
Papi Tama pulang dengan hati terluka karena melihat kedekatan Ziana dan Kendra serta Aldo.
"Huffftt.. Malang sekali nasib mu putriku. Baru sekali merasakan cinta, tetapi cinta itu malah memilih cinta yang lain. Papi harap, kamu sabar sayang. Maafkan papi yang tidak bisa berbuat apapun untuk menyatukan kalian berdua.
Ingin papi memaksanya. Tetapi itu tidak mungkin. Kendra sekarang juga sudah menjadi menantu Uwak mu.
Papi harus apa Nak?
Ya Allah.. Inikah yang Annisa rasakan? Sakitnya sungguh tak terkira. Melihat menantu sendiri lebih mementingkan istri keduanya dibandingkan istri pertamanya yang kini baru saja sadarkan diri.
Ya Allah ya Robbi.. Ikhlaskan aku. Lapangkan hatiku. Sungguh, aku tidak sanggup menahan sakit ini. Maafkan Abang, sayang.
Abang baru tahu saat Abang melihatnya sendiri. Ya Allah..." de sah papi Tama dengan segera menyusut bulir bening yang sudah mengalir di pipinya.
Beliau segera berlalu meninggalkan halaman rumah sakit itu dimana Uwak Lana menatap kepergiannya dengan raut wajah sendu.
"Maafkan kami, Bang.. Maafkan kami.." lirihnya dengan leher tercekat.
Uwak Lana masuk kedalam ruangan dimana Kendra sedang menunggunya dengan harap-harap cemas.
Uwak Lana menggeleng sambil menunduk melihat pada Kendra yang membuat Kendra melemah di bangkar nya.
Kendra memejamkan kedua matanya untuk menahan rasa sesak di dadanya. Ziana yang melihat itu hanya bisa memegangi tangan Kendra. Begitu pun dengan Aldo.
Buliran bening mengalir di pipi Kendra yang segera Ziana usap dengan cepat agar Ibu mertua nya itu tidak tahu jika Kendra sedang menangis saat ini.
Kendra memegangi tangan Ziana dan Aldo bersamaan untuk mencari kekuatan disana demi mengurangi rasa lemah dihatinya saat ini.
Kendra tahu jika sang mertuanya yaitu papi Tama sedang kecewa padanya saat ini. Ia tahu, makanya tadi ia memberi kode pada Uwak Lana yang membuat pria paruh baya itu segera mengejar Abang angkatnya itu.
Tetapi apa yang ia lihat tadi? Rasa sakit yang tiada tara merasuki hatinya saat melihat Papi Tama mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya yang membuat dirinya semakin merasa bersalah dan juga Kendra kini semakin dalam rasa bersalahnya terhadap Tania.
__ADS_1
Maafkan Abang, Hunny.. Maafkan Abang.. Batin Kendra dengan mata terpejam erat.
*
*
*
*
Di Singapura.
Papi Tama yang langsung bergerak menuju Bandara, kini sudah tiba di kediaman dimana semua anaknya sedang berkumpul menunggu kedatangannya.
"Abang! Kakak duo Al!" seru Aggam bocah kecil Pangeran Pratama yang begitu mirip dengan papi Tama itu sedang tertawa melihat kedua kakak kembarnya yang cemberut padanya.
"Ih jangan duo Al, adek! Kak Maira sama Kak al! Paham?" tekan Maira pada Aggam yang kini masih berada di gendongan sang papi.
Alzana tertawa melihat Maira mencebik pada adik bungsu nya itu.
"Sini sayangku. Capek nggak tadi naik pesawatnya?" tanya Alzana sambil mengambil alih sang adik yang langsung dibawa keruang tivi dimana mami Annisa dan Tania sudah pulang dari rumah sakit sejak ia kembali sadar tadi pagi.
"Nggak.. Adek nggak capek kok. Adek hanya ngantuk! Pingin bobok sama mami! Mami!!!" pekiknya pada mami Annisa yang kini tersenyum dan merentangkan tangan padanya.
Tania terkekeh melihat adik bungsunya yang berusia lima tahun itu. "Hem.. Titisan papi baru pulang ya sayang? Capek? Mau minum?" tanya sang mami yang tangan itu bergerak memberikan minum pada papi Tama yang kini mendaratkan tuuhnya disamping mami Annisa dan Tania.
"Nggak capek mami. Papi iya!" jawabnya sambil tertawa yang dibalas kecupan banyak di wajah putra bungsunya itu.
Semua yang melihatnya tertawa termasuk Tania yang kini tertawa lepas melihat tingkah adiknya. Tetapi setelah itu, tawa itu surut seketika saat sebuah pesan masuk ke ponselnya yang di kirim oleh nomor Kendra.
Di Video itu menunjukkan dirinya yang kini tidak ingin makan karena di suapi Ziana dan Aldo.
__ADS_1
Maafkan suami kamu, Nak..
Tulisan itu begitu jelas terlihat olehnya. Tania hanya membacanya saja tanpa berniat membalasnya sedikit pun. Setelahnya ia menutup ponsel itu bahkan menonaktifkannya.
Yang membuat seseorang di seberang sana semakin merasa bersalah padanya. Mami Annisa dan papi Tama yang begitu peka terhadapnya segera memegangi tangannya.
Tania menoleh dan tersenyum, "Papi sama mami tenang saja. Kakak tak apa kok. Kakak harus terbiasa sendiri di mulai saat ini. Setelah sembuh, kakak akan terjun langsung di perusahaan kita nantinya. Untuk sekarang, papi sama mami saja yang turun tangan.
Jangan paksa kakak untuk mengharapkan nya kembali pi, mi. Cukup sudah. Kakak akan berusaha melupakannya sedikit demi sedikit walau sebenarnya sulit.
Tetapi kakak tetap akan melakukannya. Ini yang terbaik. Papi sama mami tenang saja. Ya?"
Mami Annisa menatap Tania dengan sendu. "Mami tidak meminta mu untuk melupakannya sayang. Mami hanya takut, hatimu akan terluka begitu dalam melihat kebersamaan mereka berdua. Apakah sebaiknya kamu ganti nomor ponsel saja??" usul mami Annisa yang ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Tania.
"Nggak Mi. Itu bukan cara yang baik. Kalau dari sekarang aku tidak membiasakan diriku melihat mereka berdua, lantas kapan lagi? Bukankah setelah ini kami akan saling berhadapan? Perusahaan kita bekerja sama dengan mereka bukan?"
Mami Annisa mengangguk. "Begini saja. Kamu tetap memegang ponsel itu, tetapi kamu juga harus punya ponsel di sini. Khusus untuk kamu bekerja. Misal, bertemu klien, keluar dan bertemu di tempat lain atau segala macamnya. Kamu harus memiliki dua ponsel. Yang satu kantor, dan yang satu lagi untuk pribadi." Usul papi Tama
Tania mengangguk. "Papi atur saja. Kakak ikut apapun yang papi dan mami katakan. Toh, apa yang orang tua katakan itu selalu benar bukan? Termasuk tentang nya?"
Deg!
Mami Annisa sedikit tercubit hatinya. "Maafkan mami sayang. Mami hanya melihat dari sikapnya saja. Sebenarnya ia pemuda yang baik. Mungkin ia punya misi apa yang jelas mami tidak tahu. Maafkan mami, Nak.. Mami nggak bermaksud.."
"Tak apa Mi. Cepat atau lambat, semua ini akan terjadi bukan? Maka dari itu, kakak harus terbiasa kehilangannya. Dan terbiasa hidup tanpanya.." lirih Tania dengan mata terpejam dan hati yang kembali sesak kala mengingat Kendra yang sudah menjadi milik orang lain. Yaitu adik sepupu nya sendiri.
...****************...
Mampir kesini yok!
__ADS_1