Princess Pratama

Princess Pratama
Ditunda dulu?


__ADS_3

Kendra terus tertawa lepas karena Tania terus menepuk lembut dada kurusnya. Ingin Tania memukul Kendra dengan kuat. Tetapi itu tidak mungkin.


Ia tahu jika Kendra sangatlah kurus. Lebih kurus dari pertama kali bertemu dengannya saat dirumah sakit Uwak Ira.


"Hunny?"


"Heum?" jawab Tania dengan mata terpejamnya.


"Kamu sudah tidur?" tanya Kendra yang tidak mendapat jawaban dari Tania.


Kendra menunduk sedikit melihat pada istrinya itu. "Yah .. Kamu tidur toh? Padahal, Abang baru saja ingin mengatakan sesuatu padamu?" Kata Kendra yang segera ditanggapi oleh Tania dengan kepalanya mendongak melihat Kendra yang kini menunjukkan raut wajah kecewanya.


Tania tersenyum, ia memegang pipi kurus Kendra. "Aku belum tidur, Suamiku. Ada apa? Apa yang ingin kamu sampaikan padaku? Sangat pentingkah?" tanya Tania pada Kendra yang kini kembali menunduk melihat padanya.


Mendengar suara Tania dan merasakan tangan halus itu memegang pipinya, ada senyum cerah terbit disana. Tania dapat melihat itu. Ia pun merasa senang melihat suaminya itu tersenyum.


"Sebelum abang katakan, kamu harus berjanji dulu," ucap Kendra yang diangguki oleh Tania.


"Iya, aku janji! Apapun perkataan mu, akan aku dengarkan!" Balas Tania yang diangguki dengan senyuman oleh Kendra.


Senyuman yang selalu memabukkan bagi Tania saat melihatnya. Senyum yang membuat candu.


"Katakan, apa yang ingin abang sampaikan padaku?" Lanjut Tania lagi yang diangguki mantap oleh Kendra.


"Janji ya?"

__ADS_1


"Iya!" jawab Tania.


"Oke, nggak boleh tersinggung!" Ucap Kendra lagi yang diangguki mantap dan gemas oleh Tania.


"Iya, suamiku. Cintaku, ayah dari anakku??" Jawab Tania pada Kendra yang membuat suami Tania itu tertawa lagi. Tania pun ikut tertawa.


"Begini, kita kan baru saja bertemu?" ucap Kendra yang diangguki Tania.


"Terus?"


"Sebaiknya .. Kamu .. Itu ..," ucap Kendra sedikit ragu saat melihat binar mata cerah dari Tania tidak ingin meredup.


Kendra tidak ingin membuat Tania merasa bersalah dan marah yang berujung keduanya berpisah lagi.


"Katakan saja, Bang. Apa yang ingin kamu sampaikan? Kalau itu untuk kita bersama, tak apa. Apapun itu, akan aku dengarkan. Jika itu berat, akan kita lalui bersama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing! Hem?" Ucap Tania yang diangguki oleh Kendra dengan senyum manisnya.


Tania masih menunggu ucapan Kendra selanjutnya tanpa berniat menyelanya.


"Untuk sementara, sebelum masalah kita berdua selesai. Maksud Abang, masalah rumah tangga kita bertiga. Sebelum Ziana ditemukan dan abang memberikan keputusan untuk adikmu dan adikku itu, bisakah kamu memakai alat kontra sepsi terlebih dahulu? Jangan tersinggung Hunny! Abang hanya bermaksud menunda. Bukan tidak mau!" Ucap Kendra begitu cepat berbicara saat melihat Tania ingin menjawab ucapannya.


Tania terdian sejenak memikirkan ucapan Kendra.


Tapi aku ingin memiliki keturunan lagi darimu, Bang Kendra. Jangan hanya dua. Lihat aja mami sama papi. Mereka aja memiliki kami enam orang? Aku pun ingin sama sepertinya. Memiliki banyak keturunan bersamamu. Untuk hari tua dan akhirat kita kelak.


Batin Tania menatap sendu, tetapi bibir itu tersenyum pada Kendra.

__ADS_1


"Maaf Hunny, bukan maksud abang ingin menunda. Hanya saja, banyak masalah kita yang belum terselesaikan. Lebih baik kita menunda dulu. Belum lagi, diri ini belum sembuh. Lihat saja tubuh kurus ini? Yakin kamu mau hamil lagi? Sementara, diriku ini masihlah lemah?" Seakan Kendra tahu arti tatapan sendu mata Tania padanya, dengan cepat ia meminta maaf.


Agar tidak terjadi salah paham lagi pada istrinya dan berujung pergi lagi karena keegoisannya yang melarang Tania untuk hamil lagi.


Tujuan Kendra menundanya baik, kok. Ia tidak ingin Tania terbebani dengan kehamilan yang akan ia dapatkan lagi nantinya. Masih banyak masalah yang belum selesai saat ini. Untuk itu, Kendra ingin menundanya terlebih dahulu.


Kendra terus menatap lesu pada Tania. Sedangkan Tania tersenyum lembut padanya.


"Baik, jika itu yang Abang inginkan. Maka akan aku lakukan. Nanti pagi, aku akan membeli alat kontrasepsi berbentuk tablet aja. Ayo kita tidur. Masih jauh subuhnya!" Kata Tania yang diangguki oleh Kendra dengan wajah bingungnya.


"Hunny," panggil Kendra sangat merasa tidak nyaman pada Tania.


"Sudah, Abang tenang saja. Aku nggak apa-apa, kok. Benar yang kamu katakan. Sebaiknya kita tunda dulu," jawab Tania semakin erat memeluk tubuh kurus Kendra.


"Beneran? Kamu nggak marah?" tanya Kendra memastikan. Takut saja dirinya Tania marah lagi.


"Nggak.. Aku nggak marah sama Abang. Ayo, kita tidur lagi. Masih ngantuk akunya! Hoaamm.." Jawab Tania yang diangguki Kendra masih dengan keraguan memenuhi hatinya.


"Baiklah," ucap Kendra yang juga memeluk erat tubuh Tania.


Maaf Hunny.. Bukan maksudku menolaknya. Hanya saja..


Batin Kendra sedikit merasa tidak enak pada Tania.


Aku tidak akan memakai alat kontra sepsi. Aku ingin memiliki anak lagi darimu. Aku ingin memberikan kejutan untukmu pada saat hari ulang tahunmu yang akan datang sebentar lagi. Aku ingin memberikan kado terindah untukmu. Lagian, aku yang hamil. Bukan kamu? Kecuali ngidam! Hihihi..

__ADS_1


Batin Tania terkikik geli dengan ide jahilnya itu. Keduanya pun terlelap bersama menunggu fajar menyinsing dengan suara alunan merdu yang akan membangunkan mereka semua.


__ADS_2