Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Malam Pertama Zayn & Jia


__ADS_3

Ehm, sedikit 21+ ye?


********


Malam harinya di kediaman Ummi Alzana dan Abi Prince. Riya dan Zayden tidak keluar sedari siang hingga sore harinya. Zayn dan Jia sedang makan bersama dengan sesekali bercerita keseharian keduanya.


Zayden keluar dari kamarnya menuju meja makan.tibanya di sana sudah ada zayn dan Jia. Jia meliriknya sekilas, ia kembali sibuk dengan makanannya. Melihat Jia yang sedikit jutek padanya, Zayden menghela napas panjang.


"Maaf, Bang, Jia, Riya sedang tidur makanya tidak membantu kalian tadi," lirihnya merasa bersalah.


Jia tidak menjawab, ia menatap abang sepupu sekaligus adik iparnya itu. "Apa yang Abang lakukan pada kakakku? Kamu sudah membuka segelnya? Jika iya, jahat kamu! Lihatlah, jam segini dia tidak keluar sama sekali! Tidak membantuku mengurus tanaman Ummi dan juga peliharaan Abi! Kamu itu, ngerti nggak, sih, posisi kami di rumah ini?" tanya Jia begitu kesal pada Zayden yang kini menunduk.


Zayn diam saja. Ia tidak ingin ikut campur. Karena sedari memasak hingga saat ini, Jia terus marah-marah mengingat Riya tidak keluar dan tidak membantu pekerjaannya sama sekali.


Jjika kamu ingin menghabiskan malammu bersama istrimu, malam ini 'kan bisa? Nggak ada yang ganggu 'kan? Kami pun malam ini Bang Zayden! Sungguh, kamu keterlaluan! Kamu pikir, aku babu di rumahku sendiri? Begitu?" ketus Jia semakin marah pada Zayden yang kini tidak bisa berbicara sepatah katapun.

__ADS_1


"Aku udah kenyang! Selesaikan semua pekerjaan ini! Masuk bang Zayn! Biarkan dia dan istrinya yang sedang menahan sakit itu mengerjakan semua ini! Besok dan lusa adalah tugasnya! Aku ingin bersenang-senang dengan suamiku!" ketusnya lagi sembari menarik lengan Zayn dan menaiki tangga memasuki kamar mereka.


Zayden hanya bisa menunduk pasrah. Riya yang akan keluar tidak jadi. Ia malu mendengar omelan adiknya tentangnya.


"Maaf, Dek. Kakak janji. Besok dan lusa, kakak yang akan menyiapkan semuanya. Ssttt.. Kenapa perih banget, sih? Padahal Ummi udah kasi salapnya? Ini, kok, malah perih? Ishh.. Dasar pusaka suami sialan! Bentuknya aja kayak pisang ambon! Tak tahunya ketika mengacung, kayak rudal Amerika!" geurutu Riya sedikit lirih sambil tertatih menuju ke tempat suaminya berada.


Sedangkan di kamar Jia, saat ini Zayn sedang berusaha menghilangkan amarah Jia dengan mencum bui dirinya. Jia pasrah. Dia sudah siap lahir dan batin jika malam ini, ia memberikan tubuhnya pada sang pemilik hati.


Zayn yang sudah kadung terpancing, tidak bisa menghentikan semua cumbu annya. Zayn, bahkan semakin semangat saat melihat tubuh Jia melengkung seperti busur panah saat ia menyentuhnya.


Jia yang sudah tidak tahan segera menoleh pada Zayn masih dengan kaki terbuka. "Ayo!" katanya yang diangguki oleh Zayn sambil tersenyum.


"As you wish honey!" jawab Zayn dengan segera menyatukan tubuh keduanya.


Pertama kali, Zayn tertegun. Sebab, sangat sempit.

__ADS_1


Kedua kali, Zayn menggeram.


Ketiga kali, Jia mencengkram erat punggungnya.


Ke empat kali..


"Ah..." des ah keduanya bersamaan. Zayn menunduk dan melihat Jia yang kini memejamkan matanya dengan tangan berpegangan erat di lengan kekarnya.


Zayn mencium kedua mata itu. "Buka matamu. Abang nggak suka lihat kamu memejamkan mata seperti itu! nanti perasaan kamu, abang jin pula!" kelakar Zayn sambil terkekeh saat istrinya itu menepuk lengannya sambil tersenyum.


Keduanya larut dalam gelora has rat yang sudah lama terpendam. Erangan suara racauan keduanya bergaung di dalam kamar itu. Zayn tahu, jika kamar Jia sudah di lengakpi peredam suara. Sebab, kamar yang Jia tempati merupakan kamar Oma Annisa saat menginap di sana bersama Opa Tama.


Untuk Riya sendiri, ia menempati kamar Nenek Ira yang juga sudah memiliki peredam suara. Jadi, jangan takut suara keduanya keluar hingga ke luar kamar.


Zayn dan Jia sibuk mereguk manisnya madu pernikahan untuk pertama kalinya setelah empat tahun berlalu.

__ADS_1


__ADS_2