
Kendra mengurai pelukannya dari tubuh Ziana yang kini sudah berkurang dari sesegukan. Saking nyaman nya pelukan Kendra, Ziana sampai sedikit terlelap.
Kendra terkekeh melihat wajah sembab Ziana yang kini terlihat mengantuk. "Tidurlah. Abang harus menemui Aldo dulu. Ada yang harus abang bicarakan dengannya. Kamu istirahat saja. Ya?" katanya pada Ziana yang diangguki oleh gadis kecil itu.
Dirinya yang sudah lelah karena menangis, ditambah kepalanya yang pusing membuat dirinya ingin segera terlelap.
Ia ingin merebahkan tubuhnya ke ranjang, tapi urung ia lakukan kala mengingat sesuatu.
"Sebaiknya kita pisah kamar Bang. Ini kamar kakakku. Jadi hanya kamu yang menempatinya. Aku ini istri kamu yang lain. Tidak sepantasnya aku tidur diranjang kalian. Aku akan pindah ke kamar lainnya. Abang pergi saja menemui bang Aldo. Aku mau istirahat. Kepala ku pusing karena terlalu lama menangis!" Imbuhnya dengan segera meninggalkan Kendra yang lagi dan lagi tertegun dengan ucapan istri kecilnya itu.
Tak lama setelahnya ia tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya yang sedikit terasa pening. "Aucchhtt.. Ssstt.. Sakitnya. Ishh.. Kenapa sampai luka lagi sih? Sakit ini kepala karena bekas jahitannya kembali di jahit. Ya Allah.." lirih Kendra dengan segera bangkit dan menuju ke luar.
Dan saat ia keluar, perawat yang mengurusnya itu pun sudah menunggunya. Dengan sigap, ia menyuruh Kendra untuk duduk.
.
__ADS_1
Kemudian ia bergegas menuju ke ruang tamu dimana Aldo dan anak buahnya kini menunggunya disana.
Kendra tiba disana saat aldo sedag bertanya dimana letak posisi yang sesungguhnya. Karena titik lokasi yang mereka kirimkan itu tidka terjangkau oleh map.
"Mana bisa begitu! Ini Singapura loh.. Sedang Indonesia yang pelosok saja saat ini sudah maju dan bisa diakses dengan map?" Gerutu Aldo pada salah satu anggotanya itu.
Kendra yang baru saja bergabung memilih diam. Karena belum paham kemana arah tujuan Aldo bicara saat ini.
"Tetapi itu benar adanya Tuan! Lokasi tempat terjadinya kecelakan istri Tuan Kendra memang tidak memiliki jalur internet. Disana itu jurang tanpa dasar. Dan sulit untuk bisa selamat jika sudah jatuh ke bawah sana. Mana lagi dibawah sana ada air terjun yang sangat deras? Pastilah Nyonya saat ini sudah hanyut terbawa arus, Tuan!" Bantahnya lagi pada ucapan Aldo yang masih belum percaya dengan ucapan orang suruhannya itu.
Mereka mengangguk, "Kami sudah menyisiri semua tepi jurang itu. Tetapi tidak menemukan apapun disana. Bahkan bekas kecelakan itu pun tidak ada disana. Makanya kami bilang tadi, belum ada titik terang dimana lokasi titik terakhir kejadian nahas itu."
"Ya Allah.. Kamu dimana Hunny.. Ssstt.. Aaargghhtt.."
Deg!
__ADS_1
"Ken!"
"Tuan muda!!" Seru anggotanya itu.
Kendra semakin merasakan sakit di kepalanya saat memikirkan kemana kah Tania hingga belum ditemukan titik keberadaan lokasi kejadian nahas itu.
Perawat yang mengurus Aldo dengan cekatan menyuntikkan obat pereda nyeri di tangan Kendra yang membuat Kendra terdiam seketika dari rasa meringisnya.
Ia memejamkan matanya saat merasakan rasa sakit itu mulai berkurang di kepalanya yang sedikit berdenyut karena memikirkan keberadaan Tania.
Tanpa ia sadari buliran bening mengalir di pipinya saat mengingat jika Tania entah berada dimana sekarang.
...****************...
__ADS_1