
Tania mengikuti langkah ringkih kedua jagoannya itu. Kendra dengan langkah terseoknya mengikuti langkah cepat kedua jagoannya itu untuk mengitari seluruh ruangan mewah itu.
Buah cintanya dengan Tania. Buah cinta yang ia kira pergi ikut serta bersama Tania. Tetapi takdir berkata lain. Ternyata Tania dan kedua putranya masihlah hidup.
Inilah yang terlihat saat didalam mimpinya sewaktu ia mengalami koma. Kendra bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah kedua putranya itu.
Wajah tampan sangat mirip dengannya. Bak pinang dibelah dua. Sama persis. Tania bahkan sangat shock saat melihat wajah kedua putranya ketika ia lahirkan dua tahun silam.
Teringat wajah putranya, teringat pula wajah Kendra yang ia tinggal tanpa sepatah kata pun. Tania sempat menyesali itu. Tetapi hanya sebentar. Kala mengingat jika ia juga mendengar dari Aldo, bahwa Ziana juga hamil waktu itu, membuat Tania merasa enggan untuk memberitahukan berita kelahiran kedua putranya pada Kendra.
Ia sengaja menutup akses kehidupannya selama di Singapura. Dan selama itu juga, ia tidak tahu akan keadaan Kendra. Karena menurutnya percuma saja memikirkan Kendra. Jika ternyata suaminya itu sedang berbahagia dengan adik madunya. Yaitu Ziana.
Hal yang berbanding terbalik dengan keadaan Kendra waktu itu. Keadaan Kendra begitu parah hingga ia harus dirujuk kerumah sakit yang ada di Jakarta.
Tania akhirnya tahu kondisi Kendra yang sebenarnya dari Om nya. Om Kenan yang waktu itu sengaja ke Jerman demi bisa konsultasi langsung dengan Prince. Abang sepupu Tania dan Ziana.
Kendra terduduk lemah dilantai setelah tungkainya begitu letih untuk menemani putranya itu berkeliling rumah peninggalan almarhum Opa Gilang dan Oma Alisa itu.
Tania kasihan melihat Kendra terduduk dengan bibir kembali memucat.
"Istirahat dikamar aja, yuk?" katanya pada Kendra yang diangguki oleh Kendra dan juga kedua putranya kini terduduk didalam pangkuan abi mereka.
Kedua putranya itu mendongak melihat abi mereka. "Abi tok pucat, mi?" tanya si bungsu pada Tania.
Tania tersenyum, "Adek masih ingat nggak mami ngomong apa sama kalian berdua?" tanya Tania pada kedua putranya.
__ADS_1
Kedua putranya itu menatap Kendra dengan seksama. Mata terpejam dengan napas teratur.
"Abi Ken macih cakit, kah?" tanya si bungsu pada tania lagi.
Tania gemas pada kedua putranya itu. "Ya, abi masih sakit. Belum sepenuhnya sehat. Untuk sekarang, jangan ganggu abi dulu, Ya? Biarkan abi istirahat. Kalian boleh kok, bobok sama abi. Tapi jangan ganggu abi, paham?" kata Tania yang diangguki kedua putranya itu dengan senyum riangnya.
Tania mengcak ra,but keduanya karena gemas. Kendra yang kelelahan tidka sedikitpun membuka kedua matanya.
"Ayo, Abang istirahat dikamar kita, aja. Anak-anak udah dulaun itu!" ucap Tania yang diangguki oleh Kendra.
Keduanya pun berjalan perlahan menuju ke kamar Tania yang berada di ujung ruangan. Tiba disana, Kendra sudah melihat kedua putranya sedang mengganti pakaian mereka dengan baju tidur bermotif si kembar botak dari negeri Malaya itu.
Tania tertawa saat melihat keduanya ganti baju tidur untuk tidur malam mereka.
Kendra tersenyum teduh pada kedua putranya itu.
"Abi, bobok cini. Adek dicebelah cini. Dan Abang, cebelah cana cama mami. Iya 'kan, mi?" tanya sibungsu yang dijawab dengan anggukan sekaligus tertawa oleh Tania.
Kendra menatap sayu pada Tania. Tania yang paham segera mendekat dan membuka jaket kulit yang Kendra kenakan.
Ia langsung berbaring kala putranya itu menariknya untuk tidur bersama mereka. Tania tersenyum melihat itu. Kendra mengecup bergantian puncak kepala putranya.
Kedua putranya memeluk Kendra begitu erat. Harum tubuh Kendra membuat keduanya terlelap dengan cepat. Begitupun dengan Kendra.
Mami Annisa dan papi Tama yang berada dipintu kamar Tania terkekeh melihat kedua cucu kembarnya itu.
__ADS_1
Tania berbalik ingin keluar. Tetapi malah dikejutkan dengan kedua orangtuanya yang kini menatap haru pada ketiga orang itu.
"Sudah tidur, Kak?" tanya mami Annisa yang diangguki oleh Tania dengan tersenyum bahagia.
"Baru aja, mi. Heran kakak lihatnya. Kok cepat banget ya tidurnya? Padahal 'kan masih pagi? Masih jam sepuluh juga." Tania tertawa sambil menutu pintu kamarnya.
Papi Tama merangkul putrinya itu bersamaan dengan mami Annisa. Ketiganya berjalan dimana Danis berada saat ini.
"Keduanya sangat mengantuk karena tidak tidur semalaman." Jawab Papi Tama yang membuat Tania terkejut.
"Kenapa tidak tidur? Mereka nonton serial si botak kembar lagi?" tanya Tania pada Papi Tama yang dijawab gelengan kepala olehnya.
"Lantas?" tanya Tania lagi masih penasaran kenapa kedua putra nya itu tidak tidur.
"Karena mereka tidak sabar ingin bertemu abinya. Mereka bilang, kalau mereka akan merawat abi Ken dengan baik. Mereka akan jadi anak baik dan penurut. Mereka juga bilang, kalau abi Ken nya sakit pasti karena ulah mereka berdua yang tidak mau bertemu dengan abinya itu." Jelas Danis yang membuat Tania tertegun seketika.
Mami Annisa mengusap lembut lengan putri sulungnya itu. "Keturunan Kendra sungguh luar biasa, Nak. Mereka sanggup bergadang hingga pukul empat pagi. Mereka tahan melihat setiap rekaman video kamu dan Kendra saat kalian liburan dipantai batu putih dulu. Belum lagi dengan foto kalian berdua. Keduanya tidak mau tidur lantaran ingin terus melihat foto kalian berdua, orangtuanya."
"Hah?" Tania menganga.
"Hahaha.. Dasar keturunan Wiryawan! Keturunan ke-3 ini begitu meresahkan!" imbuh Danis yang ditertawakan oleh papi Tama dan juga mami Annisa.
...****************...
Bonus Weekend! 😁
__ADS_1