
Setelah kepulangan mereka dari Singapura, kini satu keluarga itu bekerja sama mengurus Kendra yang kini belum sadarkan diri.
Hari-hari yang mereka lewati selalu mengurus dan merawat Kendra yang katanya koma setelah dokter memeriksanya.
Lagi dan lagi, hal serupa terjadi pada Kendra. Ia pingsan kemudian jatuh dan tidak sadarkan diri lagi. Seolah tumpuan hidupnya kini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ia hidup, hanya sebatas raga tapi tanpa nyawa.
Dengan kata lain, semangat hidupnya sudah tiada semenjak ia melihat Tania di kuburkan. Ziana sangat sakit melihat itu. Hari demi hari ia mengurusi Kendra dengan baik.
Setiap pulang sekolah, Ziana langsung pulang kerumah dna menemani Kendra yang saat ini berada di dalam kamarnya dan juga diranjangnya. Ia tidak pernah sekalipun melewatkan tentang mengurus Kendra.
Letih dan lelah tubuhnya tidak ia pedulikan. Yang penting baginya Kendra. Suaminya. Kini, ia sudah terbiasa mengurus Kendra yang saat ini belumlah sadarkan diri sejak terakhir kali ia melihat Kendra mengamuk dan meraung kala jenazah Tania dikuburkan.
Ziana menghela napasnya saat menatap wajah kuyu Kendra yang semakin tidak terurus dan begitu tirus.
Ziana selalu menangisi hidup Kendra yang entah sampai kapan sadarnya. Ia hanya bisa meminta kepada Allah, agar suaminya itu sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala.
Sudah tiga bulan berlalu. Tetapi Kendra masih belum juga sadarkan diri. Ia tetap berdiam diri dan sangat betah dalam tidurnya.
Ziana melihat kalender, ia menghela napasnya berulang kali. Rasa sesak di dadanya terus menghimpit paru-parunya hingga sulit untuk bisa bernapas lagi.
"Hufffttt.. Sudah tiga bulan berlalu. Dan hari ini sudah seratus hari tepatnya kamu pingsan dan kamu koma Bang Kendra. Tidakkah kamu ingin bangun? Tidakkah kamu ingin melihat kami yang selalu menunggumu?
__ADS_1
Apakah hidupmu hanya untuk kakak saja? Lantas, apa gunanya aku kamu nikahi? Apa gunanya aku di hidupmu? Sementara kamu tidak mengizinkan ku untuk berbakti kepadamu? Huh?
Tega kamu bang! Yang kamu pikirkan hanya kak Tania saja! Aku sakit melihatmu seperti itu! Tetapi tak apa. Kakak ku sudah tiada kini. Dan itu artinya.. Kamu sudah seutuhnya menjadi milikku!
Kamu suamiku! Sampai kapanpun, kamu tetap suamiku. Hahaha.. Aku puas dan sangat berterimaksih kepada Allah! Karena takdirnya, membuat kamu berpisah dari kak Tania! Hahaha.. Aku senang sekali!" katanya dengan mata berbinar senang.
Ia terus saja tertawa tanpa menyadari jika kedua tangan Kendra mengepal dengan erat dengan mata bergerak cepat. Napasnya memburu.
Ziana masih saja tertawa memikirkan jika ini nasib yang bagus untuknya.
"Kamu tahu bang Kendra? Aku senang karena akhirnya kakak sepupu ku mati! Dan itu sangat membuatku beruntung! Aku akan menjadi istri kamu satu-satunya! Hahaha.. Senang sekali hatiku!" katanya lagi dengan tangan terkepal erat memegangi gamisnya.
"Baguslah kalau dia mati! Dan itulah yang aku minta sama yang Kuasa. Dan Allah mengabulkannya untukku! Huh! sungguh malang nasib mu kakak ku tersayang? Baru satu bulan menikah, tetapi sudah di duakan oleh suaminya! Dan dalam waktu tiga bulan, kamu mati!"
Deg!
Deg!
"Dan tidak akan pernah kembali lagi! Hahahaha.." Ziana tertawa terbahak dengan kepala mendongak ke atas.
Tanpa diketahui olehnya, Kendra kini sudah membuka matanya dan menatap Ziana dengan tatapan dingin dan menghunus jantung.
__ADS_1
Ia terus menatap lekat pada Ziana. Gadis kecil yang baru saja berumur genap tujuh belas tahun dihari ia sadar dari komanya.
Mereka sekeluarga baru saja mengadakan acara selamatan untuk umur Ziana yang kini sudah memasuki usia tujuh belas tahun. Yang artinya, Kendra sudah bisa untuk menggaulinya. Seperti perjanjiannya dengan Uwak Lana ketika menikahi Ziana dulunya.
Kendra bersyukur bisa menikah dengan gadis kecil nan baik itu. Tetapi apa yang baru saja ia dengar, sangat bertolak belakang dengan sikapnya.
Ternyata Ziana tidak sebaik yang Kendra kira. Sekarang, Kendra jadi tahu seperti apa sikap Ziana yang sebenarnya. Gadis kecil yang bermuka dua.
Di depan terlihat baik, tetapi di dalam? Ia seperti racun dan sembilu yang begitu tajam. Hingga jika tergores sedikit saja langsung terluka dan membuat mangsanya itu mati disaat itu juga.
Begitulah yang Kendra rasakan saat ini. Ia jadi tahu sifat Ziana yang sebenarnya. Gadis kecil nan lugu, tetapi seperti bisa yang mematikan.
Rasa sayang yang sudah tumbuh dihati Kendra, kini lenyap seketika kala mendengar ucapan Ziana baru saja untuk istri tercintanya.
'Aku salah karena telah menikahi wanita bermuka dua sepertimu! Keputusanku sudah bulat! Tapi tunggu sampai diriku benar-benar pulih, maka kamu akan tahu apa yang akan aku lakukan padamu! '
Batin Kendra dengan segera memejamkan matanya saat Ziana kembali menoleh padanya dengan tatapan sendu dan juga nanarnya.
Ia mengusap buliran bening yang mengalir di pipinya. Ziana bangkit dan segera berlalu. Meninggalkan Kendra yang kini kembali membuka kedua matanya dan melihat punggung gadis kecil yang sudah membuatnya dirinya kecewa.
...****************...
__ADS_1