
Kendra dan Aldo segera pulang dari Singapura menuju ke Medan hari itu juga. Ia ingin mengucapkan terima kasih pada seluruh keluarga istrinya yang telah rela mengembalikan perusahaan itu padanya sebagai hadiah pernikahan mereka sebulan lagi.
Sebenarnya, Kendra idak berharap lagi akan perusahaan itu. Ia sengaja membobol data keamanan milik perusahan itu hanya untuk mengkopi isi surat wasiat dari mendiang kakeknya.
Karena ia yakin, surat itu akan berguna nantinya. Jika perusahaan itu sudah diserahkan kepada pihak Dinas, maka Paman Kevan tidak bisa mengakuisi lagi perusahaan yang kini berada ditangan pihak Dinas sosial.
Tetapi, Kendra yakin. Jikalau Paman Kevan akan datang ke rumah mertuanya untuk menemuinya demi mengambil kembali perusahan itu.
Kendra yakin sekali. Bahkan sangat yakin, jika Paman Kevan akan berperang dengannya malam ini. Maka dari itu, ia harus segera kembali ke Medan untuk membicarakan masalah perusahaan yang sudah menjadi miliknya lagi itu. Bukan hanya miliknya. Tetapi milik Tania juga.
Perusahaan itu hadiah dari keluarga istrinya untuk mereka berdua. Dengan kata lain, Tania pun bertindak sebagai direktur utama di perusahan WiraTa itu.
Malam ini, ia yakin. Jika Paman Kevan saudara abi Kevin akan kembali menyerangnya. Sebelum itu terjadi, Kendra sudah mewanti-wanti Tania dan juga keluarganya tadi sebelum menaiki pesawat.
Kendra mengatakan semuanya pada Tania apa yang menjadi rencananya. Tania menyanggupi itu. Dibantu Uwak Lana, papi Tama dan papi Ali, pengawalan ketat pun sudah terjadi di kediaman mereka saat ini.
Untuk El dan Ziana mereka ungsikan ke rumah almarhum Opa Gilang dan Oma Alisa. Karena komplek itulah yang paling aman untuk keduanya saat ini.
Karena masalah ini juga menyeret Ziana dan El sebagai ahli waris dari surat wasiat yang kakek Kendra tuliskan.
__ADS_1
Pukul 19.56 menit waktu Medan, kediaman Uwak Lana dan papi Ali sudah dikepung oleh anggota Paman Kevan.
Mereka datang kesana dengan banyak bala anggota yang mencapai ratusan. Uwak Lana terkekeh melihat itu.
"Dikira kita ini mau perang kayak zaman dulu kali ya, Bang?" uwak Lana tertawa lagi.
Papi Tama dan papi Ali terkekeh. "Bukankah Kendra tadi sudah mengatakannya? Ia tidak akan datang sendiri kesini. Melainkan dengan seribu pasukan tentaranya!" kelakar papi Tama yang semakin membuat ketiga orang itu tertawa bersama.
Didalam rumah papi Ali hanya ada mereka tiga orang pria dewasa itu saja saat ini. Sedangkan ketiga ratu mereka saat ini sudah diungsikan ke rumah Opa Gilang dan Oma Alisa. Demi melindungi mereka semua.
Kendra dan Tania masih dalam perjalanan menuju ke rumah papi Ali. Tania sengaja menjemput Kendra dan Aldo demi bisa membahas masalah Paman Kevan ini. Abi Kevin dan Ummi Mutia pun saat ini sudah dalam perjalanan menuju kerumah papi Lana dan papi Ali saat ini.
Setengah jam berlalu.
Komplek perumahan tentara itu sedang dikepung saat ini. Seorang jenderal menghubungi Uwak Lana dan mengatakan jika bala bantuan darinya sedang bergerak.
"Baik, terimakasih Jenderal! Saya berhutang nyawa kepada anda!" ucap Uwak Lana dengan suara tegasnya.
Sang Jenderal pun tersenyum. "Tak masalah Maulana. Saya hanya meminta satu hal saja padamu. Kamu masih ingat bukan?" katanya pada Uwak Lana yang kini tersenyum padanya.
__ADS_1
"Tentu saja, Jendral! Saya yakin kedua anak kita sudah bertemu dan saling mengetahui diri masing-masing saat ini. Perjodohan ini tetap akan berlangsung. Dengan catatan, biarkan mereka bertemu dan melakukan taaruf secara rahasia yang dibimbing langsung oleh kita berdua!" Uwak Lana tertawa saat melihat wajah malas sang Jendral padanya.
"Ya, ya, ya, baiklah. Kamu menang! Tapi ingat? Setelah ini, kamu harus membantu saya membuang semua hama penyakit yang saat ini berdiri dihadapan rumah saya seperti saya ini tawanan saja!" ketusnya begitu kesal pada Uwak Lana.
Uwak Lana tertawa saja. Sambungan ponsel itu terputus saat pintu rumah mereka diketuk dari luar.
"Izinkan saya masuk tuan Pratama!"
Papi Ali dan Uwak Lana saling pandang dan menoleh pada papi Tama yang kini terkekeh. Tak lama raut wajah itu begitu dingin dan menyeramkan.
Uwak Lana dan papi Ali sampai bergidik ngeri melihatnya.
"Ternyata, aura orang tampan itu jika sedang serius begitu menakutkan ya, Li?" ucap Uwak Lana yang diangguki oleh papi Ali.
"Seumur aku hidup, baru kali ini aku melihat raut wajah yang begitu datar dan dingin. Terkesan marah dan sangat menyeramkan. Aku kira hanya kamu yang seperti itu bang! Ternyata?" papi Ali terkekeh sambil meraba tengkuknya yang terasa meremang.
Begitupun dengan Uwak Lana yang kini merasa hawa rumah papi Ali begiu dingin dan sangat menakutkan kala pintu itu terbuka dan menunjukkan wajah datar dari Paman Kevan yang saat ini juga terlihat begitu menyeramkan.
"Silahkan masuk!" kata papi Tama sembari memberi jalan untuk masuk ke dalam rumah papi Ali yang kini juga sudah merubah raut wajahnya menjadi datar dan sangat dingin.
__ADS_1
Aura didalam ruangan itu begitu menakutkan saat ini. Apalagi empat pemuda dewasa itu saling menatap dengan tatapan menghunus tajam.
Kendra, Tania, Ummi Mutia, dan Abi Kevin yang baru saja tiba, segera berlari melewati penjaga yang akan meyergap mereka. Tetapi, Abi Kevin menatap mereka dengan dingin. Yang membuat semua pasukan Paman Kevan diam tak berkutik sama sekali.