Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Obrolan ayah dan anak


__ADS_3

Ke esokan paginya di kediaman Onti Alzana. Seperti yang di katakan oleh Onti Alzana tadi malam, pagi ini kebetulan sekali hari jum'at karena ketika keluarga mami Tania datang, mereka tiba di sore kamis.


Jadilah tadi malam mereka mennetukan acar pernikahan rahasia untuk Zayn dan Jia yang saat ini masih kelas tiga SMP. Kedua sengaja di nikahkan cepat oleh Onti Alzana karena Om Prince yang selalu membuat hidup putri keduanya itu selalu ketakutan berada di dekatnya.


Keluarga besar sangat menyayangkan hal ini. Tetapi, mereka juga tidak bisa marah pada Om Prince. Karena sangat tahu seperti Om Prince selama ini. Onti Alzana yang kadung kesal padanya, terpaksa harus membuat cara ini untuk menghilangkan putrinya dari rumah itu.


Berharap, hati ayah lima orang anak itu bisa terbuka setelah kepergian Jia nantinya. Acara akad nikah itupun dimulai. Hanya di hadiri penghulu setempat yang dipanggil secara rahasia dan juga tetua yang Onti Alzana kenal terutama Om dan juga tante dari sebelah nenek Alina dan Kakek Yoga untuk menjadi saksi pernikahan rahasia dua sepupu itu.


Jia hanya bisa diam dan termenung dengan pernikahan itu. Setelah semuanya terlelap tadi mala, ia keluar untuk mengambil minum ke dapur. Hal yang tidak di duga olehnya ialah bahwa sang abi duduk menunggu sambil menunduk menunggu kedatangannya.


Pluk.


Botol minum yang ada di tangan Jia terlepas seketika. Ia terkejut melihat mata abinya yang memerah melihat padanya. Jia beringsut ke belakang karena taku melihat abinya seperti itu.

__ADS_1


Om Prince tersenyum sendu melihat putrinya ingin menjauh darinya. Padahal bukan itu yang ia mau. Ia ingin berbicara seperti malam-malam sebelumnya dengan Jia seperti yang saat ini ia lakukan.


"M-maaf A-abi, a-aku akan balik ke kamar!" ucapnya dan segera berbalik ingin pergi.


Tetapi belum lagi kaki itu melangkah, ia tersentak dengan pelukan hangat yang selama ini ia inginkan.


Grep!


"Putriku," lirih Om Prince di telinga Jia.


Ia menggeleng. "Segitu bencikah kamu sama abi, Nak? Sampai abi peluk begini pun kamu tidak mau?" katanya begitu lirih nyaris tanpa tenaga.


Tergugu Jia mendengarnya. Ia menunduk. Tubuhnya bergetar. Pelukan itu semakin erat di tubuhnya. Om Prince mengecup puncak kepala yang tertutup hijab itu.

__ADS_1


"Dengar, Sayang. Abi tidak pernah membencimu. Bahkan sebaliknya. Abi sangat menyayangimu. Kamu tahu sendiri akan hal itu. Tetapi, kenapa kamu begitu takut dan benci saat melihat abi? Apakah abi pernah melakukan kesalahan? Katakan, Nak! Kenapa kamu sering menjauh di saat abi menghampirimu setiap malam di dapur ini?" tanya Om Prince pada Jia yang kini terisak di dalam rangkulannya.


"Apakah kamu tidak ingin berbicara, Sayang? Katakan! Kenapa kamu tidak ingin berbicara pada abi? Tahukah kamu, kalau abi selalu iri melihatmu yang lebh akrab dengan lelaki lain di bandingkan dengan abi? Kenapa, Nak? Kenapa kamu begitu benci dan takut sama abi? Bisa kamu jelaskan? Hem?" ucap Om Prince yang membuat Jia menghentikan isak tangisnya.


Matanya menatap lurus ke depan lantai dua sana. Ada Riya sedang menatapnya dengan tatapan tajamnya. Sontak saja pelukan itu Jia lepas begitu saja yang membuat Om Prince terkejut bukan main.


Jia masih menatap pada saudara kembarnya yang kini juga menatapnya dengansanagta menakutkan. Om Prince melihat ke mana arah mata Jia melihat.


Ia tersentak saat melihat putri sulungnya saat ini menatap adiknya dengan tatapan permusuhan.


"Sebaiknya abi mengurus saja kakak sulungku. Aku mengalah. Lebih baik aku menikah daripada aku merebutmu darinya. Abi memang abiku. Tetapi ada saudariku yang tidak ingin berbagi abi denganku. Lebih baik aku mencari abi lain dan kasih sayang dari lelaki lain selain abi. Daripada aku sering terluka dan kecewa karena tidak di sayang, lebih baik aku mengalah. Ya, aku mengalah karena dirinya," ujar Jia yang membuat Om Prince tertegun melihat tatapan mata Jia begitu menyiratkan kesedihan yang mendalam pada abinya itu.


"Urus putri abi yang lain. Biarkan aku menikah dengan bang Zayn. Mungkin dengan ini, putri abi yang lain akan tahu arti persaudaraan satu kandungan, satu ummi dan satu abi itu seperti apa. Aku mohon restu dari abi. Tolong, restui aku untuk menikah dengan Zayn. Aku mengalah, asal dia bahagia. Dia saudariku. Tetapi, abi begitu menyayanginya. Akupun begitu menyayangi abi. Walau ku tahu, abi selalu menatapku dengan datar dan tajam atas permintaannya. Tak apa. Aku ikhlas. Mungkin inilah takdirku menjadi anak kedua yang terbuang dan kurang lkasih sayang abinya. semoga abi bisa mendidik kakak sulungku menjadi wanita yang baik setelah aku keluar dari sini," ujar Jia lagi yang semakin membuat Om Prince tersentak mendengarnya.

__ADS_1


Ucapan terpanjang yang pernah putrinya bicarakan dengannya selama ia berumur lima belas tahun ini. Jia segera berlalu dan masuk ke kamar bawah di mana mami Tania dan kakak sepupunya berada.


__ADS_2