Princess Pratama

Princess Pratama
Season 3 ( Spesial Part Dzaka & Dzaki )


__ADS_3

Sementara itu di kamar Dzaki, keduanya sedang tertawa bersama karena Riana yang kegelian akibat ulah Dzaki. Dzaki memang usil sedari Riana mengenalnya. Abang sepupunya itu selalu suka menggoda dirinya dan membuatnya selalu tertawa. Seperti saat ini.


"Udah, ih! Sakit perutku!" kata Riana masih dengan tertawa.


Dzaki tersenyum menatap istrinya itu. Keduanya sudah selesai melaksanakan sholat isya sekaligus sholat sunnah untuk penyatuan keduanya. Dzaki sengaja membuat istrinya itu rileks sebelum menuju puncak nirwana. Ia yakin, kalau saat ini Dzaka, abang kembarnya sudah merasakannya. Sementara dirinya?


Sedang berusaha membuat Riana nyaman dan tidak takut dengan sentuhannya. Ada hal yang membuat Dzaki melakukan hal seperti ini. Dzaki menyentuh pipi Riana yang membuat adik sepupu sekaligus istrinya itu, menoleh padanya.


Dzaki tersenyum yang di balas senyum oleh Riana dengan pipi merona. Dzaki sangat suka melihat pipi merona itu.


"Dengar, Dek. Abang tahu, kamu memiliki trauma masa lalu tentang hal ini saat kamu masih SMP dulu. Untuk itu, sebelum kita memulainya, abang ingin memastikan dulu, apakah kamu sudah siap untuk menjadi seorang istri dari Dzaki Putera Haryawan?" tanya Dzaki sembari menatap lekat pada Riana yang kini menengang tubuhnya.


Dzaki menyentuh pipi Riana dengan lembut. "Jangan takut, abang suami kamu saat ini. Sama seperti yang pernah abang lakukan dulu padamu saat kamu di jamah oleh mereka. Tak ada yang tahu dengan itu selain kita berdua," lirih Dzaki merasa bersalah melihat tatapan mata Riana yang kini berkaca-kaca padanya.


"Apa yang akan abang lakukan jika kemarin, Mami dan Abi tidak membongkar kebusukan calon istrimu? Jika calonmu itu baik, tentulah kamu menikahinya bukan? Lalu, bagaimana denganku yang sudah pernah kamu lihat walau tidak pernah kamu nikmati, hem?"

__ADS_1


Deg.


Deg.


Dzaki menunduk. Bibirnya bergetar. "Maaf," cicit Dzaki yang membuat Riana tersenyum dengan tetesan buliran bening yang sudah mengalir di pipinya.


"Aku tahu, kamu menikahiku karena rasa tanggung jawab dan rasa bersalahmu padaku. Aku sadar diri. Diri ini tidak sesuci wanita pilihanmu. Aku kotor. Sudah ternoda sebelum waktunya. Aku hidup dan bertahan karena mengingatmu. Aku pikir, kamu mau menikah denganku setelah dewasa. Tetapi, apa yang aku lihat kemarin dan aku dengar begitu melukaiku. Aku pasrah. Aku ikhlas, melepasmu untuk orang lain. Mungkin, aku memilih hidup sendiri setelah melihatmu menikah dengan gadis lain.." lirih Riana dengan leher tercekat.


"Sekiranya kemarin kamu menikah dengan wanita itu, aku pastikan. Itulah terakhir kali kamu mengingat dan melihatku!"


Deg.


"Nggak! Kamu nggak boleh pergi dariku! Baik, aku yang akan menghapus semua jejak laki-laki itu di tubuhmu! Sekarang dan selamanya, tubuh dan hatimu, milikku! Milik Dzaki Putera Haryawan!" ucapnya dengan tegas dan segera mengecup putik ranum yang kini memerah karena terisak itu.


Buliran bening terus mengalir di pipi keduanya tetapi, Dzaki tidak sedikit pun berniat ingin menghentikan aksinya untuk membersihkan tubh istrinya itu.

__ADS_1


Riana memejamkan matanya kala kilasan bayangan seorang pemuda dewasa menjamah setiap tubuhnya hingga tubuhnya bergetar. Dzaki tidak peduli. Hanya itu cara membuat Riana menghapus trauma itu.


Dzaki mengecup, memagut dan menghisap apapun yang ia temui. Sementara Riana, semakin terisak. Dzaki mendekakati wajahnya dan mengecup kening Riana.


"Buka matamu. Jangan memejamkan mata, agar kamu tahu siapa pemuda yang saat ini sedang menyentuhmu!" ucap Dzaki begitu lembut yang membuat Riana spontan saja membuka kedua matanya yang masih belinangan buliran bening itu.


"Tatap aku! Lihat, apapun yang abang lakukan padamu!" titah Dzaki dengan suara lembut yang membuat Riana mengangguk dan tersenyum. Dzaki terus bergerak lincah di tubuh Riana untuk memberikan sensasi lain di tubuh istrinya itu.


Tangan Riana memegang serpei putih miliknya dengan tangan bergetar. Tetapi, matanya tidak terpejam sama sekali. Mata itu terus menatap Dzaki yang kini sedang menikmati setiap inci tubuhnya.


Riana melengu dan mende sah dengan mata terbuka. Dzakki tersenyum. Ia sedang menikmati ladnag surgawi miliknya yang beum pernah di sentuh oleh siapa pu. Laki-laki yang pernah melecehkan Riana, hanya menyentuhnya sekitar dada dan wajah Riana saja. Walau saat itu tangan pemuda dewasa itu sempat menyentuh pusat tubuhnya tetapi, tidak sampai melakuka penyatuan yang seperti Dzaki lakukan saat ini.


Riana memekik kuat kala tubuhnya di terobos oleh Dzaki masih dengan mata terbuka. Dzaki tersenyum saat miliknya sudah berada di dalam tempat yang seharusnya.


Dzaki segera bergerak sesuai dengan nalurinya. Keduanya bersatu dan melebur menjadi satu. Sangat ulit untuk menghilangkan trauma yang sidah menahun itu.

__ADS_1


Akan tetapi, Dzaki yakin. Ia bisa menyembuhkan trauma istrinya yang hampir di per kosa kala ia kehilangan jejak Riana saat di pasar malam dulunya.


__ADS_2