
Acara pernikahan dadakan itu membuat keluarga begitu bahagia. Para tetangga mengira keduanya sedang mengadakan acara perkumpulan keluarga. Tetangga sengaja tidak di undang, hanya yang terpercaya saja yang di undang. Takut, jika keduanya di keluarkan dari sekolah nantinya.
Saat ini keduanya baru saja selesai sekolah SMP. Dan masih dalam waktu berlibur. Sedangkan Zayn dan Zayden sedang kuliah saat ini. Rencananya setelah selesai disana, mereka berdua harus terbang ke Amerika untuk melanjutkan sekolah bisnis mereka berdua.
Dan itulah yang saat ini sedang menjadi perdebatan keluarga dan pengantin laki-laki yang baru saja menyelesaikan ijab qobul keduanya. Riya dan Jia hanya bisa diam mendengarkan perdebatan semuanya.
Mereka berdua duduk di pelaminan serba putih yang sengaja di buat untuk kedua pasangan itu. Karena mami Tania akan mengadakan pernikahan ulang untuk keduanya nanti setelah lulus dari sekolahnya.
Keduanya sudah membuka niqob mereka. Karena yang tersisa hanya para orangtua saja. Sedangkan sepupu laki-laki mereka sudah menghilang entah kemana.
"Kalian akan bersama setelah ini. Tapi, ingat! Abi tidak ingin kalian menyentuh mereka sampai batas waktu yang kami tentukan, paham?" ucap Abi Prince yang di jawab dengan keterdiaman kedua laki-laki muda itu.
"Kalau misalnya saat mereka sudah berumur tujuh belas tahun boleh?" tanya Zayn
"Hooh, atau saat mereka lulus?" timpal Zayden pula yang membuat Abi Prince hanya bisa mengurut pelipisnya.
__ADS_1
"Inilah yang aku tidak inginkan sedari dulu. Jika sudah menikah, otomatis keduanya meminta hak mereka! Bukan tidak boleh. Akan tetapi, menahannya sebentar saja. Abi takut, kalian ke blablasan!" ucap Abi Prince menghela napas berat melihat kedua keponakan sekaligus menantunya itu.
Kembar sulung menunduk. Keduanya membenarkan apa yang abi mereka katakan. Jika keduanya sudah berhubungan, tidak menutup kemungkinan jika keduanya akan segera hamil. Sedangkan keduanya masihlah SMA?
Mami Tania melirik Abi Kendra yang kini mengangguk dan tersenyum padanya. "Prince, kamu tidak bisa melarang keduanya. Keduanya itu sudah sah. Tak ada salahnya keduanya melakukan hal itu. Lagipun, kita bisa menundanya bukan? Kamu dan Alzana dokter, Tania juga. Kalian bertiga tahu apa yang seharusnya kalian lakukan!" ucap Abi Kendra menengahi perdebatan tentang pengantin baru itu.
Si sulung tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Abi mereka. Sementara si kembar Riya dan Jia hanya menatap kedua suaminya itu dengan bingung.
"Kakak tahu apa yang mereka bicarakan? Apanya yang di tunda? Hubungan apa, sih, Kak?" bisik Jia di telinga Riya yang kini menggeleng juga menjawab ucapan saudarinya itu.
Waktu terus berjalan dan perdebatan alot itu terus terlaksana. Hingga adzan maghrib berkumandang, barulah semuanya bubar. Jia dan Riya memasuki kamar mereka berdua. Kamar yang bersebelahan. Zayn dan Zayden pun ikut masuk ke kamar istri mereka. Tak ada yang tertukar. Keduanya seakan tahu di mana istri mereka berada. Padahal kedua orangtua tidak mengatakan apapun pada mereka saat itu.
Keduanya masuk langsung merebahkan tubuhnya di ranjang ratu milik istri mereka. Ingin terlelap tetapi, mereka harus melaksanakan kewajiban dulu.
Keduanya pun melakukan ibadah bersama. Begitu pun dengan Riya dan Zayden. Setelah selesai, kedua istri itu keluar untuk mengambil makan malam untuk suami mereka yang enggan keluar setelah perdebatan alot itu terjadi.
__ADS_1
Riya dan Jia hanya tersenyum saja saat sepupu mereka menggoda keduanya. Mereka tidak peduli. Bagi mereka, melayani suami terlebih dahulu. Itu yang ummi mereka ajarkan.
Selesai makan malam, keduanya duduk bersandar di kepala ranjang. Zayn yang melihat Jia memegangi ponselnya segera mengambil ponsel itu dan merebahkan kepalanya di pangkuan Jia yang terkejut dengan perbuatan reflek suaminya yang merupakan abang sepupunya itu.
Zayn tersenyum. "Kok, terkejut, sih? Lupa, kalau abang suami kamu?" ucapnya sambil mengusap lembut surai hitam milik Jia yang sepanjang pinggang itu.
Jia menggeleng dan tersenyum. "Nggak lupa, kok. Hanya saja.. Terkejut! Hehehe.. Selama dua minggu kita menikah, abang 'kan nggak pernah masuk ke kamar ini? Abang sama Bang Zayden selalu tidur berdua di kamar ujung bukan?" balas Jia yang diangguki dengan tersenyum oleh Zayn.
"Hem, kita nggak bisa ngapa-ngapain malam ini dan seterusnya. Hanya bisa tidur dan begini saja," keluh Zayn sekaligus protes dengan perbuatan abinya itu pada Jia yang tidak paham akan apapun itu.
"Maksudnya?" tanya Jia yang mmebuat Zayn kembali membuka kedua matanya dan menatap lekat pada Jia yang kini juga menatapnya.
Zayn tersenyum. "Bukan apa-apa. Sebaiknya kita sholat, abang lelah. Ingin tidur di peluk kamu. Boleh?" katanya pada Jia yang seketika pipi itu merah merona karena malu.
Zayn terkekeh. Ia gemas dengan Jia yang malu padanya seperti itu. Ia duduk dan menghadap pada Jia. Ia layangkan kecupan singkat di dahi Jia sebelum ia turun untuk berwudhu yang membuat Jia malu sendiri.
__ADS_1