Princess Pratama

Princess Pratama
Didatangi Paman Kevan


__ADS_3

Jam sepuluh malam di Kediaman Uwak Lana.


Setelah tahu jika Kendra sudah siuman dan juga dampak buruk yang akan ia dapatkan kalau Kendra kembali tertekan hati dan pikirannya, kini semua orang sudah kembali lagi ke kamar masing-masing.


Hanya tersisa Ummi Mutia dan Ziana yang masih setia menunggu Kendra yang terlelap karena pengaruh obat.


Ummi Mutia menatap nanar pada putranya dan juga menantu keduanya yang kini melamun. Mata itu menatap nanar pada Kendra. Tetapi Ummi Mutia tahu.


Jika menantu keduanya itu sedang melamun. Lama Ummi Mutia di kamar Kendra dan Ziana. Hanya ada kesunyian yang terdengar di dalam ruangan luas bernuansa pink itu.


Lelah menunggu Ziana berbicara, Ummi Mutia buka suara.


"Zia.."


Deg!


Ziana terkejut saat mendengar suara Ummi Mutia di telinganya. Ia menoleh, "I-iya Ummi? Ummi butuh sesuatu?" tanyanya dengan sedikit gugup.


Mata itu menunduk seiring senyum teduh Ummi Mutia padanya.


"Maafkan Ummi ya Nak? Ummi salah sama kamu. Gara-gara Ummi, kamu jadi terlibat dengan keluarga kami. Seharusnya kamu saat ini sedang dalam masa belajarmu. Dan juga.. Menunggu kedatangan seseorang yang selama ini begitu ingin bertemu denganmu.." lirihnya begitu pelan di akhir kalimatnya yang membuat Ziana segera menoleh padanya.


"Maksud Ummi? Siapa yang ingin menemuiku?"


Deg!

__ADS_1


Ummi Mutia terkesiap mendengar ucapan Ziana. Ia gelagapan ingin menjawab apa. Ia pikir, ucapan terakhirnya yang begitu pelan tidak terdengar oleh Ziana.


Beliau memaksakan senyum sambil menyentuh tangan Ziana. "Nggak.. Ummi Nggak ngomong kayak begitu kok. Ummi hanya sedang berfikir tentang kakak kamu saja. Ummi merasa sangat bersalah padanya. Andai.. Andai kakak kamu masih hidup. Ummi ingin meminta maaf padanya.." Lirihnya mendadak sendu dengan dada yang lumayan sesak.


Ziana menghela napasnya. "Semuanya sudah berlalu Ummi. Tidak perlu di sesal lagi. Aku tidak apa jika terjebak dalam pernikahan rahasia ini. Semua ini aku lakukan demi kakak ku. Untuk itu, Ummi tidak usah khawatir. Walau aku tidak bisa menggantikan posisi kakakku, aku akan tetap menemaninya hingga ia sembuh," ujar Ziana dengan menatap Kendra yang kini memejamkan matanya.


"Dan.. Kalau ia sudah sembuh. Ia ingin memutuskan hubungannya denganku, aku ikhlas Ummi." Lanjut Ziana lagi yang membuat Ummi Mutia semakin tidak enak pada putri sulung cinta pertamanya itu.


Ada hal yang tidak kamu tahu, Nak. Belum saatnya kamu tahu. Kamu akan tahu pada waktu yang tepat.


Batin Ummi Mutia melihat Ziana dan Kendra dengan tatapan nelangsa dan rasa bersalahnya. Ia membuka ponselnya saat sebuah pesan masuk.


Bibirnya menyunggingkan senyum manis saat membaca pesan itu. Ia berdiri. "Ummi istirahat dulu ya? Besok, Ummi harus pergi pagi-pagi sekali ke markas Kendra. Ada yang harus Ummi kerjakan disana."


Ia tersenyum dan mengusap kepala Ziana. "Istirahatlah."


"Ya," jawab Ziana dengan mata menatap datar pada Kendra yang kini masih terlelap sejak habis makan malam yang disiapkan oleh Ummi Mutia tadi.


Ia tidak mau makan kalau Ziana yang menyediakannya. Dan Ziana paham akan hal itu. Makanya tadi, ia meminta Ummi Mutia yang melakukannya.


Tanpa bertanya ada apa, Ummi Mutia pun mengangguk setuju. Tidak sekilas pun Kendra melihat Ziana yang membuat gadis itu begitu sakit melihatnya. Tetapi ia tetap sabar.


Karena semua itu hanya sebentar lagi. Ia menunggu Kendra mengambil keputusan apa untuk hubungan keduanya.


Ziana pun membaringkan di sofa yang muat untuk tubuh kecilnya. Mata yang mengantuk karena hati yang lelah, tidak butuh waktu lama untuk terlelap.

__ADS_1


Ziana semakin lama semakin terlelap saat aroma dari pengharum ruangan di kamar Kendra berfungsi dengan baik.


Ia terlelap dengan pulas. Begitupun dengan semua orang dirumah itu. Tetapi tidak dengan Kendra.


Sejak ia merasakan napasnya terasa sesak, Kendra bergerak cepat. Ia segera menutup hidungnya dengan handuk kecil yang sudah ia basahkan dengan minuman yang terletak di atas nakas.


Ia tahu ada yang tidak beres dengan pengharum ruangan di kamar Ziana.


"Ada apa? Kenapa aku merasa jika pengharum ini seperti obat tidur? Jika terhirup oleh hidung akan langsung menuju pernapasan dan juga ke otak. Yang membuat otak langsung berhenti sejenak dan memilih untuk tidur. Sejenis obat bius??" gumam Kendra dari sebalik handuk basahnya itu.


Ia berusaha duduk dan melihat sekitar. Matanya melihat seseorang di balkon tepat di sebelah jendela kamar Ziana sedang menyeringai tajam padanya.


Deg!


Deg!


"Abi??" ucapnya dengan hidung dan mulutnya yang masih tertutup handuk basah itu.


Seseorang yang dipanggil abi itu mendekat padanya dan menyeringai sinis.


"Apa kabar putraku?? Kamu sudah sadar? Sudah siuman ternyata.. Baiklah! Ayo kita mulai permainan ini Kendra Wiryawan!" ucapnya dengan seringai sinis tetapi begitu menakutkan.


...****************...


Hayoo.. Apa yang akan terjadi?

__ADS_1


__ADS_2