Princess Pratama

Princess Pratama
Pergi


__ADS_3

"Hiks.. Kakak.. Dengarkan adek dulu-,"


"Pulang Ziara Puteri Maulana!" tegasnya lagi yang membuat Ziana tertunduk.


Ia mundur dan berjalan terlebih dahulu meninggalakn Kendra yang kini kembali memeluk erat tubuh Tania.


"Hunny.. Jangan begini. Aku bisa mati jika kamu menolakku!"


"Sedang aku sudah mati sejak kamu mengatakan jika kamu akan menikahi adik sepupuku!"


Deg!


"Hunny...."


"Pergilah tuan muda! Tempatmu bukan disini lagi!"


Kendra menggeleng. "Aku nggak akan pergi!"


"Baik, berarti aku yang pergi dari rumah ini! Dan kamu bisa bebas tinggal dirumah kedua orang tuaku! Papi, mami. Kakak pergi!"


Deg!


Deg!


"Berhenti Tania!" seru Kendra dengan suara melengking yang membuatnya terjingkat kaget.


Kaki itu berhenti seketika.


"Kamu ingin aku pergi? Baik! Aku pergi! Tapi aku pergi untuk kembali! Bukan untuk meninggalkan mu!"


Deg!

__ADS_1


Tania memejamkan kedua matanya. Rasanya luruh semua tulangnya mendengar ucapan Kendra yang begitu dingin padanya.


Kendra mendekatinya dna meninggalkan koper itu disana. Ia berdiri tepat dihadapan Tania yang kini menatap lurus ke depan.


Tanpa sedikitpun melihat padanya yang kini berada di hadapannya.


Kendra memegang kedua pipi Tania yang basah dengan air mata yang terus bercucuran tanpa henti.


Kendra memajukan wajahnya. Nafas hangat Kendra menerpa wajah Tania yang kini menatap dada itu dnegan tatapan kosongnya.


Haru nafas yang akan ia rindui setelah ini.


Cup.


Cup.


Cup.


Tania tetap diam saja.


"Abang pergi untuk kembali. Persiapakan dirimu untuk malam pertama kita. Setelah Abang menikahi Ziana, Abang akan bermalam dengan mu. Bukan dengannya. Untuk saat ini, Abang akan menuruti kemauan mu. Kamu ingin Abang pergi? Baik. Abang akan pergi. Pergi untuk kembali. Bukan untuk meninggalkan mu. Kamu istriku Sritania! Selamanya akan seperti itu! Tidak akan ada yang berani merubahnya! Cup." Kecupan terakhir ia labuhkan di kening Tania yang membuat Tania menatap kosong kepergiannya.


Kendra pergi setelah berpamitan pada semua orang. Uwak Lana mengikutinya. Ia menatap nanar pada Tania yang kini seperti mayat hidup.


Hidup seperti tidak bernyawa. Hidupnya sudah pergi darinya. Papi Tama memeluk putri sulungnya untuk memberi kenyamanan pada putri sulungnya itu.


Mami Annisa mengikuti Uwak Lana yang kini mengikuti Kendra dnegan tergesa. Bukannya amsuk ke mobil, tetapi Kendra malah berjalan melewati mobil miliknya hingga keluar dari pagar rumah mami Annisa.


Mami Annisa masih saja mentap datar pada Abang nya itu. Ziana mematung melihat kepergian Kendra.


"Masuk Kak! Kita harus kejar calon suami kamu !" katanya pada Zia yang kini masih menatap Kendra berjalan seorang diri tanpa menoleh lagi ke belakang.

__ADS_1


"Itulah yang terjadi pada menantu ku dan putrimu! Akibat ke egoisan mu yang memaksa keduanya menikah, harus berakhir seperti ini. Selamat bang! Kamu berhasil menghancurkan tiga jiwa anak manusia dalam waktu yang sama sekaligus! Kamu egois bang Lana!"


Deg!


Uwak Lana menatap nanar pada mami Annisa yang kini berlalu setelah mengucapkan kata menohok itu untuknya. Ziana menatap nanar pada sang mami yang sedari ia datang sudah tidak ingin melihatnya.


Ziana menunduk.


Sadar jika Kendra akan semakin jauh dan keluar dari komplek perumahan itu, Uwak Lana segera memutar mobilnya mengejar Kendra yang kini entah kemana.


Sementara di dalam rumah papi Tama, kini Tania sednag beberes kamarnya. Dimana semua barang Kendra ia singkirkan.


Tania tidak ingin lagi ada barang peninggalan Kendra di kamarnya. Papi Tama dan Mami Annisa sudah lelah membujuknya.


"Sudah Nak. Kendra masih suami kamu. Cukup Nak!" cegah mami Annisa pada Tania yang kini terus membereskan semua barang Kendra.


Lalu ia masukkan ke dalam sebuah koper milik Kendra yang ia bawa langsung dari rumah sakit saat kembali dari sana.


Tania tidak menghiraukan ucapan kedua orang tuanya. Baginya, semua barang itu harus ia singkirkan dari kamarnya.


Karena ia tidak ingin melihat lagi semua barang peninggalan Kendra di kamarnya.


Setelah selesai, ia segera memnaggil saudara kembarnya untuk mengantarkan barang itu kerumah Uwak Lana.


Mami Annisa melarangnya. Tetapi Tania bersikeras. Akhirnya beliau mengalah. Barang itu segera Danis antarkan kerumah Uwak Lana dimana Kendra saat ini berada sedang duduk berdua dibalkon atas bersama Ziana.


Keduanya sedang saling tertawa. Namun, tawa itu terhenti saat melihat Danis datang dengan semua barangnya dirumah Tania.


Kendra menghela nafasnya. Ia tidak beranjak sedikitpun dari sana. Begitu pun dengan Ziana.


Danis memeberikan barang itu pada mami Maura. Beliau tertegun ketika menerima sebuah kotak yang merupakan mahar untuk Tania tiga Minggu yang lalu sekarang Tania kembalikan.

__ADS_1


"Katakan pada Kendra, Wak. Jika tidak sanggup berbagi, setidaknya habiskan dulu satu. Jika yang satu itu sudah mati, baru boleh dia menikah lagi! Abang pulang!" ucapnya pada Uwak Maura yang di jawab dengan keterdiaman Uwak Maura karena tertegun dengan kotak mahar pemberian Kendra Untuk Tania kini berada di tangannya.


__ADS_2