Princess Pratama

Princess Pratama
Siapa Penculiknya?


__ADS_3

"Lantas? Apa yang harus kita lakukan saat ini? Ingin lapor polisi belum bisa bang! Belum satu kali dua puluh empat jam kan Tania hilang?"


Papi Tama menghela nafasnya. "Iya sih. Ya sudah, sebaiknya kita pulang dulu. Sudah malam. Sudah pukul sepuluh malam. Mana ponsel ku mati. Pastilah adikmu sudah meraung saat ini dirumah." Kelakarnya tetapi memang iya.


Adi yang mendengarnya tertawa. "Abang bisa saja! Ya udah, ayo semua kita kembali! Besok kita lanjutkan lagi sebelumnya kita lapor polisi dulu. Untuk saat ini pencarian kita hentikan. Ayo pulang!" katanya pada mereka semua yang membantu mencari Tania.


Mereka pun pulang dan meninggalkan pantai itu. Mereka semuanya pulang dalam keadaan tangan hampa.


Sepanjang perjalanan papi Tama terus melamun. Berpikir, siapa kiranya yang ingin menculik Tania? Tapi kenapa? Apakah Tania punya musuh? Atau jangan-jangan...


"Kendra!"


"Hah? Siapa bang? Kendra? Siapa itu Kendra??" tanya Adi pada papi Tama yang kini sedang mencondongkan tubuhnya melihat ponselnya.


Ia mengutak atik ponselnya dan menghubungi dua nomor sekaligus. Satu nomor tersambung, sedang yang satunya tidak.


Papi Tama semakin curiga.


"Haloo assalamu'alaikum Lana!"


"Hoaaamm.. Iya Bang. Ada apa? Kenapa menghubungiku malam-malam begini? Hoaamm. Hih ngantuknyaaa!!" serunya kesal pada ppai tama yang kini terkekeh mendengar keluhan dan gerutuannya itu.


"Kamu bersama Kendra tidak?"


"Hah? Kenapa? Ada apa sama Kendra?" jawabnya pura-pura panik.


Padahal saat ini dia mah sedang cekikikan bersama istrinya.


Dasar tak punya perasaan!


"Mana Kendra, Lan! Berikan ponselmu sama Kendra!" katanya lagi pada Uwak Lana yang kini pura-pura serius saat melihat panggilan itu berubah menjadi video call.


"Kenapa Abang tanya aku? Bukankah tadi pagi aku sudah mengatakan sama Abang, kalau Kendra ikut menyusul Tania ke sana? Anak ku juga kan?"


"Iya sih. Hanya saja.. Abang merasa jika ini ada hubungannya dengan nya!"

__ADS_1


"Maksudnya??" tanya nya pura-pura bingung.


"Tania mengilang di pantai batu putih bertepatan dengan Kendra yang juga menghilang di Bandara tadi pagi. Kami sudah mencari dan menyisir seluruh pantai itu. Tetap saja Tania tidak ada. Jadi.. Abang berpikir jika Kendra terlibat dalam hal ini. dan juga.." matanya memicing melihat wajah bingung Uwak Lana.


"Kamu!" Lanjutnya yang membuat Uwal Lana terkejut.


"Weh? Kok aku sih bang? Aku nggak tahu apa-apa loh.. Hilangnya Kendra sama Tania itu tdak ada hubungannya denganku. Gimana ceritanya aku bisa menculik keduanya?? Abang ngacok ah!" jawabnya sambil tertawa sarkas yang membuat Papi tama semakin yakin.


"Jangan berbohong Bang!"


Deg!


Uwak Lana menatapnya dengan bingung lagi. Sungguh, akting yang sangat mulus!


"Aku serius Bang. Buat apa aku menculik keduanya? Bukankah keduanya keponakan ku?"


"Kamu tidak menculiknya. Tetapi kamu otak dibalik penculikan itu!" Ujar papi Tama tepat sasaran.Tetapi dibalas dengan tertawa keras oleh uwak Lana lagi.


Papi tama berdecak. "Berhenti bersandiwara Maulana Akbar!!"


"Hahhaha.. Abang ini lucu! Kendra dan Tania hilang, kenapa pula aku yang jadi otaknya? Aneh Abang! Hahaha.."


"Jawab Maulana! Abang tahu itu kamu!"


"Mana ada. Abang ngacok kalau ngomong! Coba deh Abang pikir, buat apa menculik kedua orang itu? Sementara putriku akan menikah dengan menantu mu seminggu lagi? Kan aneh jadinya ayah mertua menculik calon mantu serta istri pertamanya? Buat apa??" Katanya lagi masih dengan tertawa.


"Abang nggak tahu untuk apa. Yang jelas, keduanya menghilang semua ini pasti rencana kamu. Katakan yang sebenarnya? Apa rencana mu Maulana Akbar?!" desak Papi Tama yang tidak ingin bermain-main lagi.


Sudah cukup ia mendengar ucapan tak berguna dari Uwak Lana. Uwak Lana pun berubah menjadi serius.


"Abang ingin tahu rencana ku??"


Papi Tama mengangguk.


"Baik, sebenarnya..."

__ADS_1


*


Pukul sebelas malam, Papi Tama pulang dengan wajah datar dan masamnya. Mami Annisa berlari langsung saja memeluk dirinya.


Ia menangis tersedu.


Kedua orang itu masuk kemar mereka dan berbicara disana. "Hiks.. Gimana bang?"


"Nggak tahu sayang. Tania benar-benar menghilang. Abang kira, Abang kamu yang merencanakan penculikan ini. Ternyata bukan.." lirihnya tak berdaya.


"Abang? Bang Lana maksudnya?"


"Hem, Abang bertanya padanya. Apakah ia terlibat. Tetapi ia bilang tidak. Setelah ia mengantar Kendra, hingga saat ini belum menghubungi Abang mu. Ia pun cemas saat ini. Abang bingung. Kok bisa keduanya hilang bersamaan? Tadi pagi Kendra menghilang, ponselnya pun tidak aktif hingga saat ini. Dan siang ini Tania. Ponsel nya pun demikian. Ada apa sih sebenarnya? Abang berpikir jika ini penculikan berencana. Makanya tadi Abang menghubungi Abang kamu dan bertanya. Apakah ia terlibat atau tidak. Dan dia bilang tidak." Ujar Papi Tama panjang lebar yang membuat mami Annisa tertegun.


"Apa jangan-jangan.. Ini kerjaan Mutia?" terka mami Annisa. Papi Tama terkejut mendengar itu.


"Mutia? Ummi nya Kendra?"


"Ya. Ummi nya Kendra."


"Tapi kenapa harus menculik keduanya? Jika memang ia tidak menyukai Tania, seharusnya Tania saja bukan yang diculik olehnya? Kenapa Kendra ikut diculik juga??"


Mami Annisa lagi dan lagi tertegun. "Iya sih. Benar-benar membingungkan saat ini,"


"Hem." Jawab Papi Tama masih memeluk erat tubuh mami Annisa yang membuat hatinya semakin terasa nyaman.


...****************...


Mau lagi?


Kalau iya, boleh dong othor minta Vote dan hadiahnya dari kalian semua?


Ingat!


Give away nya masih berlangsung ye? Pemenangnya akan othor umumin ketika cerita Tania tamat nanti.

__ADS_1


Maka dari itu, jangan lupa kirim hadiah yang banyak dan Vote setiap minggunya.


thor akan cek, siapa yang sering nyumbangin hadiah dan vote untuk othor setiap minggu nya! 😏😏


__ADS_2