
Setelah puas berbicara dengan kedua mertuanya, kini Kendra dan Tania sudah kembali ke kamar mereka. Si kembar pun sudah tidur lebih dulu.
Keduanya terlelap setelah kelelahan bermain diruang tivi bersama Om nya, Danis. Kendra menatap lekat pada Tania yang kini sedang menggeser tubuhnya untuk lepas dari tubuh kedua putranya yang membelitnya begitu erat.
Tania menghela napas lega saat ia bisa melepas belitan kaki si kembar ditubuhnya. Kendra tersenyum melihat itu. Ia terus menatap Tania dengan lekat.
Tania yang merasa dirinya sedang ditatap, menoleh pada sosok yang kini sedang menatapnya.
"Kenapa?" tanya Tania.
"Apanya?" jawab Kendra kebingungan mendengar pertanyaan Tania padanya.
Tania menghela napas kesal. "Abang sedari tadi terus saja menatapku. Kenapa? Ada yang ingin Abang tanyakan?" tanya Tania dengan suara lirihnya takut mengganggu kedua putranya itu.
Kendra tidak menjawab, tetapi ia tersenyum pada Tania. Senyum yang bisa Tania artikan jika Kendra saat ini butuh dirinya.
"Okey! Kita tiduran dibawah aja ya? Nggak enak disini. Takutnya si kembar terganggu pula dengan aktivitas kita!"
Kendra tergelak tertahan. Tania tersenyum tipis. Ia segera turun dan mengambil ambal bulu yang lumayan tebal dari dalam lemari yang ada dikamar itu.
Kendra mengernyitkan dahinya. "Kayaknya kamu memiliki banyak stok ambal berbulu seperti ini ya?" ucap Kendra yang dijawab dengan kekehan oleh Tania.
"Ini ambal saat kita berada dirumah sakit, Suamiku. Mana ada aku punya stok banyak? Nggak ada, Abang! Ini milik kita yang saat kemarin malam kita tidur dirumah sakit." Jelas Tania yang diangguki oleh Kendra tapi masih penasaran juga kenapa warnanya bisa berubah seperti itu.
"Tapi kok beda ya warnanya? Bukannya warnanya kemarin malam itu biru? Kenapa sekarang menjadi merah marun?" tanya Kendra sembari beranjak turun kebawah.
Dimana Tania sudah menunggunya dan sedang berganti pakaian. Seragam dinas malamnya. Baju batik tanpa lengan yang menunjukkan kulit putih mulusnya yang membuat darah Kendra berdesir seketika.
Kendra segera mendekatkan dirinya pada Tania.
__ADS_1
"Itu karena ambal ini mmeiliki dua warna. Eugh.. Luarnya berwarna biru. Dan dalamnya berwarna marun. Ah, aku balik aja tadi!" jawab Tania sembari memgang kepal Kendra yang sudah mulai bergerak ditubuhnya.
Tania yang paham, segera menyambutnya. Ia tidak menolaknya sama sekali. Ia menerima segala apa yang Kendra berikan ditubuhnya.
Ha srat yang membara membuat keduanya kini sudah bergelung didalam selimut mencari kenikmatan bersama.
Keduanya berlomba untuk mendapatkan kenikmatan itu lagi setelah kemarin dan tadi pagi Tania berikan untuknya.
Tania tetap unggul dalam mengambil alih. Tubuh Kendra yang belum sepenuhnya sembuh, masih belum bisa menggantikan posisi Tania.
Ia menerima dengan senang hati. Kali ini, ia ikut membalas apa yang Tania lakukan padanya. Berbeda dengan kemarin malam dan tadi pagi. Kendra lebih memilih diam, walau sebenarnya ia puas dengan pelayanan yang Tania berikan ditubuhnya.
Keduanya terus saja mereguk manisnya madu pernikahan yang sudah lama tidak mereka dapatkan. Terakhir hanya satu minggu saja sebelum keduanya berpisah. Dengan kata lain, Kendra baru saja sebentar merasakan yang namanya surga dunia bersama Tania. Setelah itu, ia kehilangan Tania hingga tiga tahun lamanya.
Dan saat ini?
Keduanya sudah bersatu kembali. Mereka semakin bersemangat untuk mereguk manisnya madu pernikahan.
Tania yang sangat lemah dan kehabisan tenaga, ia terlelap didada Kendra. Kendra yang kelelahan mengikuti Tania pun ikut terlelap.
Keduanya tidur bersama dibawah. Hingga suara kedua bocah kembar itu menangis diwaktu tengah malam membuat keduanya terkejut, spontan saja keduanya bangun dari tidur mereka.
Dan ketika mereka bangun, Tania lupa menutup tubuhnya. Alhasil, Kendra dan Tania terlihat sama-sama polos sebagian. Sedang kaki keduanya tertutup selimut.
Si kembar yang tadinya menangis karena kehilangan kedua orangtuanya, kini terkejut melihat kedua orangtuanya yang saat ini seperti orang bingung.
Mata keduanya berkedip-kedip lucu saat melihat tubuh polos Tania dan Kendra yang kini duduk saling berhadapan seperti orang linglung.
Tania menatap Kendra, Kendra pun demikian. Keduanya menatap lekat bersama. Hingga suara si kembar mengejutkan mereka lagi.
__ADS_1
"Hiks.. Mami cama abi napain bobok dibawah? Itu.. Teneen adek, abi apain? Mau abi tucup tuga?"
Deg!
Deg!
Keduanya spontan terkejut dengan ucapan si kembar. Kendra dan Tania melirik kemana arah mata Sibungsu Zayden.
Duk!
"Astaghfirullah!" seru keduanya begitu terkejut dengan aksi spontan tangan masing-masing yang mencoba menutup tubuh keduanya hingga kepala mereka berdua terentur.
Kendra dan Tania sama-sama meringis. Kendra memeluk tubuh Tania yang masih polos dengan rambut panjangnya terurai.
Membuat bocah kembar itu spontan saja menangis kuat. Hingga mami Annisa dan papi Tama yang sudah bangun langsung menuju ke kamar mereka.
Tok.
Tok.
Tok.
"Buka pintunya, Kak! Si kembar kenapa?!" teriak mami Annisa sembari mengetuk pintu kamar Tania berulangkali.
Sementara Tania dan Kendra kini terkekeh bersama sambil saling berpelukan dengan tubuh polos mereka yang disaksikan si kembar yang semakin menangis histeris kala melihat abinya itu menunduk seolah ingin mengambil pabrik susu milik keduanya.
...****************...
Padahal kan memang iya? 🤣🤣
__ADS_1
Hiyaaa.. Kaburrrrrr! 🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️