
Zayn dan Zayden yang sednag melamun terkejut saat ponsel keduanyaberdnting pertanda pesan masuk. Keduanya refleks kompak mengambil ponsel dan membaca pesan yang ternyata dari Alish.
Kedua pemuda tampan itu tersentak kala Alish mengatakan jika ia tahu di mana keberadaan kedua istri mereka saat ini. Tanpa berkata sepatah kata pun keduanya berlari menuruni tangga menuju ke lift dan langsung menuju ke kamar Alish.
Alish yang sedang bersiap mengisi bajunya ke dalam koper, tersenyum kala pintu kamar Hotel itu di banting keras oleh kedua abangnya. Kedua pemuda itu menatap Alish dengan napas memburu.
"Bersiaplah, adek akan bawa abang ke tempat kakak ipar malam ini juga!"
Deg.
Deg.
Kedua pemuda teretgun dengan ucapan Alish. Keduanya menatap lekat adik bungsunya itu. Alish yang merasa tidak ada pergerakan dari kedua abangnya, menghela napas sesak.
"Maaf, bukan maksud hati ingin berbohong. Tiga tahun yang lalu, adek pernah melihat kakak ipar di sana saat sekolah kami mengadakan studi tour ke Kairo," ucap Alish sembari mendekati keduanya yang kini lagi dna lagi terkejut mendnegar ucapan Alish.
"Kairo?" ulang keduanya yang diangguki oleh Alish.
__ADS_1
Alish menunduk tanpa berani melihat wajah kedua abangnya itu. "Adek udah pastikan baru saja. Keduanya masih di sana hingga saat ini. Ada salah satu teman Adek yang bekerja bersama kakak ipar," ucap Alish dengan bibir bergetar.
"Ya, Allah, Dek.. Kenapa sekarang adek ngomong, hem?" ucap Zayn begitu lembut yang membuat Alish semakin tidak tahan untuk menumpahkan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Adek nggak bermakud, Bang. Adek ingin ngomong. Tapi, adek tidak ingin kalian marah. Kalian akan menuduhku, kalau aku yang menyembunyikan keduanya. Demi Allah, Bang. Adek nggak tahu jika keduanya di sana. Adek ketemu pun tidak. Adek hanya mengikuti kemana mereka pergi dan di mana alamat mereka berdua. Saat adek tahu, adek lebih terkejut lagi jika keduanya sudah memiliki bayi kembar yang berarti itu anak kalian bukan? Keponakanku?"
Kedua pemuda tampan itu menatap dinding kamar Alish dengan tatapan kosongnya. Zayden tersenyum miris.
"Belum itu itu darah daging kami. Bisa saja kan itu anak dari suami mereka? Secara, selama empat tahun ini kami sudah berapa kali menerima gugatan cerai yang tidak kami gubris sama sekali?"
Deg.
Zayden dan Zayn menuntun Alish untuk di duduk di tepi ranjang miliknya.
"Benar, kedua kakak iparmu sudah beberapa kali mengirimkan surat cerai yang kami tolak. Kami ingin mendengar sendiri dari keduanya. Jika benar keduanya ingin berpisah, maka kami akan mengabulkan dengan cara yang baik-baik. Kami akan mengembalikan kepada keduanya dengan cara baik-baik juga. Untuk itu, kita harus kesana memastikannya. Tak usah beritahu keluarga. Jika kita sudah tiba di sana, kita akan menyuruh semua keluarga untuk datang ke Kairo. Ayo, kita berangkat!" ucap Zayden lagi yang diangguki oleh Zayn.
Alish menangis pilu. Ia tak menyangka jika kebahagian kedua abangnya begitu tragis. Ia memeluk bersamaan kedua abangnya itu. Zayn dan Zayden membalas pelukan Alish tak kalah eratnya.
__ADS_1
Di rasa cukup, Alish segera mengemasi barang seperlunya dan keluar mengikuti Zayn dan Zayden yang juga akan mengambil barang mereka. Malam itu juga Zayn dan Zayden akan terbang ke Kairo demi bisa bertemu dengan kedua istrinya.
Keduanya ingin kepastian. Jikalah keduanya tidak ingin kembali lagi pada mereka berdua, maka keduanya ikhlas. Semua ini sudah keduanya pikirkan sejak empat tahun ini.
Keduanya sadar diri. Keduanya tidaklah sebaik almarhum Opa Gilang dan Opa Tama dalam hal menjadi seorang lelaki san seorang suami. Keduanya memiliki kekurangan.
Alish mengikuti langkah cepat dan lebar kedua abangnya itu. Sambil berjalan ia mengetik pesan untuk Mami Tania.
'Mami, adek harus ke Kairo malam ini bersama Bnag Zayn dan Baan Zayden. Mami jangan khawatir, kami akan mengabarakan untuk apa kami kesana malam ini juga.'
Ting!
Pesan itu masuk ke ponsel Mami Tania yang saat ini sedang ke toilet. Dirinya yang begitu kebelet langsung menuju ke kamar mandi terdekat. Belum lagi ingin buang air, ponselnya berdenting.
Deg.
Deg.
__ADS_1