
Tania mengusap lembut pipi Kendra. "Abang tenang aja. Jika Sritania sudah kembali dan bersatu kembali denganmu, maka tidak akan ada yang berani memisahkan kita berdua. Kecuali Takdir! Paham?" Ucap Tania meyakinkan Kendra yang kini menarik ujung bibirnya membentuk senyuman.
Tania pun ikut tersenyum. "Kita satu Bang. Kamu dan aku, satu. Jiwa kita satu. Jadi.. Apapun yang kamu rasakan, aku pun ikut merasakannya. Jadi.. Kamu jangan takut lagi. Aku udah katakan berulang kali. Bahwa aku tidak akan pergi lagi dari hidupmu. Cukup sekali aku meninggalkanmu yang berujung diriku terluka dan kamu pun terluka.. Aku tidak akan pergi lagi! Janji!" Ucap Tania sembari mengaitkan jari kelingkingnya dijari kelingking Kendra.
Kendra Tersenyum dan mengangguk. "Mari kita bersama memberantas kejahatan yang sudah Paman aku taburkan didalam keluargaku dari sejak Kakek masih hidup!" Balas Kendra yang diangguki setuju oleh Tania.
"Kalau begitu, ayo kita bersiap. Lebih cepat lebih baik!" Kata Tania lagi yang diangguki oleh Kendra dengan mantap.
Tania pun segera menghubungi Dokter Dimas dan Om Kenan. Mereka ingin meminta Izin sekaligus mencari tahu keberadaan Aldo dan juga putranya kini sednag dirawat diruangan apa.
Cukup lama Tania berbicara melalui sambungan ponsel dengan Dokter Dimas dna Om Kenan. Setelah selesai, keduanya segera bersiap dan menuju ketempat diaman Aldo saat ini berada.
Kendra diminta duduk dikursi roda saja oleh Om Kenan. Untuk Tania, tetap menggenakan niqob. Agar penyamaran mereka tidak diketahui oleh anggota Paman Kevan yang ternyata memang menjaga ruangan Aldo dan juga putranya itu.
Sepanjang perjalanan, mereka bertiga terus membicarakan hal apa dan cara apa agar bisa bertemu denganAldo.
Beruntungnya Tania seorang Dokter. Jadi, ia bisa melakukan penyamaran dengan menggunakan cadarnya untuk bisa bertemu dan berbicara langsung dengan Fatma dna aldo.
__ADS_1
Mungkin, cukup Tania saja. Sedang Kendra harus melihat mereka melalui cctv yang terpasang diruangan itu bersama Dokter Dimas.
Kendra setuju.
Setibanya dirumah sakit Jaya Medistra, Tania dan Kendra segera menuju keruangan dokter Dimas. Keduanya bersiap disana. Dokter Dimas sendiri yang akan menemui Aldo bersama Tania. Karena saat melakukan operasi, Dokter Dimas dan Dokter Kezia lah yang melakukannya.
Aldo mengalami gegar otak sebelah kiri yang membuatnya koma hingga saat ini. Sudah dua bulan lamanya ia koma dan belum juga sadarkan diri.
Om Kenan dan Dokter Dimas yang tahu itu asisten Kendra saat terjadinya kecelakaan yang menimpanya, menangani asisten Kendra itu dengan baik.
Kendra menunggu dengan sabar saat Tania dan dokter Dimas saat ini sudah menuju keruangan aldo dan juga putra kecilnya yang dirawat dalam satu ruangan yang sama.
Keduanya sengaja disatukan karena Fatma sendiri yang memintanya. Katanya, untuk mengirit biaya. Karena Ftama sudah tidak punya tabungan lagi untuk biaya rawat kedua orang yang ia sayangi itu.
Tania dna dokter Dimas tiba disana. Tania menarik napasnya perlahan. Dirasa cukup tennag dan tidak menimbulkan curiga oleh anggota Paman Kevan itu, keduanya pun masuk.
Keduanya masuk setelah anggota Paman Kevan mengangguk pada Dokter Dimas selaku pemilik dan orang yang sudah menolong Aldo saat itu.
__ADS_1
Tubuh Tania membeku saat melihat Fatma sedang bersimpuh dikaki orang yang begitu Tania ingin hancurkan saat ini.
"Paman Kevan?" ucap Kendra didalam ruangan Dokter Dimas bersama Om Kenan.
"Ya, dia Paman kamu. Untungnya, dia tidak tahu tentang kami yang merupakan keluarga Tania. Jika tidak, pastilah saat ini keluarga kami pun dalam bahaya."
Jawaban Om Kenan begitu membuat Kendra terkejut. Mata Kendra terus menatap pada Fatma yang kini sedang bersimpuh dikaki Paman Kevan. Pemuda paruh baya saudara kembar Abi Kevin itu menyunggingkan senyum manisnya pada Dokter Dimas.
"Selamat siang Dokter?"
Fatma yang sedang terisak dan bersimpuh dikaki Paman Kevan pun berpaling. Fatma membulatkan matanya saat melihat tatapan mata yang begitu dikenalnya.
"Tania?" gumamnya tanpa suara.
Tubuh itu menegang kala Tania mendekatinya dan menuju ke bangkar putra kecilnya. Mata Tania berkaca-kaca saat melihat bayi berusia satu setengah tahun itu kini terbaring dengan banyak alat bantu pernapasan di tubuhnya.
Mata Tania memanas saat menoleh pada Aldo yang kini juga sama seperti putra kecilnya itu. Tania segera memegangi tubuh kecil putra Aldo.
__ADS_1
Tania menitikkan air matanya kala merasakan hembusan napas putra kecil Aldo begitu sesak dan sempit.