
Setelah rapat itu selesai, kini keduanya sudah bisa menjalani hari-hari biasa seperti baru pertama kali bertemu.
Sudah satu minggu berlalu, kini keduanya semakin dekat saja. Kendra semakin lengket dengan Tania. Walau Tania sering kesal, tetap saja. Kendra malah semakin lengket saja.
"Hunny."
"Hem,"
"Jalan-jalan yuk?" ajak Kendra.
"Kemana? Ini masih siang loh.."
Kendra mendekatkan dirinya pada Tania. "Ayo.. Semenjak kita menikah, belum sekalipun kita jalan-jalan berdua. Ya?"
Tania menghela nafasnya. "Bukan aku tak mau By.."
"Heh? Kamu bilang apa tadi?"
"Eh? Apa? Memangnya aku bilang apa sama Abang?"
Kendra menatap lekat pada mata bulat bening Tania yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap kali melihat mata bulat bening nan teduh itu.
Kendra tersenyum. "By.. Bagus juga! Abang suka itu. Tapi Abang lebih menyukai panggilan mu yang seperti biasanya, Abang. Satu kata istimewa yang selalu melekat di hati!"
Tania tersipu. Ia memukul ringan lengan Kendra yang kini tergelak melihat wajah merahnya.
__ADS_1
"Hahaha.. Kamu kenapa hunny? Pipi kamu kok merah?" godanya lagi pada Tania yang kini segera memeluk erat tubuhnya.
Berulang kali Tania memukul tubuh Kendra, tetap saja pemuda tampan nan jangkung itu masih saja suka menggodanya.
"Hunny??"
Plak.
"Hahaha.."
"Udah ih!" ucap Tania begitu malu pada Kendra saat ini masih saja menertawainya.
Kendra sangat puas jika sudah menggoda Tania. Karena pipi kemerahan Tania yang sangat Kendra sukai.
"Hunny.." Tania mendongak melihatnya. "Teruslah seperti ini. Jangan berubah walau apapun yang terjadi. Abang tidak mau jika kamu benci atau apapun itu terhadap Abang. Karena kamulah kelemahan Abang." Ucap Kendra pada Tania yang kini menatap lekat padanya.
"Ya, Abang tahu. Tapi Abang mohon. Jangan pernah berubah sekalipun kamu terluka karena ulahku yang tanpa sengaja terjadi. Jika itu sampai terjadi, maka Abang pastikan! Itulah terakhir kali kamu melihat Abang waras!"
Deg!
Tubuh Tania bergetar. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh berisi Kendra yang saat ini sudah lumayan berisi dari pada seminggu yang lalu.
"Dengar Bang. Kamu tidak perlu khawatir aku akan berubah atau tidak. Yang kamu khawatirkan itu diri kamu sendiri. Bagaimana jika suatu saat nanti kamu yang berubah?"
Deg!
__ADS_1
"Bagimana jika suatu saatnya nanti kamu yang berlaku seperti itu? Akankah kamu masih bisa mengatakan hal ini?"
Kendra menatap Tania dengan sendu. Tetapi binar cinta begitu terlihat di matanya.
"Sampai kapan pun abang tidak akan berubah Hunny! Hanya kamu yang Abang mau dan Abang inginkan! Bukan yang lain!" tegas Kendra menatap lekat pada Tania yang kini menghela nafasnya.
"Pernikahan kita hanya sebentar sayangku. Saat waktunya tiba nanti, kamu tetap akan berpisah dariku. Itu tidak bisa ditolak dan di undur lagi. Bukankah kamu sendiri sudah menyetujui hal itu? Toh, walau aku menentangnya. Kamu tetap akan menikah juga dengan sepupuku bukan?" Kendra menggeleng.
"Abang tidak mau berpisah dengan mu Hunny.."
"Berarti Abang tetap memadu diriku dan adik kesayanagn ku Ziana??"
Kendra memejamkan kedua matanya. Inilah yang ia takutkan sedari dulu. Tetapi kedua orang tuanya bersikeras tentang hal ini.
"Abang terpaksa Hunny. Kamu hidupku. Sedangkan Ziana perusahaan ku. Dua hal yang tidak bisa aku hindari. Kamu dan perusahaan ku. Dua-duanya aku mau. Aku tidak bisa memilih salah satu. Akan seperti buah simala kama aku jadinya. Mengertilah posisiku hunny.."
Tania tetap memeluk tubuh jangkung itu. Ia tidak bisa menjawab itu sekarang, biarlah waktu yang akan menjawabnya seperti apa nantinya.
Yang jelas, setiap detik, menit dan jam akan Tania jadikan kenangan bersama Kendra. Sebelum Kendra menikahi Ziana. Sepupunya.
...****************...
...Assalamu'alaikum.....
...Selamat pagi!!!...
__ADS_1
...Hehehe.. Author cuma mau ngucapin Selamat Hari raya Idul Fitri. Minal Aidin Walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin 🙏....
...Maaf ye, baru bisa nulis lagi. Maklum. Namanya juga hari raya kan ya? So, jangan lupa ikutin terus kisah Tania yang belum jelas ini!...