkekeh. "Bagaimana tidak syok, Papi. Keduanya itu begitu terkejut kala tahu jika kedua istri pengganti yang abinya pilihkan itu putri kita! Putri seorang Pengusaha Intan, Syailendra Putera Wiryawan! Bukan begitu, Sayang?" ledeknya lagi pada kedua bocah tampan yang kini mengerjab melihat padanya.
Tak lama, keduanya menubruk tubuh wanita sedikit berisi sama dengan mami mereka itu.
"Mami Ziana!" seru keduanya sambil memeluk erat wanita yang begitu mereka rindukan itu. Mami Ziana tertawa. Papi El mendengkus. Ia merajuk dan memilih duduk di kursi akad nikah kedua putrinya.
Abi Kendra terkekeh melihat wajah kesal adiknya itu. "Sudah, keduanya masih syok saat ini. Mana mereka tahu jika kamu dan dua gadis impian mereka yang akan menjadi istri keduanya?" ucap Abi kendra yang di balas helaan napas oleh Papi El.
__ADS_1
"Abang benar! Keduanya sangat syok. Terlihat jelas dari wajah keduanya. Terima kasih, Abang udah mau menunaikan janji kita dulunya." jawabnya yang diangguki oleh Abi Kendra.
"Semuanya sudah menjadi ketetatapn takdir, Dek. Kita hanya bisa berencana, jika itu baik dan benar, Allah lancarkan. Seperti sekarang ini," ucap Abi Kendra yang diangguki oleh Papi El.
Benar, Papi El dan Mami Ziana yang tinggal di Kalimantan baru tiba tadi malam di Hotel itu membuat kedua bocah tampan itu terkejut bukan main. Sebelumnya, Abi Kendra tunjukkan kebenaran tentang kedua calon menantu abal-abal itu.
Puas dengan saling berpelukan dan melepas rindu, kini acara sakral untuk keduanya pun di mulai.
Dzaka dan Dzaki duduk menghadap Papi El yang kini menatap datar pada keduanya. Keduanya jadi salah tingkah. Papi El sengaja memasang wajah seriusnya. Karena ini kali pertama dirinya menikahkan putri kandungnya secara langsung.
Untuk kedua anak sulungnya itu mereka menerima mennatu, bukan menikahkan.
"Baik, kita mulai acaranya. Sudah siap 'kan kalian berdua?" tanya Pak penghulu pada kedua bocah kembar nan tampan itu yang kini mengangguk cepat.
Pak Penghulu terkekeh. "Silahkan di mulai!" katanya pada Papi El yang kini mengulurkan tangannya pada Dzaka lebih dulu.
"Saya, Pi!"
"Papi Nikahkan dan Kawinkan Engkau dengan putri kandung papi, Kiana Syailendra Wiryawan dengan mas kawin perhiasan emas murni seberat 23 gram tiga mili serta seperangkat alat sholat di bayar tunai!" Ppai El menyentak pelan tangan Dzaka.
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Kiana Syailendra Wiryawan binti Syailendra Putera Wiryawan dengan mas kawin perhiasan emas murni seberat 23 gram 3 mili serta seperangkat alat sholat di bayar tunai!"
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu yang diangguki oleh kedua saksi.
"Sah!"
__ADS_1
"Sah!"
"Alhamdulillah, kita lanjutkan ijab qobul satu lagi! Hadeuhh.. Begini, nih, saya harus menikahkan dua orang kembar sekaligus! Belum boleh doa sebelum satu lagi di nikahkan!" celutuk Pak Penghulu yang membuat suasana di dalam ruangan itu riuh dengan gelak tawa.
Dzaka terkekeh.
"Baik, kita mulai!" lanjut Pak Penghulu lagi.
"Putraku, Dzaki!" lanjut Papi El.
"Saya, Pi!" sahut dzaki menatap tegas pada Ppai El.
"Papi Nikahkan dan Kawinkan Engkau dengan putri kandung Papi, Riana Syailendra Wiryawan dengan mas kawin Perhiasan emas murni seberat 23 gram 3 mili serta seperangkat alat sholat di bayar tunai!" Papi El menyentak tangan Dzaki
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Riana Syailendra Wiryawan binti Syailendra Putera Wiryawan dengan mas kawin Perhiasan emas murni seberat 23 gram 3 mili serta seperangkat alat sholat di bayar tunai!" jawab Dzaki begitu mantap
"Bagaimana saksi? Sah?"
Kedua saksi saling pandang dan tersenyum.
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah, barakallahu 'alaikuma wabaroka 'alaikuma fi khair.." Pak penghulu meneruskan doanya hingga selesai mendoakan dua pasangan pengantin yang kini sudah sah menjadi suami istri.
__ADS_1
Mau lagi? Makin seru atau nggak, nih?