Princess Pratama

Princess Pratama
Berangkat Ke Amsterdam, Belanda


__ADS_3

Setelah pertempuran yang begitu panjang tadi malam, subuh harinya Tania beserta keluarga yang terdiri dari satu kompi batalion itu sedang bersiap-siap.


Sejak pukul empat pagi mereka sudah bersiap ingin mengantar Tania, Kendra, papi Tama, Uwak Lana dan Aldo untuk ke Bandara.


Ppai Ali yang bertugas mengantar mereka. Fatma, istri Aldo pun, sudah tiba di kediaman papi Tama. Untuk sementara kedua anggota Aldo itu akan tinggal bersama mami Annisa.


Demi mengurusi si kembar. Pagi ini si kembar sedikit rewel. Terlebih si sulung yang kemarin siang menangis lantaran Kendra mengamuk dihadapannya. Ia sedikit berat melepas kepergian kedua orangtuanya subuh ini.


Beruntungnya mami Annisa ada Fatma yang membantu membujuk si kembar. Si sulung tidak mau dengan siapa pun, kecuali abinya. Berkat bujukan Kendra, Zayn akhirnya luluh juga.


Dan disinilah mereka berada. Ditemani mami Kinara, Papi Rayyan dan Papi Ali, Tania dan yang lainnya sedang menuju keberangkatan mereka.


Dari bandara Kuala Namu, Medan mereka akan menuju bandara Halim Perdana Kesuma, Jakarta terlebih dahulu. Dengan kata lain kalau mereka harus menjalani dua kali transit untuk menuju ke Belanda.


Dari bandara Kuala Namu, Medan mereka harus menempuh jarak sekitar dua jam perjalanan untuk tiba di bandara Halim Perdana Kesuma, Jakarta. Papi Ali sudah membelikan tiket untuk ke Belanda tadi malam.


Waktu yang mereka pilih ialah malam hari. Keluarga harus istirahat terlebih dahulu sebelum berangkat ke Belanda.


Pukul delapan pagi jadwal penerbangan mereka ke Jakarta. Tania sedikit merasakan tidak nyaman pada perutnya. Ia sesekali meringis dan duduknya pun sedikit gelisah. Kendra bisa merasakan hal itu.


Ia segera memeluk Tania dan mengelus perutnya itu dengan lembut. Tania menghela napas lega. Kendra mengecup kepala Tania dan berbisik lirih di telinganya.


"Maaf, abang terlalu kasar padamu tadi malam-,"


"Nggak.. Kamu nggak salah Bang. Emang perutku aja sih yang sedikit sensitif? Tolong ambilkan obat didalam tas itu!" potong Tania sembari menunjuk pada tas selempang miliknya yang terletak di meja ruangan tunggu VVIP itu.


Kendra segera mengambil tas Tania dan mengeluarkan obat pemberian Zee tadi pagi. Karena kakak sepupunya itu tahu jika Tania akan melakukan perjalanan jauh, maka ia harus membuat kandungan Tania kuat.


Mami Annisa setuju dengan kakak sepupu Tania itu. Ia pun sempat khawatir tentang hal itu. Tetapi, setelah Zee memberikan obat untuk Tania, mamai Annisa menjadi sedikit lega. Dan bisa melepas Tania pergi bersama keluarag demi menyusul Ziana di negeri Belanda.

__ADS_1


Menurut informan yang Tania tugaskan untuk berpencar ke seluruh luar negeri, mereka menemukan keberadaan Ziana. Ia disana seorang diri tanpa ada yang menemani. Hidup ditengah pulau tanpa satupun, yang menemaninya.


Menurut pantauan orang papi Tama, ada seorang pemuda sering menemui Ziana kesana. Mereka belum tahu siapa pemuda itu. Pemuda itu seumuran Ziana tetapi, sedikit tua dua tahun saja darinya.


Mereka belum tahu jelas seperti apa wajahnya dan ada hubungan apa dengan Ziana. Semua itu masih buram. Pemuda itu akan datang sebulan sekali. Itupun, mereka tidak tahu kapan pemuda itu datang menjenguk Ziana.


Tapi, dari yang terlihat. Pemuda itulah yang selama ini menolong Ziana saat berada dipulau terpencil itu.


Tania seegra meminum obat dari Kendra. Tak lama setelahnya, pesawat mereka akan segera berangkat. Terdengar suara pengumuman dari speaker bandara untuk tujuan keberangkatan Medan-Jakarta.


Mereka pun, segera keluar dari ruangan itu menuju ke pesawat yang kini siap menunggu mereka.


Papi Ali, mami Kinara serta papi Rayyan melihat keberangkatan mereka menuju ke Jakarta dari sebalik kaca tembus pandnag di Bandara Kuala Namu, Medan.


Pesawat yang mengangkut Tania serta keluarganya pun, sudah lepas landas menuju langit kota Jakarta.


*


*


*


Pesawat yang ditumpangi Tania dan Kendra serta yang lainnya, kini sudah mendarat di bandara Halim Perdana Kesuma.


Mereka tidak keluar dari bandara itu. Malainkan menunggu waktu keberangkatan untuk Ke Belanda selepas maghrib nanti malam.


Mereka tiba di Jakarta sudah masuk waktu dhuhur waktu Jakarta. Mereka pun memilih untuk sholat di musholla yang tersedia disana. ( Benar atau tidak, othor nggak pernah ke bandara Halim perdana Kesuma, Jakarta.šŸ˜šŸ™)


Papi Tama keluar untuk memesan makanan lagi. Karena Tania merasa lapar walau didalam pesawat tadi mereka sudah makan.

__ADS_1


"Hem, ada saja ulah putriku itu! Kalau begini ceritanya, kita harus beli jajan banyak ini Lan!" kata Papi Tama pada uwak Lana yang kini tertawa mendengar ucapan abang angkatnya itu.


Aldo terkekeh mendengar ucapan mertua Kendra. Mereka bertiga memilih keluar untuk mencari bahan yang dibutuhkan untuk Tania nanti. Sementara Kendra saat ini sedang menemani Tania sambil mengelus perut istrinya yang sedikit membuncit itu.


Tak ada rasa curiga sedikitpun darinya. Ia tetap mengelus perut itu sampai Tania terlelap dan ketiga orang dewasa yang keluar untuk mencari makanan untuknya kini sudah kembali.


Mereka hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Tania yang kembali tidur padahal selama dua jam ia sudah tidur di dalam pesawat tadi.


*


*


Pukul 18.56 waktu Jakarta, pesawat yang akan mengangkut mereka ke Belanda sudah lepas landas meninggalkan kota Jakarta dengan hiruk pikuknya.


Untuk tiba di Negeri Kincir angin itu, mereka membutuhkan waktu sekitarĀ 15 jam 32 menitĀ untuk terbang dari Jakarta (JKT) ke Amsterdam (AMS).


Tiba disana mereka harus mendarat di bandara Schiphol Airport, Amsterdam, Belanda.


Bandara Udara Internasional Schiphol dengan kode IATA AMS dan ICAO EHAM adalah bandara utama di Belanda yang terletak di selatan Amsterdam, persisnya di gemeente Haarlemmermeer.


Selama di perjalanan Tania memilih tidur dengan perutnya selalu diusap oleh Kendra. Mereka memilih kelas Bisnis untuk kenyamanan mereka menuju Belanda.


Yang mana Tania butuh tidur sepanjang perjalanan begitu juga dengan yang lainnya. Jarak waktu yang lumayan lama membuat mereka semua harus istirahat yang cukup.


Kendra terus berjaga untuk mengusap perut Tania. Ia merasakan keanehan saat telapak tangannya itu mengelus perut Tania. Ada perasaan hangat, damai dan nyaman saat menyentuh perut Tania.


Kendra selalu tersenyum saat mengelus perut rata Tania yang sedikit membuncit itu. Papi Tama dan Uwak Lana tersenyum melihat Kendra.


"Tidur dulu, Nak. Usap perut istrimu dengan kamu berbaring juga. Istirahatlah!" titah Papi Tama yang diangguki oleh Kendra dengan bibir masih tersenyum.

__ADS_1


Ia merebahkan dirinya dengan tangan terus mengusap perut Tania yang kini sudah terlelap sejak ia menaiki pesawat tadi.


Perjalanan panjang butuh waktu hingga puluhan jam untuk tiba di negeri Kincir angin, Belanda. Untuk menyusul Ziana yang katanya berada di salah satu pulau yang ada di negeri Belanda itu.


__ADS_2