
Si kembar tertegun melihat sepupunya yang kini sudah besar itu.Terakhir kali keduanya bertemu saat mereka masih SMP. Sedang saat ini? Keduanya sudah beranjak dewasa.
Onti Alzana tersenyum melihat putri keduanya itu membawa nampan minuman untuk Uwaknya.
"Kenapa merengut begitu, sih, mukanya? Kakak mana? Kok Adek yang ngantar minuman ke sini? Bukannya Ummi nyuruh Kakak tadi?" ucap Onti Alzana pada putri keduanya itu.
"Jia," suara lirih Zayn terdengar oleh sang pemilik nama. Ia berbalik dan menatap lekat pada pria yang memanggil namanya baru saja.
Jia tersenyum padanya. "Bang Zayn!" serunya kesenangan. Ia langsung berlari mendekati Zyan dan ingin memeluknya.
Tetapi melihat tatapan datar oleh sang Abi padanya, membuat tubuh itu mendadak mundur.
"Maaf, Abi." Ucapnya seraya menundukkan wajahnya pada Zayn.
Zayn terpaku di tempat saat melihat perbuatan adik sepupunya itu. Jantungnya berdegup kencang kala menatap lekat wajah adik sepupunya yang dulu seringkali menempel padanya tiap kali Jia pulang ke Medan.
Zayden melihat reaksi abangnya yang sedikit aneh. Ia pun menjadi heran saat melihat Jia mengenali Zayn.
"Bagaimana bisa Jia tahu kalau yang ini Bang Zayn?" pertanyaan itu lolos juga dari mulut Zayden saat melihat adik sepupunya itu.
"Itu juga yang ingin Onti tanyakan. Kamu, kok, bisa tahu jika itu Zayn? Bukannya itu Zayden?" tanya Onti Alzana memancing putri keduanya untuk berbicara jujur pada mereka semua.
Jia meremat kedua tangannya. Ia melihat pada Umminya yang kini menatapnya dengan lekat menunggu jawaban darinya.
__ADS_1
"Emm.. I-itu, A-aku.. A-anu," ucapnya bingung bagaimana cara menjelaskannya pada mereka semua.
"Anu apa?" desak sang Abi pula yang membuat Jia sedikit gemetaran.
Ia sangat menakuti Abinya itu. Berbeda dengan kakak kembarnya yang hanya takut pada Umminya saja.
Mami Tania tersenyum melihat keponakannya itu. "Jangan memasang wajah jelek kamu, Prince! Kakak nggak suka!" tegurnya pada adik sepupunya itu.
Om Prince menghela napasnya. "Bukan menakuti, Kak. Tetapi, memaang sudah seperti ini wajahku!" sanggahnya tidak terima ucapan mami Tania baru saja.
Mami Tania mencebikkan bibirnya pada Om Prince. "Diam dan jangan ganggu putriku saat sedang berbicara! Paham?" tegasnya pada Om Prince yang membuat Abi Jia itu menghela napas berat.
"Beginilah jika kembali bertemu dengan titisan mami Annisa?"
"Kakak dengar ya, Prince!" ucapnya menatap tajam pada Om Prince yang kini pasrah jika sudah berhadapan dengan kakak sepupunya itu.
"Baik, Mami," jawabnya patuh.
Mami Tania membalikkan tubuh kecil Jia dan memberikan kode untuk keduanya berpindah tepat hingga beberapa kali. Setelah itu si sulung berhenti karena kode dari sang mami.
Jia yang masih dalam pelukan mami Tania pun kembali berbalik dan masih dengan mata terpejam.
Mami Tania tersenyum. Sekarang, buka mata kamu. Lihat dan perhatikan baik-baik. Yang mana Zayn dan yang mana Zayden!" ucapnya menginterupsi Jia yang kini mengangguk tetapi, dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Em, nggak usah buka mata, ya, Mi? Adek tahu, kok, yang mana bang Zayn?" katanya pada mami Tania yang kini menatap lekat wajah keponakan yang masih setia memejamkan kedua matanya itu.
"Oke!" jawab mami Tania yang di balas senyum oleh Jia.
Dengan segera Jia melangkahkan kakinya menuju keduanya. Jantung keduanya berdegup kencang. Takut, Jia salah menebak. Jia berjalan ke depan kedua abang sepupunya itu. Ia berdiri tepat di salah satu di antara si sulung.
Jia..
Abang!
Suara hati keduanya seolah saling menginterupsi pergerakan Jia. Jia yang ingin memeluk Zayden, malah beralih memeluk Zayn yang berada di sebelah kanan Zayden. Padahal tadi saat Zayn menyapanya, Ia berada di sebelah kiri Zayden.
"Ini Abang Zayn! Yang di sebelah kiri itu Bang Zayden!"
Dduuar!
Tersentak semua orang saat melihat Jia memeluk erat tubuh Zayn yang kini membeku karena perkataan adik sepupunya itu. Zayn menunduk melihat adik sepupunya yang hanya sebatas dadanya saja.
"Dari mana kamu tahu kalau ini Abang?" tanya Zayn pada akhirnya. Ia begitu penasaran dengan adik sepupunya itu.
"Aku mengenalmu karena mendengar suara hatimu!" jawabnya lugas yang membuat Zayn terpaku dan mematung mendengar ucapan adik sepupunya itu.
Untuk pertama kalinya, ada seorang gadis yang bisa mengenalinya dengan baik. Dan itupun karena bisa mendnegar suara hatinya. Apakah itu benar?
__ADS_1
Tunggu besok pagi apa jawaban Zayn, ye?
Kalau ada typo, besok othor revisi! 🙏