
Uwak Lana tertawa mendengar ucapan Tania. Begitu pun, Zidan. Ia yang ikut membantu menjaga si kembar, juga tertawa karena ucapan Tania.
"Pantas saja tubuh kamu makin melar, Dek!" celutuk Zee dari arah dapur.
Tania tersenyum nyengir. "Hehehehe... Biarin aja melar. Kan enak dipeluk kalau montok?" goda Tania
Kendra melotot mendengar ucapan Tania. Ia menatap tajam pada Tania yang ditertawakan oleh mereka semua.
Belum pernah sekalipun Tania berkata demikian dihadapan semua orang. Tetapi hari ini? Tania seakan sedang menggodanya dengan ucapan 'montok enak dipeluk' itu.
Tania tersenyum nyengir melihat Kendra yang kini menggelengkan kepala padanya. Uwak Lana menepuk bahu Kendra dan berbisik.
"Memang iyakan, kalau istri kita itu montok, enak dipeluk dan dibawa melayang?"
Blushh..
Pipi Kendra merona seketika. Uwak Lana tertawa keras melihat pipi suami keponakannya itu memerah karena malu pada ucapannya.
Papi Tama menggelengkan kepalanya sambil terkekeh melihat tingkah usil adiknya yang tidak pernah berubah sedikitpun.
Zee dan Zidan pun ikut terkekeh. Apalagi Uwak Ira yang baru tiba dari dapur menuju ke depan bersama mami Annisa. Keduanya ikut terkekeh melihat pipi Kendra kini merona malu.
__ADS_1
Kendra melirik Tania yang kini tersenyum sembari menggerakkan alisnya menggodanya juga. Bertambah merahlah pipi Kendra. Semua yang melihatnya tertawa bersama.
Hari ini, Kendra begitu malu dihadapan mereka semua. Pertemuan pertama kali dengan keluarga Tania bukan sepenuhnya, ia malah mendapatkan serangan malu dari Uwaknya sendiri.
Uwak Lana memang terkenal usil jika sudah dekat dengannya. Diantara yang lainnya, hanya dia yang paling usil. Bersama Malik putra sulungnya serta Prince yang saat ini berada di Jerman, ketiga orang itu terkenal usil didalam keluarga mereka.
Papi Tama yang melihat wajah menantunya itu semakin merah karena ditertawakan oleh keluarga pun, ikut terkekeh. Tetapi tujuan ia mengundang semuanya bukan untuk menertawan serta membuat keusilan dengannya.
Dasar uwak Lana. Ck. Ck. Papi Tama terkekeh melihat tingkah adik angkatnya itu.
"Sudah, sudah! Sebentar lagi Kinara dan anaknya akan datang kesini. Arga dan Mega baru aja masuk itu!" tunjuk Papi Tama pada abang sepupu Tania saudara kembar Zee.
"Woaahh.. Abang udah mau panen lagi ya?" ledek Tania pada Arga yang dibalas usapan tangan Arga dikepalanya. Tania tersenyum.
"Hooh, biar rame keluarga kita! Masa iya mami Annisa aja yang ramai anggota? Kami juga gitu dong!" katanya menggoda mami Annisa yang kini memutar bola mata malas padanya.
"Terserahmu lah Bang! Apa pun yang mami buat, kamu pasti ikuti!" balasnya pura-pura jutek.
Uwak Ira terkekeh. Semuanya ikut terkekeh melihat tante dna keponakan itu.
"Hem.. Sayangnya Papi Rayyan dan Papi Algi nggak bisa pulang ya?" tanya tania dengan raut wajah sendunya.
__ADS_1
"Siapa bilang Papi sama Mami nggak pulang, hem?" ucap salah satu pemuda tampan mirip almarhum Oma Alisa itu.
Semuanya menoleh ke arah pintu masuk. Mereka tersenyum melihat siapa yang baru saja tiba. Tania pun segera menoleh. Ia tersenyum lebar dengan mata berbinar.
"Papi Algi! Papi Rayyan! Huaaaa..." Tania berlari memeluk kedua pemuda itu bersamaan.
Kendra sampai berdiri melihat tingkah Tania yang berlari begitu gesit dengan baju gamisnya. Uwak lana menepuk lengan Kendra. Kemdra mengangguk dan kembali duduk.
Om Algi dan Om Rayyan memeluk Tania dengan erat. Tak lupa ia labuhkan kecupan sayang didahi tania yang membuat wanita hamil yang belum diketahui keluarga itu semakin terisak dipelukan hangat kedua Om nya.
Om Algi dan Om Rayyan dibuat tertawa dengan tingkah Tania.
"Udah ih! Malu sama sepupu kamu. Noh, mereka lihatin kamu loh," tegur Om Rayyan pada Tania yang kini masih terisak.
Tania mengurai pelukannya dan mencebik pada Omnya itu. Otante Tiara dan Tante Cinta mendekati Tania, keduanya memeluk keponakan suami mereka itu.
"Apakabar sayang? Kok, semakin chubby ini pipi? Jangan-jangan.. Kamu isi lagi!"
Deg!
Deg!
__ADS_1