
Jia dan Riya tertegun melihat semua bukti dan juga ucapan Oma Annisa tentang biaya keduanya saat di Kairo. Ternyata, suami mereka lah yang selama ini membiayai mereka. Bukan abi mereka.
Mata keduanya berkaca-kaca. "Sudah, jangan di sesali dan kesal pada suami kalian. Keduanya bekerja karena kalian berdua. Demi kalian, keduanya bekerja di Singapura perusahaan Oma kalian. Keduanya bekerja keras selama empat tahun ini. Abi yang menyuruh kedua lelaki itu untuk memancing keributan dengan suami kalian dengan mengatakan jika kalian sedang melakukan proses ta'aruf. Abi sengaja melakukan semua ini demi membuat suami kalian pulang kesini. Semua itu karena abi. Abi yang meminta keduanya untuk pulang. Keduanya tidak mau pulang karena merasa belum mapan hingga saat ini. Padahal posisi keduanya sudah CEO sekarang ini. Tetap saja, keduanya tidak mau pulang. Alasan apa lebih tepatnya, tanyakan pada suami kalian. Sebaiknya kalian berdua masuk dan beristirahat," titah Abi Prince yang diangguki oleh Zayn dan Zayden dnegan patuh.
Keduanya masuk ke kamar masing-masing yang berada di lantai dua. Abi Prince mengusap kepal kedua putrinya.
"Masuklah, bicara pada mereka. Keduanya butuh di jelaskan dan kalian butuh penjelasan juga bukan?" kata Abi Prince pada Jia dan Riya yang kini mengangguk dan bangkit menuju ke kamar mereka. Di mana sang suami sudah lebih dulu masuk dan merebahkan tubuh lelahnya di ranjang yang dulu pernah keduanya tempati selama setahun bersama istri mereka.
Ummi Alzana merangkul pinggang Abi Prince. "Semoga keduanya bisa lebih dewasa lagi, ya, Bang? Cukup sudah dengan semua yang terjadi." Lirih Ummi Alzana yang diangguki oleh Abi Prince.
"Ya, kamu benar. Kita biarkan dulu keduanya di rumah ini. Biarkan mereka puas bersama dulu. Ayo, bukankah kita harus berangkat hari ini ke Padang? Apalagi yang kita tunggu. Penjaga putri kita sudah kembali. Biarkan keduanya berbulan madu di sini saja. Abang nggak mau kejadian kita di Jerman dulunya kejadian pula sama mereka. Kan nggak lucu, lagi menyatu malah lari-larian kayak kita dulunya?" Ummi Alzana tergelak keras begitu pun Abi Prince.
"Hahaha.. Mengingat itu, aku jadi ingin mengulanginya lagi. Eits! Tetapi di dalam kamar saja," bisik ummi Alzana yang di hadiahi kecupan singkat di putik ranumnya.
Keduanya menuju ke kamar mereka yang berada di lantai bawah. Kedua paruh baya yang belum tua itu, saling tertawa bersama sambil memasuki kamar mereka.
Di kamar Jia.
Jia duduk berhadapan di ranjang bersama Zayn yang kini bersandar di kepala ranjang dengan mata terpejam. Kakinya tersulur dengan menyilang. Kedua tangannya terlipat di dada. Cukup lama Jia menunggu Zayn untuk berbicara.
__ADS_1
Sadar jika Zayn tidur, Jia melangkah naik ke ranjang dan berbaring di dada Zayn yang membuat Zayn terkejut. Namun, setelah tahu itu istrinya, Zayn kembali memejamkan matanya. Ia merangkul tubuh Jia yang juga sedang memeluknya. Jia mendongak menatap suaminya yang kini terlelap. Cukup lama Jia memandangi paras tampan itu hingga dirinya pun ikut terlelap.
Zayn membuka matanya saat merasakan napas teratur Jia. Ia menatap lekat pada istrinya yang kini berada di pelukannya. Ia tidak berbicara tetapi, buliran bening yang mengalir di pipinya hingga menimpa rambut Jia menyiratkan kerinduan yang begitu dalam.
Zayn membawa Jia ke bantal. Zayn menjadikan lengannya untuk kepala Jia. Ia pun ikut kembali memejamkan matanya. Lelah hati, lelah pikiran begitu menderanya saat ini. Makanya ia tidak ingin berbicara sepatah katapaun pada Jia. Beruntungnya Zayn, Jia memahaminya.
Istrinya itu malah beralih mendekatinya dan memeluknya dengan erat. Pertanda ia pun sangat merindukan suaminya itu. Keduanya terlelap begitu saja. Hembusan pendingin ruangan di terik cuaca yang panas membuat keduanya terlelap dengan saling berpelukan bersama.
Sedangkan di kamar Riya, keduanya saat ini sedang mandi bersama. Riya yang merasa gerah memilih mandi untuk mendinginkan tubuhnya serta hatinya yang masih bergemuruh. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Riya masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk dan menyampirkannya ke bahu. Zayn yang melihat itu menghela napas berat. Ia pun memilih menyusul Riya dan mandi bersama istrinya itu.
Sesuatu yang terpendam itu pun bangkit saat ini. Zayn mendekati Riya yang sedang membungkuk mengisi bathub dengan air serta aroma mawar kesukaannya.
Riya tersentak saat merasakan pelukan hangat di tubuhnya. Sadar jika itu Zayden, Riya membalikkan tubuhnya. Tangan Riya cekatan membuka baju suaminya itu dengan wajah datarnya.
Tes.
Tes.
__ADS_1
Buliran bening mengalir di sudut pipi Zayden saat melihat perlakuan istrinya yang masih sama seperti dulu padanya. Riya bergerak cepat membuka semua baju Zayden dan meletakkannya dalam keranjang kotor yang tersedia di sana.
Riya hanya menyisakan CD saja menutupi senjata tempur milik suminya itu. riya menuntun Zayden untuk masuk ke dalam bathub yang sudah berisi aiar dan aroma mawaryang begitu memabukkan di penciuman Zauden saat ini.
Riya segera meandikan tubuh suaminya dengan lembut. Setiap titik dan setiap sudut yang wanita itu sentuh, Riya gosok lumayan keras. Berharap kotoran itu dan sisa tangan wanita itu menghilang di tubuh suaminya.
Tubuh Zayden kemerahan akibat ulahnya. Zayden diam saja. Ia membiarkan istrinya melkaukan appaun pada tubuhnya. Karena hal ini juga yang dia lakuakn pada tubuhnya setelah ia tahu dirinya di lecehkan oleh gadis itu.
Dalam diam, air mata keduanya menjadi saksi betapa hati itu saling terpaut dan saling merindukan. Zayden yang sudah tidak tahan segera memeluk istrinya itu dengan erat. Keduanya menangis bersama suara isakan tangis keduanya bergema di dalam kamar mandi itu. Tak ada yang berniat keluar dari air mawar itu. Keduanya betah di sana.
Apalagi Riya. Dirinya yang paling sakit saat tahu jika apa yang suaminya dulu jelaskan benar adanya. Ia sangat bersalah pada suminya. Belum lagi fakta yang baru saja ia dengar. Bahwa biaya kuliahnya selama di Kairo merupakan uang suaminya. Bukan abinya. Riya semakin tersedu dan semkain erat memeluk tubuh Zayden.
Isak tangis keduanya mewakili rasa hati yang terpendam saat ini. Rindu yang terpendam selama empat tahun melebur bersama suara tangisan keduanya.
Sakit memang saat berjauhan dengan orang yang di cintai. Apapun yang di kerjakan selalu hambar. Tak ada rasa manis di setiap perbuatan keduanya. Kenangan manis saat bersama itulah yang menjadi pengantar tidur untuk keduanya.
Hanya kenangan manis. Sementara pemilik kenangan manis itu tidak bersama dirinya. Hari ini, semuanya selesai.
Keduanya berdamai dengan kejadian masa lalu dan akan melanjutkan hidup untuk masa depan.
__ADS_1