Princess Pratama

Princess Pratama
Salah lawan


__ADS_3

"Anda salah berurusan jika dengan kami, Nona! Anda belum tahu siapa kami berdua. Anda salah memilih lawan! Kami berdua bisa membeli bahkan meratakan perusahan ayah anda dalam sekejab mata. Jangan terlalu sombong, Nona! Harta yang kamu pakai itu harta kedua orangtua anda. Tidak sepantasnya anda berbangga diri dengan harta kedua orangtua anda!


Jika anda sudah memiliki perusahaan sendiri, tak apa jika sombong. Itupun tidak boleh terlalu congkak! Karena diatas langit masih ada langit, Nona! Kalau anda tidak lupa itu!


Anda baru saja selesai kuliah. Seharusnya pergunakan ilmu yang anda peroleh itu untuk mencari kerja. Bukan untuk menghina orang! Apa gunanya titel tinggi, kalau paruh jelek anda itu tidak pernah diajarkan sopan santun dalam berbicara?"


Deg!


Wanita itu melotot lagi pada Kendra.


"Tak usah melotot, Nona! Apa yang saya katakan ini memang benar adanya. Saya dianggap gila, lantas bagaimana dengan anda yang normal ini? Pantaskah bagi seorang manusia normal seperti anda menghina saya yang orang gila ini?"


Sofia mengetatkan rahangnya mendengar ucapan Kendra yang begitu menyudutkannya.


"Saya memang gila. Tetapi lidah gila saya tidak diajarkan untuk menghina orang! Saya juga memiliki titel? Sama seperti anda. Bahkan saya seorang master! Tidak percaya? Tidak apa-apa! Tidak perlu juga orang gila ini menunjukkan titelnya pada orang yang sangat normal bukan? Dan juga perkataan orang gila ini belum tentu benar bukan?

__ADS_1


Karena setiap perkataan dan ucapan dari orang gila itu hanyalah bualan bagi kalian orang normal! Saya heran dengan kalian orang normal. Kok bisa lidah kalian itu setajam silet dan pemikiran kalian itu melebihi orang gila?"


Deg!


Deg!


Tania melipat bibirnya kedalam agar tidak menyemburkan tawa mendengar ucapan suaminya.


"Padahal yang gila 'kan, saya? Kenapa ucapan anda itu melebihi saya yang orang gila disini? Jangan-jangan.. Kita kebalik saat ini? Kamu yang gila? saya yang normal?" Ucap Kendra yang diangguki antusias oleh Tania.


Ddduuaaarr!!


Ucapan Telak Tania begitu membuat Sofia meradang. Wajahnya merah padam saat melihat beberapa orang yang melihat pertengkaran itu mengejek bahkan mencibirnya gila. Melebihi pasien dirumah sakit jiwa milik Om Dimas itu.


Tania terkekeh melihat wajah polos Kendra padanya. Seolah-olah ucapan Kendra tadi memanglah orang gila yang berbicara dengannya.

__ADS_1


"Ayo Hunny! Dan untuk kau, Nona sofia!" Ucap Kendra menatap serius padanya. "Carilah lawan yang sepadan. Anda tidak sepadan dengan kami orang sudah, miskin dan gila ini! Carilah lawan anda yang sepantaran dengan anda. Agar anda tidak dianggap gila karena selalu berbicara seperti orang gila! Ayo Hunny. Abang lapar! Ingin makan lontong kacang ditenda itu!" tunjuk Kendra dengan segera membawa Tania melewati Sofia yang kini napasnya memburu dan meradang mendengar ucapan Kendra yang begitu memukul telak dirinya.


Sepanjang jalan menuju tenda lontong itu, Tania terus tertawa karena merasa geli dengan ucapan Kendra tadi. Kendra biasa saja. Dia malah menunjukkakn wajah polosnya. Benar-benar seperti orang tidak waras.


Tania begitu geli melihat Sofia, Gadis itu menahan amarahnya karena ucapan Kendra. Andai yang dia hadapi orang normal. Pastilah sudah ia tinju mulut lelaki kurus sayangnya begitu tampan dimatanya itu.


Jika tidak berpikir, kalau Kendra merupakan pasien sakit jiwa, telihat dari seragam pasien yang ia kenakan. Maka Sofia akan menarik dan menjambak hijab Tania. Juga memukulnya hingga membuat wanita itu sulit berdiri dengan kedua kakinya.


Napasnya memburu dengan tangan mengepal erat.


"Sialaann!! Malah gue yang dikatain gila!! Dasar elu orang gilaaa!!!" teriaknya yang ditertawakan oleh pasien rumah sakit itu.


"Hahahaha.. Dia yang gila, menuduh orang lain gila! Yang gila bisa normal berbicaranya! Sedang yang normal? Hahaha.. Sudah gila dianya!!" ucap salah satu pasien rumah sakit jiwa itu yang membuar Sofia semakin kesal dan kepanasan dengan napas memburu sekali.


"Diam kaliaannn!! Dasar orang gila!!" sentaknya dengan segera berlalu sambil bersungut-sungut kesal pada pasien rumah sakit jiwa yang sedang menertawakannya itu.

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2