Princess Pratama

Princess Pratama
Ziarah ke makam Opa dan Oma


__ADS_3

Ke esokan paginya.


Seperti janji kemarin malam, sehabis subuh Tania dan Kendra sudah menuju ke makan Oam alisa dan Opa Gilang yang berada jauh dari rumah mereka.


Berjarak dua jam dari rumah mereka tetapi hanya satu jam dari rumah Uwak Ira dan mami Kinara serta Uwak Lana.


Keduanya membisu sepanjang jalan menuju ke komplek pemakanman keluarga Bhaskara yang ada di komplek perumahan Griya M.


Mereka pergi bertiga ditemani oleh Papi Tama. Beliau sedikit heran, kedua anak muda itu kenapa saling diam-diaman dengan wajah yang begitu kusut dan terkesan datar semenjak turun dari kamar mereka tadi subuh.


Apa ada masalah?


Ingin sekali beliau bertanya tetapi ia urungkan saat melihat ada jejak air mata dipelupuk mata putri sulungnya.


Ia sesekali juga melirik kendra yang kini duduk disamping kemudi bersama nya. Pemuda tampan tetapi kurus itu pun demikian.


Bahkan Kendra yang lebih parah lagi. Mata itu memerah dan sangat sembab. Sedang Tania hanya sedikit saja.

__ADS_1


Beliau tetap melajukan mobil itu menuju komplek perumahan griya M. Sebelum ke makam keduanya, mereka mampir dulu dirumah peninggalan alamarhum Opa Angga dan Oma Dewi yang juga sudah berpulang.


Rumah besar itu kini dihuni oleh Algi dan tiara jika sesekali mereka pulang ke Medan.


Sedang rumah besar milik Oma Alisa dan Opa Gilang, semua keluarga bisa menempatinya. Seperti wasiat beliau dulunya sebelum beliau berpulang.


Papi Tama mampir sebentar dirumah itu dan berbicara dengan penghuninya yang merupakan seseorang yang ditugaskan untuk merawat rumah peninggalan kedua orang tua Opa Gilang itu.


Rumah warisan turun temurun yang seharusnya Opa Gilang lah yang tinggal disana. Tetapi itu tidak bisa terjadi karena kecelakan empat tahun lalu yang mereka alami hingga membuat keduanya meninggal di tempat dengan saling berpelukan.


Mengingat itu, sedikit mengusik hati Papi Tama. Tetapi ia ingat tujuannya apa. Ia meminta salah satu dari mereka untuk menemani ketiganya menuju komplek makam itu yang memang berada di kawasan komplek itu.


Mereka tiba disana masih sangat pagi. Pukul tujuh pagi.


Satpam komplek pemakaman itu menyambut hangat kedatanagn mereka dan membawa mereka berempat menuju makam kedua orang yang mereka tuju.


Tiba disana, lagi. Rasa sesak itu menghampiri hati semua orang saat mengingat Oma Alisa dan Opa Gilang.

__ADS_1


Tania dan Kendra duduk bersimpuh di kedua nisan yang bertuliskan nama keduanya begitu jelas disana.


Tania mengecup lembut nisan itu bergantian. Ia menyapa sebentar kemudian mulai membacakan surah yasin untuk kedua orang yang begitu mereka sayangi itu.


Papi Tama menatap nisan itu dalam diam. Air matanya terus bercucuran saat mengingat dua orang yang begitu penting di dalam hidupnya setelah mama Linda dan papa Fabian.


Jika dibilang, Oma Alisa lah yang paling utama. Sebab, karena beliaulah papi Tama bisa menemukan sosok istri seperti mami Annisa.


Cukup lama keduanya disana hingga matahari meninggi. Buliran keringat mengalir di tubuh mereka semua.


Karena cahaya matahari pagi sangat jelas dan terang menerpa kompolek makam yang masih sedikit pepohonan itu.


Mereka berempat kembali dari makam dan singgah sebentar dirumah besar untuk menikmati sarapan pagi yang sudah disediakan untuk mereka.


Tania dan Kendra menatap sendu pada figura empat orang yang kini sudah tiada itu.


Senyum ke empat orang itu begitu cantik dan tampan disana. Wajah ke empatnya begitu berseri.

__ADS_1


Tania tidak tahan untuk tidak menangis. Papi Tama kembali memeluknya setelah di makam tadi Tania hampir pingsan karena tidak sanggup menahan sesak di dadanya.


__ADS_2