
Tania menatap nanar pada Kendra yang kini sedang bermain dengan Ziana dan dua orang anak kembar berusia dua tahun itu.
Tania terkekeh sumbang dengan air mata tidak berhenti untuk mengalir. Ia menyusut buliran bening dan ingin mendekati keduanya.
Dengan langkah yang begitu lemas Tania mendekati keduanya.
"Hai sayang.." sapanya pada dua anak kecil yang kini tertegun melihatnya.
"Mami Nia?? Mami disini? Bukannya mami sedang di Singapura ya??"
Deg!
Deg!
Sepasang suami istri itu berpaling dan melihat padanya. Wajah yang tadinya bahagia kini berubah menjadi datar seketika yang membuat hati Tania tercubit dan juga sekaligus ia tertawa sumbang.
"Kenapa? Kalian tidak senang melihat ku ada disini? Kenapa? Kenapa kalian tidak menyukaiku? Apa salahku disini? Bukankah kalian berdua yang berkhianat? Huh?!" seru Tania yang membuat dua bocah kecil itu berlari dan memeluk kaki nya.
Kendra dan Ziana yang tadinya berjongkok kini bangkit saat mendengar seruan Tania.
"Kak.." panggil Ziana padanya tetapi dengan wajah datarnya.
"Kenapa?? Kenapa kalian tega padaku?? Kenapa kalian tega berbuat seperti ini kepadaku? Tidak kah kalian tahu jika hati ini rasanya ingin mati saat ini juga?? Huh?! Kalian pikir aku sanggup melihat kalian berdua seperti ini??Huh? Hiks.." Tania terisak.
"Hunnyy.." panggil Kendra pula.
Tania tertawa lagi. Tertawa sumbang yang begitu menyeramkan terdengar. "Setelah kamu menikah dengannya dan memiliki anak, kamu tetap memanggilku sayang?? Huhh?! Tega kamu! Tega kamu sama aku! Mau kamu itu sebenarnya apa sih tuan muda?? Zia?? Apa yang kalian inginkan dariku? Huh? Kalian sengaja ingin merusak kepercayaan ku begitu??" Ziana menggeleng, masih dengan wajah datarnya. Ia mendekati Tania yang kini memegangi kedua balita yang kini bergelayut di kakinya.
"Mami.. Kita pulang?"
Deg!
Tania menunduk ke bawah. "Pulang? Kemana?? Tempat mami Nia disini. Sedang tempat kalian berdua bersama kedua orang tua kalian. Pergilah! Mami Zia kamu sedang mendekati kalian berdua." Imbuhnya.
__ADS_1
Tania melepaskan belitan kedua tangan balita itu yang membuat keduanya tersentak. Keduanya menoleh padanya dengan mata berkaca-kaca.
"Mami.. Mami nggak sayang kami lagi?? Mami mau kami pergi?? Tapi kami mau mami. Kami mau mami Nia! Bukan mami Zia!" seru keduanya dengan berteriak yang membuat Tania terkejut.
Ia melihat Ziana yang terus mendekat padanya dan juga Kendra. "Pergilah Nak. Kedua orang tuamu membutuhkan mu. Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, maka kita akan bersama saat di alam nyata. Kamu anaknya mereka berdua. Bukan anak kandung mami. Mereka lebih membutuhkan mu daripada mami. Pergilah!" Usir Tania sambil melepas pegangan kedua tangan anak itu dan berlalu dari sana yang membuat kedua anak itu meraung memanggil namanya.
Tania tidak menoleh ke belakang lagi. Ia terus berjalan hingga menuju tepian sungai yang airnya begitu jernih. Ia masuk ke dalamnya dan segera mencuci wajah serta semua tubuhnya.
"Hunny.."
Deg!
Tania yang sedang menyembunyikan wajahnya di dalam air, terkejut. Spontan saja ia bangkit dan melihat jika Kendra kini berada di hadapannya.
Tania mundur ke belakang. "Jangan pergi Hunny. Dengarkan dulu penjelasan Abang. Kamu salah paham. Kami tidak seperti itu," Ujar Kendra memperjelas keadaan dirinya dan Ziana.
Tania menggeleng, "Nggak! Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah menjadi milikku! Kamu sudah menjadi suami Ziana sekarang. Maka pergilah bersamanya. Aku ikhlas melepasmu asal kamu bahagia dengan pilihanmu. Biarkan aku sendiri. Tempatmu bukan disini. Disini tempatku."
"Papi!!" pekik dua bocah kembar itu lagi.
Kendra Menggeleng, "Nggak Hunny. Jika kamu pergi. Maka kita pun akan ikut!"
Tania tertawa lagi. "Nggak boleh! Kamu bukan disini tempatnya. Tetapi bersama istrimu yang lain. Pergilah. Bukankah sudah menjadi kesepakan kita jika kamu menikah lagi, maka dimulai saat itu aku bukan lagi istrimu??"
Deg!
Deg!
Kendra berhenti mendekat pada Tania yang semakin menjauh dan mundur darinya. Kendra menggeleng, "Nggak Hunny. Jangan pergi. Awas di belakang mu! Airnya sangat deras!" teriak Kendra sembari mendekati Tania dan ingin menggapainya.
Tania tersenyum sendu padanya. "Sampai bertemu lagi bang Kendra di kehidupan berikutnya. Hidupku sudah berakhir sampai disini. Bukan hanya di alam nyata, kamu bahkan tidak bisa ku miliki sampai di alam mimpi. Inilah batas hidupku. Selamat tinggal suami dan saudaraku.."
Byuurrr..
__ADS_1
Tania jatuh terbawa arus yang begitu kencang hingga dirinya tidak terihat lagi. Kendra yang berada di sana memekik kuat dan meronta-ronta saat ada beberapa orang memeganginya.
"Tidak!! Taniakuu!!! Tidakkk!! Jangaaan!! Aaaahh... Aaaahh... Aaahh.. Tidakk.. Aaahh.."
Suara terakhir yang Tania dengar sebelum matanya terpejam erat dengan bibir tersenyum tetapi begitu sendu.
Selamat tinggal bang Kendra.. Inilah akhir perjalanan hidupku bersamamu. Kita tidak di izinkan untuk bersatu. Baik di alam nyata maupun di alam mimpi.
Selamat tinggal suamiku.. Sampai berjumpa lagi di tujuh keabadian..
Lirih Tania membatin dengan air yang sudah memenuhi rongga paru-parunya. Hingga gelap, sesak dan tidak sanggup untuk bernafas lagi.
Tania terlelap dengan mata terpejam seiring arus air yang terus membawa nya entah kemana.
"Nia?? Nak?? Kakak?? Kamu udah sadar??"
Suara yang sangat ia kenali terdengar di telinganya. Tania menggerakkan bola matanya yang masih terpejam seiring dengan tangannya yang meraba-raba dadanya yang tidak lagi sesak.
"A-ku di-ma-na??" tanya nya dengan terbata.
Mami Annisa tersenyum lega. "Kamu di rumah sakit sayang. Kamu tidak sadarkan selama satu bulan lamanya. Dokter mengatakan kamu koma. Kami sangat panik saat kamu jatuh dari tempat tidur dalam keadaan telungkup dan air yang mengalir dari kamar mandi menuju ke kamar kamu waktu itu. Kamu sempat menghirup air lumayan banyak.
Beruntungnya adik kamu Aggam mengetahui keberadaan kamu yang jatuh. Jika tidak, pastilah kamu sudah tiada.." lirih mami Annisa yang membuat Tania tertegun masih dengan mata terpejam.
Aku?
Menghirup air?
Berarti...
Batin Tania dengan segera membuka kedua matanya.
...****************...
__ADS_1
Yuk mampir lagi kesini! 👇