
"Ya sudah, ayo kita keluar. Pasti saat ini kakek kamu sedang menggerutu karena kita terlalu lama!" Ziana dan mami Maura tertawa.
Semuanya keluar dari ruangan itu. Kendra berjalan terakhir bersama Aldo sembari merangkul bahunya.
"Aku titip Tania, Al. Jika terjadi sesuatu padaku, maka tugasmu untuk menjaganya. Aku serahkan padamu tentang Ziana. Dan ya, satu lagi. Apabila kamu melihat ada keanehan pada kedua orang tuaku itu, tolong sembunyikan Ziana dan Tania. Lindungi mereka sebisa kamu. Aku percayakan mereka berdua pada kamu. Bisa kan Al?" Pinta Kendra pada Aldo yang kini hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Apa yang bisa aku lakukan selain aku menuruti kemauan mu dan juga Ziana? Kau yang menikahinya, tapi aku yang menanggungnya! Ck! Tak adil sekali untuk hidupku!" gerutunya yang membuat Kendra tertawa.
"Setelah semua ini selesai, kamu yang aku pilih untuk menggantikan posisi ku nantinya."
"Terserahmu lah Ken!" jawabnya masih dengan wajah datarnya yang membuat Kendra menertawakannya.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu rumah Papi Lana yang juga kini sudah ada tamunya salah satunya, Kakek Ziana sendiri yang merupakan penghulu untuk menikahkan mereka berdua.
Mereka semua berbicara sebentar, setelahnya memulai acara akad nikah itu. Kedua orang tua Kendra sangat senang akan hal itu.
Yang berarti dirinya tidak tergeser lagi karena sudah ada penolong, begitu pikir mereka. Walau tadi terjadi sedikit perdebatan karena Ziana tidak ingin mengumumkan pernikahan mereka, kedua orang itu sedikit kesal.
Niat hati ingin mengumumkan dan mengadakan resepsi besar-besaran malah harus dirahasiakan. Tetapi setelah Kendra dengan gigi menggelutuk menjelaskan alasannya, barulah mereka mengalah.
Itu pun karena papi Lana yang berbicara. Yang membuat kedua orang itu tidak bisa berkutik lagi. Dan acara pernikahan itu pun dimulai..
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Ziana Puteri Maulana Binti Maulana Akbar dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar enam belas juta rupiah dibayar tunai!"
Ddduuaaarr!!!
Ting!
Pyaarrrr..
__ADS_1
Dua orang yang saat ini baru saja merebahkan dirinya di ranjang, dibuat terkejut dengan suara pecahan gelas dari arah luar kamar mereka.
Keduanya langsung berlari dan melihat putri mereka sudah terjatuh dan tergeletak di lantai dengan ponsel yang masih menyala.
"Astaghfirullah! Tania!!"
Deg, deg, deg..
"Arrgghhtt.. Allahu.. Akbar..."
Bruk!
"Kendra!!" pekik mereka semua saat melihat Kendra yang kini jatuh terkapar di samping Ummi nya.
Mereka semua heboh melihat Kendra pingsan yang entah karena apa. Hanya terlihat Kendra memegangi dadanya yang sebelah kiri, tak lama ia jatuh tak sadarkan dari setelah kata sah oleh kedua saksi tadi.
Ziana mematung di tempat. Pikirannya terus melayang memikirkan Tania saat ini. Akankah Tania tahu jika ia sudah sah menjadi istri Kendra?Atau, kenapa juga Kendra jatuh dengan tiba-tiba setelah ia menikah dengan nya?
Ddduuaaarr!
Dduuaaarr!!
Ziana terhenyak saat mendengar suara gemuruh petir di luar rumahnya bertepatan dengan ponsel Kendra yang menyala karena tertekan olehnya dan menunjukkan pernikahannya dan Kendra sudah di ketahui oleh Tania.
Bruuk!!
Ziana jatuh terduduk dengan air mata beruraian.
"Kakak.. Sudah tahu??"
__ADS_1
Ddduuaaarr!!
Suara gemuruh itu semakin kencang diluar sana. Satu rumah itu terkejut melihat diluar rumah mereka dengan tiba-tiba gelap dan angin kencang pun berhembus hingga menerbangkan apapun yang ada disana.
Ziana menatap keluar dengan air mata terus berlinangan. "Mami Annisa.. Kakak.." lirihnya yang membuat mereka semua tersentak dengan ucapan Ziana.
Sementara di Singapura sana, Mami Annisa memegangi tubuh Tania yang jatuh terkapar di lantai.
Papi Tama segera merangkulnya dan membawanya menuju kamar Tania saat ini. Mami Annisa memegang ponsel yang menyala itu dengan rahang mengetat.
Ia menatap semua video yang di kirim Aldo melalui ponsel milik Kendra.
"Sudah terjadi ternyata.. Baik.. Ini 'kan yang kamu inginkan Kendra?? Inikah yang kamu mau Bang Lana?? Baik.. Maka mulai hari ini, aku putuskan! Bahwa Tania bukanlah istri Kendra lagi! Kamu akan menyesal Kendra.. Kamu akan menyesal bang Lana.. Selamat! Selamat atas pernikahan putrimu! Bersiap-siaplah kehancuran akan menghampirimu! Siapa pun yang terlibat di dalam pernikahan yang sudah menghancurkan kehidupan putriku.. Maka kalian akan merasakannya!
Kalian semua akan merasakannya! Tunggu saja!"
Ddduuaaarrr!!
Papi Tama tersentak mendengar suara gemuruh di atap rumah mereka, ia menoleh ke belakang dan melihat jika mami Annisa saat ini sedang menunjukkan aura yang sama seperti dirumahnya dulu.
Ya Allah.. Apapun yang akan terjadi. Semoga mereka semua kuat. Aku tidak bisa menahan dan melarang istriku untuk melakukan apa yang menurutnya harus ia lakukan. Maafkan hamba ya Robb.. Semoga Engkau tidak menghukum istriku..
Batinnya menatap sendu pada mami Annisa yang kini melemah melihat tatapan mata cintanya itu. Mami Annisa luruh ke lantai dan menangis tersedu.
Papi Tama mendekatinya dan memeluknya dengan erat. "Sabar.. Semua ini sudah ditakdirkan sayang.. Jangan berdoa yang buruk untuk mereka. Karena keburukan itu akan kembali padamu nantinya." Imbuhnya sambil memeluk mami Annisa dengan erat yang kini sedang tersedu melihat pesan yang baru saja ia dapat dari ponsel Kendra, jika menantunya itu pun sama dengan Tania yang saat ini sedang pingsan.
Sepasang suami istri yang terikat lahir dan batin, kompak jatuh pingsan bersama saat Kendra mengucap janji kedua dengan Ziana setelah dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Yok mampir kesini lagi!