Princess Pratama

Princess Pratama
Menemui Tania


__ADS_3

Ziana dan Uwak Lana masih saling berpelukan untuk mengurangi rasa rindu di dada keduanya setelah tiga tahun tidak bertemu.


Ziana tertawa saat merasakan tendangan dari dalam perutnya. Uwak Lana terkejut, tak lama ia terkekeh. Ia mengusap perut putri sulungnya itu dengan buliran bening terus membasahi wajah tampan Oma Alisa dan ayah Emil itu yang sudah almarhum.


Keduanya tertawa bersama saat pergerakan di perut Ziana semakin terjadi. Lelaki muda yang kini duduk disamping Abi Kevin itu pun, tertawa. Mendengar suara tawanya, Uwak Lana menatap lekat pada wajah lelaki muda itu.


"Kamu sangat mirip dengan Kendra suami Tania. Untuk malam ini, papi tidak akan bertanya. Karena abang kamu sudah berjanji akan menjelaskannya," ucap papi Lana yang diangguki pemuda muda itu.


"Baik, Pi. Terimakasih. Sayang, bawa papi ke kamarnya!" Titah pemuda itu yang diangguki oleh Ziana.


"Ayo, Pi! Papi harus istirahat dulu. Besok pagi, kita harus ke rumah sakit. Aku kangen kakak. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Jika bukan sebuah video yang dikirim Abi waktu itu. Mungkin aku akan terus merasa bersalah dengannya," lirih Ziana dengan raut wajah sendu.


Uwak Lana mengusap bahu putri sulungnya itu untuk menenangkannya."Sudah, tidak perlu disesali. Semua itu sudah takdir. Besan, maaf saya istirahat dulu, ya? Tubuh saya sangat pegal-pegal ini. Kayaknya saya masuk angin! Errgghhtt," Jawab Uwak Lana membalas ucapan putrinya sekaligus berbicara kepada besannya juga itu.


Abi Kevin dan Ummi Mutia mengangguk sambil tertawa mendengar suara yang di keluarkan oleh Uwak Lana.


Besan?


Memikirkan kata itu, Uwak Lana jadi pusing sendiri. Sejak kapan mereka jadi besanan? Seharusnya, papi Tama lah yang berbesanan dengannya?


Uwak Lana menggelengkan kepalanya pertanda tidak sanggup berpikir lantaran tubuhnya yang terlalu lelah.


Lelah karena mencari Ziana yang berujung kegagalan. Dan juga tenaganya yang sedikit terkuras karena perjalanan jauh.


Ziana segera menuntun sang papi untuk beristirahat. Dirinya pun, ikut istirahat yang dituntun oleh pemuda mirip Kendra itu.


Sementara dirumah sakit, Kendra dan Aldo yang baru saja tiba langsung menuju keruangan Tania dirawat. Disana sudah menunggu papi Tama yang tertidur di sofa karena kelelahan akibat perjalanan jauh.


Kendra masuk dengan pelan. Tidak ingin mengganggu ayah mertuanya yang sudah terlelap di sofa.

__ADS_1


"Kamu istirahat juga, Al. Masih ada sofa satu lagi diruangan ini," ucap Kendra sedikit pelan.


Takut mengganggu ketenangan Tania dan Papi Tama.


"Terus, kamu tidur dimana? Kalau aku tidur di sofa?" Balas Aldo yang dijawan dengan anggukan kepala Kendra yang menatap Tania kini terlelap di bangkar pasiennya.


"Bangkar itu cukup untuk dua orang. Istirahatlah. Besok, kita butuh persiapan tenaga dan mental untuk menghadapi kemarahan mertua keduaku itu!" Seloroh Kendra sembari menaiki bangkar dan berbaring miring disamping Tania.


Aldo terkekeh mendengar ucapan Kendra yang memang benar adanya. Aldo pun, berbaring di sofa panjang diruangan vvip itu.


Mereka semua terlelap dengan tenang untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang begitu lelah akibat perjalanan jauh.


Menguras tenaga dan pikiran. Apalagi hati.


*


*


*


Pukul sembilan pagi, Ziana, Uwak Lana, lelaki muda mirip Kendra, Abi Kevin serta Ummi Mutia sudah tiba di halaman depan rumah sakit.


Kelima orang itu melngkah pelan memasuki kawasan rumah sakit milik Abi Kevin yang tidak diketahui oleh siapappun, kecuali lelaki muda yang saat ini berjalan di samping Ummi Mutia dan abi Kevin.


Ziana dan Uwak Lana berjalan di depan berdua. Keduanya saling rangkul. Para perawat disana menduga jika direktur mereka sedang ada urusan penting hingga datang ke rumah sakit itu pagi-pagi sekali.


Mereka ingin menyapa, tetapi abi Kevin mengedipkan matanya membuat semua perawat dan dokter menunduk patuh padanya.


Tiba mereka didepan pintu ruangan VVIP setelah tadi mereka menaiki lift untuk tiba disana, Ziana segera menekan handel pintu itu dan membukanya.

__ADS_1


Deg!


Deg!


Deg!


Pemandangan pertama yang mereka lihat ialah semua orang didalam ruangan itu masih terlelap. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh lima menit.


Ziana perlahan melangkah masuk kedalam ruangan itu. Ia meletakkan dua rantang di meja yang kini ada papi Tama tidur dengan lelapnya.


Begitu juga dengan Aldo. Pemuda itupun tidur dengan lelapnya. Ziana dan lelaki muda mirip Kendra itu mendekati Tania dan Kendra yang saling tidur dengan berpelukan.


Mata ziana berkaca-kaca. Lelaki muda itu memegang bahunya untuk menguatkan Ziana.


Ziana duduk dihadapan Tania dan Kendra setelah lelaki muda itu menarik sebuah kursi untuk ziana dududki.


Ziana duduk dengan mata basah melihat Tania yang tidur dengan lelapnya.


"Kakak.. Adek pikir tidak bisa bertemu dan melihatmu lagi. Tapi ternyata? Allah masih memberikan kesempatan ini pada kita. Bangun Kak, adek udah datang. Adek udah kembali seperti keinginan Kakak," lirih Ziana dengan dada yang begitu sesak.


Tania secepat kilat membuka matanya. Jantungnya berdegup kencang kala menedengar suara lirih adik kesayangannya kini ada diruangan itu.


Ziana terisak. Mata Tania mengerjap-ngerjap dihadapan dada bidang Kendra yang kini sedang memeluknya erat.


"Bangun Kakak. Adek udah datang loh, tidak inginkah kakak melihatku? Tidak inginkah kakak memelukku? Adek udah kembali Kak!" srunya dengan suara lirih lagi.


Jantung Tania semakin berdebar tidak karuan. Ia segera mengurai paksa pelukan Kendra hingga membuat pemuda itu tersentak dari tidurnya.


Tania berbalik dan..

__ADS_1


"Zia? Kamu Ziana? Adik kecilku?"


__ADS_2