Princess Pratama

Princess Pratama
Pergi Untuk Kembali


__ADS_3

"Hunny.. Jangan pergi. Abang mohon.." pinta Kendra lagi dengan wajah memelasnya.


Tania menggeleng dan tersenyum, "Jaga diri mu sumaiku. Sampai jumpa di tahun yang entah kapan."


Ceklek.


Pintu kamar hotel itu tertutup rapat. Tania kembali pada mode datar dna dinginnya. Ia terus berjalan menuju lobi. Dari kejauhan sudah terlihat Aldo berlari-lari kecil untuk mengejarnya.


Wajahnya begitu cemas saat ini.


"Tania!" serunya sambil berhenti di hadapan Tania.


Tania menatapnya dengan datar. "Temani bos mu. Dia membutuhkan mu saat ini."


"Maksudnya??"


"Pergilah! Aku harus segera pergi. Batas kebersamaan ku dengannya cukup sampai malam ini saja." Imbuh Tania sambil berlalu dari hadapan Aldo yang semakin membuat pemuda itu kebingungan.


"Neng! Kamu mau kemana? Kenapa Kendra di tinggal??" tanya Aldo lagi masih penasaran.


Tania berhenti. "Tanpa aku beri tahu pun kamu sudah lebih dulu tahu asisten Aldo Surbakti!"


Dduuuaarr!


Aldo terkesiap mendengar ucapan Tania yang kini sudah berlalu pergi meninggalkan nya yang mematung disamping dinding kamar keduanya.


Ia terpaku di tempat melihat kepergian Tania yang begitu terkesan terburu-buru. Aldo berbalik dan masuk ke kamar Bos nya yang kini mematung dengan air mata beruraian tanpa menggenakan baju hanya tertutup selimut saja.


Ia mendekati Kendra dan segera memeluknya.


"Al... Taniaku.. Taniaku pergi Al.." lirih Kendra dengan air mata yang terus bercucuran.


Aldo semakin mengeratkan pelukannya di tubuh polos Kendra. Aldo merasa prihatin dengan nasib cinta sahabat serta bos nya ini.


Andai ia bisa membantu, pastilah ia membantu. Tapi tidak. Kendra sudah melarangnya. Ya, Aldo sudah tahu kenapa dan apa sebabnya Kendra menikahi Tania dan juga berbulan madu disana.


Tadi, sebelum keduanya masuk ke kamar masing-masing, Kendra sempat bertemu dengan Aldo dan menceritakan semuanya.

__ADS_1


Hal yang keduanya tidak tahu ialah jika Tania sudah tahu tentang identitas Aldo siapa. Makanya tadi ia berbicara seperti itu.


Sementara Tania semakin cepat berjalan dan menemui kedua orang tuanya yang kini sedang menyambutnya dengan raut wajah sendu.


"Sudah siapa kan semua barang kakak?" tanya nya yang diangguki oleh keduanya.


"Kamu tak apa Nak?"


"Enggak mami. Ayo! lebih cepat lebih baik! Masih banyak yang harus kakak pelajari. Yang mami kirimkan itu baru sedikit. Papi, Om? Motornya ada di parkiran!"


Papi Tama dan Om Adi sepupu mami Annisa mengangguk. "Tentu, berangkatlah. Jangan pikirkan motor. Om yang akan bawa pulang."


Tania mengangguk. "Ayo Pi, Mi."


Kedua orang itu mengangguk. "Jaga ada keponakan ku sebelum kami pulang dari bandara ya Di?" ucap papi Tama pada Om Adi.


"Iya Bang. Tenang aja. Udah ada istri aku kok dirumah nenek."


"Terimakasih Di," ucap Mami Annisa padanya.


"Iya," jawab keduanya dengan segera berlalu dan pergi meninggalkan Om Adi yang mengambil motor milik Kakek mereka.


Tania segera menaiki mobil yang sudah ada supir didalamnya. Ketiganya pun segera berangkat meningalkan pelataran hotel itu.


Meninggalkan seorang pemuda yang menatap kepergiannya dengan nanar dan tatapan berselimut luka.


"Akhirnya kamu pergi juga Hunny.. Abang mengizinkan mu pergi. Dan Abang meridhoi setiap langkah yang nantinya akan kamu ambil. Pergilah. Abang ikhlas. Ini yang terbaik untuk kita berdua.." lirihnya tanpa suara.


Aldo menoleh padanya. "Ken.."


"Kita pulang Al.. Tugasku sudah selesai disini. Sebelumnya aku harus menjemput adik sepupu ku dulu," jawabnya yang diangguki Aldo tetapi sedikit meledeknya.


"Patah satu tumbuh berganti. Ini pepatah yang cocok untukmu." Katanya sambil berjalan mengikuti langkah lunglai sang Bos.


Kendra tak menggubrisnya. Ia segera memasuki mobil yang sudah tersedia disana. Mobil yang dipesan khusus oleh Aldo semenjak kedatangannya ke hotel itu.


Kedatangannya buka hanya sekedar liburan saja. Tetapi dalam hal mengawasi Kendra. Awalnya ia ingin berlibur disana. Ia sudah mendapat izin itu dari Kendra. Tetapi, ada hal yang tak terduga diketahui olehnya.

__ADS_1


Bahwa Kendra juga sedang kesana untuk berbulan madu dengan wanita yang ia cintai dalam diam. Bahkan Kendra pun tidak tahu akan hal itu.


Kendra menatap datar dan dingin pada jalanan di sekitarnya. Ia pulang untuk menyusul Ziana dan Malik untuk kembali ke Medan malam itu juga.


Karena bagaimana pun, kedua sepupu Tania itu tanggung jawabnya. Termasuk Ziana yang akan segera menjadi istrinya.


Cukup empat puluh lima menit perjalanan saja, kini keduanya sudah tiba di kediaman sang nenek buyut.


Untuk pertama kalinya Kendra menginjakkan kakinya kesana. Kebdra mematung di depan pintu kala menatap lurus ke dalam rumah, dimana terpampang nyata figura Almarhum nenek buyut dan juga Oma dan Opa Tania.


Begitu pun foto mereka satu keluarga yang berjumlah lumayan banyak. Kendra terkejut saat Ziana dan Mali memegang tangannya.


"Masuk dulu Bang. Bentar ya, kami ambil koper dulu. Mami sama papi sedang keluar sebentar." Ucap Ziana tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Kendra.


Ia memilih pura-pura tidak tahu saja. Itu lebih baik, pikirnya.


Kendra tersenyum kecut mendengar ucapan Ziana. "Tanpa kamu bilang pun Abang tahu kemana tujuan mereka, Dek!" lirih Kendra yang masih terdengar oleh Ziana.


Ziana memejamkan matanya dan segera mengambil kopernya bersama Malik. Keduanya keluar bersama dan meminta izin pada istri Om mereka untuk pamit.


Beliau mengiyakan.


Setelahnya ke empat orang itu segera meninggalkan kediaman nenek buyut Tania untuk kembauli ke Medan.


Kendra menatap sekali lagi pada rumah tua itu tetapi masih terlihat sangat bagus dan terawat.


Aku pergi untuk kembali Opa.. Oma.. Nenek buyut.. Kakek buyut.. Maafkan semua kesalahan ku yang telah melukai hati cucu kalian berdua. Maafkan aku yang tidak berdaya dengan semua ini. Ku harap, kalian mengerti.


Aku pamit, sampai jumpa lain waktu.


Batin Kendra begitu nelangsa saat melihat figura Oma Alisa dan Opa Gilang yang saat ini sudah tiada.


...****************...


Mampir ye?


__ADS_1


__ADS_2