
"Tunggu Ken! Berhenti! Kamu mau cari Ziana kemana di tengah malam buta begini? Apa kamu tahu kemana Paman Kevan membawa Ziana??"
Deg!
Deg!
Kaki yang sudah melangkah berjalan dua meter dihadapan Aldo mendadak berhenti seketika. Kendra memegang tengkuknya kembali.
Ia meringis.
"Hiks... Ssstt.. Aku nggak tahu Al. Yang penting cari dulu," lirihnya pada Aldo yang kini menghela napasnya.
Aldo mendekati Kendra yang berjongkok di jalan aspal itu. "Bangun Ken! Ayo, kita harus pulang. Aku yakin, saat ini orang dirumah sudah bangun. Ayo!" Ajak Aldo pada Kendra yang kini semakin lemas dan tak berdaya akibat pandangan matanya yang mulai mengabur.
"Al.."
Bruk.
__ADS_1
"Astaghfirullah Ken! Haisshh.. Baru aja dibilangin. Kan jatuh juga?! Ngeyelsih!" Ucap Aldo bersungut-sungut sembari membopong Kendra dan ia bawa masuk ke dalam mobil dan menuju rumah Uwak Lana yang berjarak empat meter dari tempat keduanya kini berada.
Tiba disana, Uwak Lana dan Ummi Mutia kebingungan melihat mobil Aldo masuk. Aldo segera turun dan membuka pintu samping mobilnya dan membopong Kendra di punggungnya yang membuat kedua orang itu terkejut bukan main.
"Astaghfirullah! Jadi benar? Kalau Kendra tadi yang berteriak?" tanya Ummi Mutia pada Uwak Lana yang juga membantu Aldo menggendong Kendra hingga menuju ke kamarnya.
Uwak Lana tidak menjawab, tetapi ia segera membantu Aldo untuk membaringkan Kendra diranjang Ziana. Mengingat Ziana, Uwak Lana langsung saja menatap Aldo yang kini menelisik ke seluruh ruangan untuk mencari sesuatu.
Kendra yang sudah pingsan tidak tahu apapun lagi. Ummi Mutia segera menghubungi dokter Umar yang tinggal di komplek yang sama. Yang ternyata menikah dengan seorang anak dari tentara yang sudah pensiun juga.
Ummi Mutia berbicara sebentar, kemudian beralih pada aldo dan juga Kendra.
"Apakah sebelum saya tiba tadi kalian sempat terlelap dan merasa sangat mengantuk ketika menghirup aroma terapi dari AC yang ada di dalam rumah ini??"
Deg!
Deg!
__ADS_1
Uwak Lana dan Ummi Mutia saling pandang. Keduanya mengangguk setuju.
"Ya, kamu benar. Kami sempat merasakan hal itu. Kami semuanya terlelap. Tetapi itu hanya sebentar saja. Kami sadar saat Fanya yang membangunkan kami. Diantara kita semua, hanya Fanya yang sadar. Ia sempat menuju ke kamar ini dan mengambil ponsel Kendra yang berdering. Setelah ia tahu itu panggilan dari kamu, ia segera berlari dan membangunkan kami yang waktu itu sangat sulit untuk bangun." Jawab Uwak Lana yang diangguki oleh Aldo.
"berarti benar dugaan saya jika ini perbuatan Tuan Kevan. Dan baru saja Kendra bilang, kalau dia sudah menculik Ziana. Dan entah dibawa kemana saat ini."
Deg!
"Apa? Ziana diculik? Bagaimana bisa?! Abang!" seru Uwak Maura yang dijawab dengan keterkejutan mereka bertiga yang masih terjaga di kamar Ziana itu.
Dokter Umar yang terpaku di depan pintu, segera sadar dan masuk menuju ke Kendra dan segera memeriksanya.
"Jawab Aldo! Kenapa bisa kamu mengatakan jika putri saya diculik? Dan itupun ulah ayah Kendra??" tanya nya lagi pada Aldo yang hanya bisa mengangguk saja.
"Maafkan saya Nyonya. Seperti yang Kendra katakan pada saya tadi, jika Tuan kevan senagja menculik Ziana untuk suatu hal. Dan hanya dia yang tahu kemana membawa Ziana. Barusaja saya dapat informasi, bahwa terakhir kali mobil avanza milik Tuan Kevan terdeteksi saat dirumah ini saja. Selebihnya menghilang. Dan mobil itulah yang membawa ziana kini pergi." Jawab aldo dengan wajah bersalahnya.
"Ya allah.. Putriku. Apa yang harus kita lakukan saat ini bang? Putri kita dalam bahaya loh.. Apa salah putriku padanya, sampai hati ia menculik putriku!" Seru Uwak Maura yang kini menangis tergugu di sofa yang di dalam kamar Ziana itu.
__ADS_1
Uwak Lana menata nanar pada Kendra yang kini semakin memprihatinkan.