Princess Pratama

Princess Pratama
Mahar kedua


__ADS_3

Kendra hanya bisa menghela napasnya saat melihat tatapan menusuk dari lelkai paruh baya berusia 95 tahun itu padanya.


Aku harus bisa berbicara dengan bijak dengan Opa. Jika tidak, maka pernikahanku yang jadi taruhannya. Cukup tiga tahun saja aku ditinggalkan olehnya sampai aku gila! tidak! Cukup sudah! Apapun halangan dan rintangannya, akan aku hadapi! Bismillah! Batin Kendra terus berperang sedari tatapan menusuk itu menghunus padanya.


Papi Tama tersenyum tipis melihat kegalauan diri Kendra yang begitu berat menghadapi Pakdenya itu.


"Katakan yang sebenarnya, Nak. Jujur, walau menyakitkan! Opa suka dengan orang yang jujur dan apa adanya. Jangan takut, papi akan menemani kamu nanti," ucap papi Tama sengaja memberi semangat pada Kendra sang menantu yang kini dilanda gelisah.


Kendra mengangguk dan tersenyum. Senyum manis yang memikat hati seseorang yang kini terpana melihat wajah tampan itu dengan jas dan peci putihnya.


Oma Linda mami Annisa terkekeh melihat sang anak yang tidak berkedip melihat Kendra.


"Jangan terlalu lama menatap suamimu. Nanti, semua anakmu mirip dengannya! Ingat, kamu sedang hamil sekarang!" bisik Mami Annisa yang membuat lamunan Tania buyar seketika.


"Ah, eh, nggak.. Bu-bukan gitu, Mi!" kilah Tania tergagap dan salah tingkah karena ketahuan mami Annisa dan juga Oma Linda.


Kedua orangtua beda usia itu terkekeh, mereka pun segera membawa Tania pada Kendra yang kini duduk mematung dengan raut wajah tegang menunggu dirinya.


"Ehem, ini dia pengantin kita! Masyaallah, cantiknya! Kalau saja kakek masih muda, sudah kakek jadikan istri kamu, Nak!" seloroh kakek Madan yang membuat Tania terkekeh dan tersipu malu karena dipuji cantik.


Kendra yang mendengar ucapan kakek Madan, segera mendongak melihat ke depan. Di mana semua tamu yang ada di dalam hotel itu, menatap lekat pada seorang bidadari cantik yang kini berjalan menuju ke arahnya.


Deg, deg, deg..

__ADS_1


Jantung sepasang suami istri lama rasa baru itu saling bersahutan dan berlomba saat tatapan keduanya bertemu. Kendra terpana melihat pujaan hatinya itu begitu cantik dengan kebaya yang ia gunakan saat ini.


"Masyaallah, cantiknya istriku!" gumamnya lirih tetapi, semua orang bisa mendengarnya.


Kendra berdiri dan menyambut Tania yang kini menunduk tersipu malu karena dipuji oleh cintanya.


Para tamu undangan yang mendengar gumaman Kendra tersambung melalui mikrofon kecil yang terselip di kerah bajunya itu, terkekeh-kekeh. Kendra tidak sadar. Ia seakan lupa tentang benda kecil yang kini di kerah leher bajunya itu.


Kendra tersenyum lembut saat Oma Linda menyerahkan Tania padanya.


"Terima kasih Oma, Mami." Ucap Kendra yang diangguki oleh keduanya.


Oma Linda dan mami Annisa menuju suami mereka. Kini tinggallah Tania dan Kendra yang saling bertatapan dengan wajah tersenyum bahagia.


Dengan di saksikan oleh semua keluarga dan para tamu, Kendra kembali mengulang doa untuk Tania. Doa yang pernah ia lantunkan dulu setelah akad nikah tiga tahun yang lalu.


Bahkan mereka mengira jika El merupakan saudara kembar Kendra. Tetapi, bukan. Ziana berdiri dengan kotak mahar milik Tania di tangannya.


Mahar yang sebentar lagi akan diserahkan kepada Tania. Sebelum doa dimulai, El memberikan kotak mahar yang berada di tangan Ziana kepada Kendra yang disambut dengan baik oleh Kendra.


Ia tersenyum. "Terima kasih, Dek!"


El membalas senyumnya dengan tersenyum tampan juga mirip dengannya. "Untukmu, apapun Abangku!" balas El dengan suara bass mengalun lembut di semua penjuru.

__ADS_1


Siapa yang tidak kenal El? Suami Ziana? Menantu seorang Panglima TNI Maulana Akbar? Mereka semua mengenalnya. Tetapi mereka tidak tahu jika El itu merupakan adik Kendra.


Hari ini, barulah mereka tahu semuanya.


"Mahar ini, mahar kedua dari Abang untukmu. Jangan lihat nilainya yang tidak seberapa. Akan tetapi, lihatlah nilai ketulusan dan cinta yang begitu dalam di dalamnya untukmu, istriku Sritania Puteri Pratama!" ucap Kendra sembari memasangkan mahar keduanya di jari, pergelangan tangan serta leher Tania.


Tania terharu sekali. Tanpa sadar, ucapan Kendra baru saja menyentuh hatinya yang paling dalam. Tania terisak. Kendra tersenyum.


Ia segera meletakkan satu tangannya di kepala Tania dan satu lagi ia tadahkan untuk berdoa.


"Bismillahirrahmanirrahim,


Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


"Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan juga terimakasih karena sudah menyempurnakan hidupku dengan memberikanku dua orang putra serta akan menyusul lagi setelah ini. Semoga Allah mengampuni dosamu dan menghadiahkan surga untukmu karena berbakti kepada suami gilamu, ini."


Deg!


Deg!


Spontan saja mata Tania terbuka paksa setelah mendengar ucapan Kendra padanya. Ia menengadah melihat Kendra yang kini tersenyum melihat Tania dengan mata yang sudah mengembun.


Walau bibirnya tersenyum. Tetapi, Tania tahu. Kendra sedang mengucapkan apa yang sebenarnya, ada di dalam hatinya saat ini.

__ADS_1


Ucapan Kendra baru saja membuat ruangan aula itu mendadak sunyi seketika. Ziana memeluk suaminya yang kini juga memeluknya dengan pandangan matanya sudah mengabur melihat pada abangnya itu.


Bibir Tania bergetar melihat tetesan air mata di pipi Kendra.


__ADS_2