
Uwak Lana keluar dari ruangan tempat ia menginterogasi Ummi Mutia menuju ke balkon atas. Malik sang putra sulung tetap setia mengikutinya.
Walau dengan pemikiran yang berkecamuk tentang kisah cinta sang papi dimasa lalunya itu. Ia tetap mengikuti snag papi kemana arah lelaki itu berjalan.
Uwak Lana duduk dengan mata menatap jurus ke depan. Tatapan matanya kosong. Malik mendekatinya dan duduk disamping papi nya itu.
Papi yang selalu menjadi kebanggaan keluarganya dan juga yang selalu melindungi mereka dengan cepat jika terjadi masalah.
Malik menatap sang papi dengan nanar. Ia bingung harus mulai dari mana bertanya. Ia terus saja menatap sang papi yang kini termenung memikirkan kisah dirinya dan Ummi Mutia dulunya.
"Pi-,"
"Papi tahu Nak. Papi juga salah dalam hal ini. Jika papi tidak ikut andil dalam menikahkan saudaramu, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi. Tetapi apa yang harus papi lakukan saat ini. Toh, semua ini sudah terjadi 'kan? Papi tahu... Papi salah.. Papi salah karena sudah memaksakan kehendak pada kakakmu yang sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini." Potongnya yang membuat putra sulungnya itu menghela napasnya.
"Tetapi semua itu berubah ketika ia melihat bang Kendra. Suami kak Tania 'kan?" Sang papi mengangguk setuju.
__ADS_1
"Kamu benar. Jika saja papi tidak mempertemukan keduanya waktu dirumah mami dan papi kamu, mungkin.. Saat ini akan beda ceritanya." Ucapnya menimpali perkataan sang anak yang kini menghela napas sesak. Mengingat saudara kembarnya yang kini sudah mulai ada rasa dengan suaminya itu.
"Kalian berdua salah. Kalian berdua dengan sengaja memaksakan kehendak kalian dalam hal ini. Kalian berdua telah memaksa kedua orang itu untuk menikah dengan atau tanpa izin kak Tania. Abang tahu kalau poligami itu boleh-boleh saja. Tetapi jika sang istri pertama merasakan keberatan karena takut suaminya tidak bisa berbuat adil kepada mereka berdua, ini yang menjadi masalahnya. Sebab sudah terlihat jelas 'kan? Kalau kak Tania merasa keberatan??
Tapi kenapa papi memaksakannya juga? Maaf Pi. Dalam hal ini, papi lah yang sangat salah. Dan juga Ummi Mutia pun lebih bersalah lagi.
Demi menuruti dendam di masa lalu, kalian berdua tega melibatkan dua orang yang tidak tahu apapun dengan masalah kalian berdua. Kalian membawa keduanya dalam masalah pelik.
Lihatlah saat ini. Hasil dari perbuatan kalian yang sengaja menyatukan keduanya? Kak Tania mengalami kecelakan dan belum tahu kabar beritanya. Mana papi dan mami tidak bisa di hubungi dari tadi malam?
Sebenarnya janji apa yang papi buat dengan almarhun kakek Kendaraksa? Hingga kalian berdua tega melibatkan dua orang yang tidak tahu apapun itu?
Sekarang? Setelah terjadi, kenapa kalian berdua saling menyalahkan satu sama lainnya? Sementara kesalahan itu terletak pada kalian para orang tua?
Kenapa tidak berpikir dulu sebelum kalian mengambil keputusan? Kenapa baru sekarang kalian memahaminya? Disaat hubungan semuanya semakin rumit dan sulit?
__ADS_1
Dalam hal ini, kak Tania lah yang paling terluka. Kedua, bang Kendra. Yang ketiga, kakak ku. Dan yang ke empat, seluruh keluarga merasakan sakit yang tiada tara karena hal ini.
Satu yang berbuat, tapi semua yang merasakannnya. Ibarat pepatah, satu titik tuba rusak susu sebelanga. Inilah yang terjadi pada kita semua saat ini.
Gara-gara kalian orang tua, ke egeoisan kalian orang tua, semuanya menanggung akibat dari perbuatan kalian.
Maafkan Abang, jika lancang papi. Tetapi inilah yang terlihat oleh mata kepala ku sendiri. Banyak cara untuk menunaikan janji, Pi.
Salah satunya dengan cara mengizinkan dan mengalah dulu. Dalam artian, jika keduanya tidak bisa menikah sekarang 'kan masih bisa nanti? Disaat bang Kendra sudah memiliki anak dan juga papi sudah memiliki cucu??
Yang penting kan keturunan papi dan kakek Kendaraksa? Bukan yang lain? Walaupun itu cicit beliau dan cucu papi? Tidak ada yang salah bukan?
Seandainya kalian orang tua memikirkan hal ini. Tapi sayangnya. Kalian sibuk harus menunaikan janji tanpa melihat keadaan dan juga kondisi mereka berdua!" ucapnya yang membuat Uwak Lana tertegun.
Benar kata Malik, kenapa tidka teringat seperti itu dulunya? Bukankah itu cara yang bagus yang tidak merusak dan menyakiti semua orang. Termasuk ketiga anak muda yang terjerat di dalam benang merah yang kini sulit untuk lepas.
__ADS_1
...****************...