Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Meluapkan rasa


__ADS_3

Zayden terus memeluk erat tubuh Riya. Tak sedetik pun ingin lepas. Riya tidak menolaknya. Ia pun begitu merindukan Zayden.


"Sayang,"


"Hem? Kenapa? Abang butuh sesuatu? Lapar? Biar aku ambilkan dulu," jawab Riya cepat sambil segera bangkit tetapi, Zayden menahan lengan putihnya.


Riya menoleh. "Kenapa? Tidak jadikah?" tanya Riya yang di jawab dengan gelengan oleh Zayden. "Terus?" tanya Riya lagi.


"Nggak, kamu nggak boleh ke mana-mana. Cukup berbaring saja. Abang masih sangat merindukanmu," lirih Zayden yang diangguki cepat oleh Riya.


Ia kembali mendekati Zayden yang kini menunggunya dengan tangan siap menampung tubuh langsing sang istri.


Riya mendekat dan memeluk erat tubuh Zayden yang begitu ia rindukan selama empat tahun terakhir.


"Boleh aku tanya, Bang?" tanya Riya

__ADS_1


Zayden mengangguk sambil menatap lekat wajah sang istri yang begitu cantik terlihat saat ini di bandingkan dengan empat tahun yang lalu.


"Apa yang kamu tanyakan? Apakah mengenai abang yang tidak menemui empat tahun lalu saat kamu wisuda sesuai dengan perjanjian kita?" tebak Zayden yang diangguki oleh riya sambil tersenyum dan mengangguk.


Zayden yang gemas segera mengecup putik ranum yang selalu membuatnya candu itu. Riya pasrah aja. Ia pun mnerima semua yang zayden berikan padanya.


Di rasa cukup, Zayden melepaskannya dan menatap lekat pada riya yang kini masih memejamkan kedua matanya. Pipinya merona seketika. Zayden terkekeh.Gemas, ia mengecup singkat pipi yang sedang merona itu.


Riya semakin malu di buatnya. "Udah, ih! Jawab dulu pertanyaanku jika Abang menginginkan lebih!" pancing Riya yang membuat Zayden semakin antusias ingin menjawab semua pertanyaan sang istri.


"Hem, apa, ya. Waktu itu abang memang sangat sibuk. Kami berdua tidak bisa pulang karena saat kamu wisuda, bang Zayn baru saja mendapatkan kursi direktur, makanya kami nggak bisa pulang. Sebagai perwakilan kami berdua, Oma Annisa menyuruh mami dan Abi untuk ke Kairo. Begitu, Sayangku!" ujar Zayden menjelaskan yang sebenarnya.


Riya mengangguk mendengarkan cerita Zayden. Di rasa cukup, keduanya kembali meluapkan rasa yang sudah lama terpendam.


Keduanya larut dalam gelora muda dan juga rasa rindu yang begitu berat menumpuk di dada keduanya.

__ADS_1


Sementara Zayn dan Jia saat ini sedang memasak bersama. Sesekali Zayn menganggu sang istri dengan cara mengecup leher putihnya yang terbalut hijab itu. Jia di buat kepayahan oleh tingkah suaminya itu.


"Udah, ih! Nanti malam saja Abang! Ini masih sore, loh. Ummi sama Abi pun baru aja pergi. Kita masak dulu, ya? Malam ini, aku sepenuhnya milikmu!" ucap Jia yang diangguki oleh Zayn.


Jia melanjutkan memasak untuk mereka berempat. Jia tidak ingin mengganggu sang kakak yang pastinya sedang sama seperti dirinya saat ini. Zayn tetap memeluknya dari belakang.


Tak ingin sedikit pun lepas. Jia memasak di bantu Zayn yang mengambilkan semua alat masak untuk Jia. Serta ia juga ikut membantu merajang sayur untuk makan malam mereka.


Setelah semua siap, Jia dan Zayn kembali masuk ke kamar untuk mandi bersama dan menunggu waktu maghrib tiba.


Zayn dengan telaten membersihkan tubuh istrinya dengan lembut. Sesekali tangan usil itu mencubit buah melon yang begitu menantang dirinya.


Jia menepuk lembut tangan suaminya itu. Zayn terkekeh.


...****************...

__ADS_1


Typo bertebaran, besok othor revisi. 🙏


Besok lagi, ye? Othor lagi kurang sehat dua hari ini. Ini udah agak mendingan.🤧🤧🙏


__ADS_2