
Danis, mami Annisa dan papi Tama tertawa mendengar ucapan saudara kembar Tania itu. Sedangkan Tania memilih diam. Entah apa yang kini hadir dipikrannya membuat ia melamun.
Tania tersentak kala merasakan pelukan hangat yang dilakukan oleh saudara kembarnya itu.
"Jangan pikirkan Ziana, dek! Kita pasti bisa menemukannya. Bukankah lokasinya sudah kita temukan?" Ucap Danis yang diangguki oleh Tania.
"Ya, Abang benar! Aku hanya kepikiran aja sih. Sudah tiga tahun berlalu. Apa kira-kira yang terjadi dengan adik kecilku itu? Apakah dirinya masih sama? Ataukah saat ini sudah berbeda?" Jawab Tania yang ditatap nanar oleh mami Annisa dan papi Tama.
Mami Annisa memegang erat tangan papi Tama sekedar untuk mencari kekuatan akan kenyataan yang baru saja mereka ketahui tentang Ziana.
"Bersabarlah, Nak. Belum waktunya untuk kamu bisa mengetahui keadaan adik kecil kamu. Untuk saat ini, ia baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir! Pikirkan saja kesembuhan suami kamu dan juga kedua putra kamu yang baru saja bertemu dengan abi nya. Orang-orang papi sudah mendekati tempat itu. Tetapi ya.. Seperti yang kamu tahu. Kalau tempat itu sangat jauh dari daratan. Akses kesana pun harus dilalui dengan kapal kecil. Kalau kita kesana sekarang, takutnya mereka membawa kabur dan pindah lagi Ziana nya." Ucap Papi Tama yang diangguki oleh Danis.
"Papi benar, Dek! Bersabarlah. Ziana aman disana. Walau sedikit terjadi masalah, tetapi masalah itu kini sudah selesai. Dan ia pun saat ini sudah selesai dari kuliahnya. Sangat cepat bagi kita yang selesainya empat tahun. Tapi Ziana? Cukup dua tahun setengah saja ia sudah selesai dengan studinya. Sungguh menakjubkan!" Timpal Danis dengan senangnya kala mengingat Ziana.
Tania hanya bisa menghela napas panjang. "Bang Kendra belum tahu akan hal ini. Kalau ia tahu, pastilah ia senang. Istri keduanya tidak kalah hebatnya darinya.." lirih Tania dengan senyum dibibirnya.
Akan tetapi, mami Annisa tahu rasa hati Tania seperti apa saat ini. Mulut berkata setuju. Tetapi hati?
Mami Annisa sangat paham siapa Tania sebenarnya. Tetapi ia menuruti kemauan Tania untuk membawa Ziana kembali. Demi keutuhan rumah tangga mereka bertiga.
__ADS_1
Sebenarnya beliau tidak sampai hati melihat Tania. Tetapi inilah yang harus Tania hadapi. Sampai kapan, Tania akan bersembunyi dari kenyataan. Bahwa adik sepupunya, adik kecil kesayangannya, merupakan istri lain dari suaminya.
Mami Annisa berharap, jika Tania tegar menghadapi semua masalah pelik konflik poligami didalam rumah tangga putri sulungnya.
*
*
Malam harinya.
Kendra sudah diributkan dengan si kembar yang kini sedang berebutan ingin menyisir rambut abi mereka. Ucapan Kendra tidak mereka dengarkan. Lantaran Kendra berkata sangat lembut sekali pada kedua putranya.
"Nggak!" sahut si sulung masih dengan tangan merebut sisir dari tangan si bungsu.
"Ndak mau! Biar adek yang cicil lambut abi!" jawab kedua serempak. Tetapi si bungsu yang lebih cepat merebut sisir itu.
Kendra menjadi pusing dibuatnya. Ingin memanggil Tania, tidak mungkin. Tania saat ini sedang membantu mami Annisa memasak makan malam mereka semua.
Si kembar terus saling tarik sisir satu itu. Membuat Kendra bingung ingin melerai siapa. Salah-salah, malah salah satunya nanti yang menangis.
__ADS_1
"Udah dong, sayangnya abi! Dengar dulu apa yang abi katakan! Bisa?" ucap Kendra dengan lembut tetapi sangat tegas.
Kedua bocah kembar yang saling berebutan dan saling menjerit hingga membuat Kendra pusing, kini berhenti seketika.
Tania yang baru akan masuk karena terkejut dengan suara gaduh dari kamarnya itu berlari cepat. Tetapi ketika ia membuka pintu dan melihat kedalam kamarnya, ia mematung ditempat kala melihat kedua putranya kini sedang menunduk tidak berani menatap abi mereka.
Kendra tersenyum. Ia senang melihat kepatuhan dua putranya itu. Ia mengusap kepala kedua putranya dengan sayang. Membuat dua bocah kembar itu menatapnya dengan mata bulat bening yang sudah berkaca-kaca dan bibir yang mencebik lucu.
Tania terkekeh melihatnya. Itulah yang terjadi jika keduanya ditegur untuk diam. Wajah yang sangat menggemaskan. Tania berdiri didepan pintu. Ia ingin melihat bagaimana suaminya itu mendamaikan kedua putranya yang saling berebut perhatian abinya.
Tania terkekeh sendiri, saat Danis mengatakan keturunan Wiryawan yang ke-3 begitu meresahkan.
Benar saja apa yang Danis katakan. Kedua bocah kembar keturunan Wiryawan itu begitu meresahkan mereka semua. Tetapi Tania bahagia karena memiliki mereka.
Suatu hal yang Tania syukuri adalah kehadiran mereka saat Kendra tidak berada di sisinya. Tania tersenyum saat melihat Kendra berhasil membujuk kedua putranya itu.
"Dengarkan abi. Kalian berdua tidak perlu saling rebut seperti ini. Abang sama adek kan bisa bagi tugas untuk mengurus abi?" ucap Kendra yang diangguki bocah kembar itu.
...****************...
__ADS_1