
El yang ditatap sedemikian rupa, malah menoleh ke sembarang arah. Aldo dan kendra terus terkekeh.
"Menyerahlah, Dek. Papi mertuamu harus tahu akan hal ini," ucap Kendra pada El yang kini pura-pura sibuk menghitung ulat didaun bunga mawar milik Ummi Mutia.
Uwak Lana melotot tak percaya pada adik Kendra yang sama persisi sepertinya itu.
"Ken! Ja-jangn bialng pemuda itu El?!" seru Uwak Lana spontan berdiri dari tempat duduknya.
Papi Tama kebigungan. "Ada apa sih, Bang? Adakah yang papi lewatkan?" tanya lelaki paruh baya cinta pertama Tania itu.
Kendra tersenyum melihat ayah mertuanya itu.
Tujuh bulan yang lalu.
Suara hentakan sepatu kulit dilantai marmer dirumah sakit Uwak Ira membuat semua orang menoleh padanya. Ia berlari melewati semua orang langsung menuju ruang inap abangnya yang dikurung disana.
Air mata itu tidka berhenti bercucuran kala mengingat abang sulungnya. Ia mengusap kasar air mata itu yang semakin beruraian.
"Sial! Kenapa Ummi berbohong padaku?! Huh? Hiks.. Abang!" serunya sambil mendobrak pintu ruang rawat inap kendra yang saat itu terlelap kembali terkejut dengan kedatangana diknya itu.
__ADS_1
Kendra terduduk dibangkarnya dengan mata menatap lekat pada El. Adik Kendra itu mendekat padanya dan langsung memeluk Abangnya yang kini menatapnya dengan mata semakin menganak sungai.
"Bang," El memeluk Kendra.
"Kamu pulang El? Sama siapa? Apakah tugasmu di Belanda sudah selesai? Abi?" tanya Kendra dengan tatapan kosongnya.
El menangis pilu melihat keadaan Abangnya itu. Ia mengurai pelukannya dan bercerita banyak pada Kendra yang waktu itu masih hampa dan kosongnya.
Kadang ia menangis, kadang ia tertawa. Tapi, El tidak pernah meninggalkannya. Hingga sebuah nama membuatnya berdiri dan keluar dari ruangan Kendra.
"Ziana," lirih Kendra waktu itu.
El yang tahu apa arti nama itu untuknya segera keluar dan akan menemui ayah gadis yang Kendra sebut baru saja. Tekadnya sudah bulat untuk menikahi janda Abangnya itu.
Keduanya jatuh terduduk dan meringis menahan sakit di bagian pan tat keduanya. El yang merasa bersalah, memohon maaf. Tapi tubuh pemuda jangkung mirip Kendra itu membatu seketika saat tatapan matanya melihat sosok pemuda yang merupakan ayah dari pujaan hatinya selama ini ada dihadapannya.
"Ken! Kenapa kamu keluar? Loh? Kenapa kulitmu putih sekali? Ini pipi juga? Kenapa chubby begini? Bukannya kamu masih dirauanga? Dan apa ini? Kamu memakai baju biasa? Jangan bilang kamu ingin kabu?!" tuduh Uwak Lana pada El waktu itu.
El yang masih membeku melihat calon ayah mertuanya itu mengerjab. Ia tersenyum kikuk pada calon ayah mertuanya itu.
__ADS_1
"Nak?" panggil Uwak Lana lagi. Ia menatap lekat pada El yang kini memejamkan matanya untuk mengurangi rasa gugup yang kini melanda jantungnya.
El tersenyum. "I-iya Pi eh ma-maksudnya Wak. Hah, ya, Uwak Maulana." Balas El sedikit gugup dan terbata.
Uwak Lana mengernyitkan dahinya menatap lekat pada El. "Aneh, biasanya kamu panggil Uwak bukan papi, loh. Kok Uwak jadi curiga ya, sama kamu?" ucapnya pada El yang kini tersenyum kikuk padanya.
"Ehm, bangun dulu Wak. Kebetulan Uwak disini. Aku ingin mengatakan sesuatu yang serius dengan Uwak. Ini mengenai Say- ehm maksudku, Ziana." Lanjut El lagi yang membuat Uwak Lana segera bangkit dan mengikuti El menuju kantin rumah sakit untuk berbicara dengan tenang.
Tiba disana, El segera menghubungi pengacara yang sudah ia sewa untuk meresmikan pernikahannya dan Ziana. Ia juga sudah menyiapkan seorang penghulu dan saksi dari pihaknya untuk menikahkan keduanya.
El sudah menyiapkan semuanya. Uwak Lana hanya bisa terbengong melihat El yang dikira Kendra itu segera mengesahkan pernikahan mereka.
Ia turut senang akan hal itu. Karena yang ia kira jika itu ialah Kendra. ( Akan othor jelaskan saat di cerita Ziana ye?)
Mata Uwak Lana melotot saat menyadari jika itu ialah El. Bukanlah Kendra seperti anggapannya selama ini.
"Ja-jadi.. Ka-kamu El?! Bu-bukan K-kendra?!" tanya Uwak Lana pada el dan Kendra yang kini mengangguk padanya.
"Hehehe.. Maaf, Pi. Aku buru-buru waktu itu. Lagian, kalau aku bilang ini El, pasti papi tidak percaya bukan?" Uwak Lana mengangguk dengan wajah cengonya.
__ADS_1
Yang membuat Abio Kevin, kendra dan Aldo serempak menertawakan pemuda tampan cinta pertama Ziana itu.
El tersenyum malu pada ayah mertuanya itu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena salah tingkah ditatap begitu lekat oleh sang papi mertua.