
Dzaka dan Dzaki berlari melewati semua keluarga yang membuat semuanya terkejut bukan main. Dzaka menghentikan langkahnya dan menarik napas panjang.
"Tidak ada apa-apa. Dzaki panik saja saat Kiana menguhubngi dirinya kalau Riana kambuh lagi magnya. Abang ke atas dulu. Lanjutkan saja acara kalian!" kata Dzaka yang membuat semuanya kebingungan.
"Riana punya mag?" tanya Oma Annisa yang diangguki oleh Alish.
"Benar Oma. Kak Riana memiliki sedikit gejala lambung. Adek tahu, kok. Udah di resepkan obat sama Kak Kiana tadi. Adek baru turun melihat Kak Riana!" Ucap Alish yang membuat Oma Annisa merasa lega.
Ia jadi berpikiran buruk saat memikirkan cucunya yang baru saja menikah itu. Mereka kembali berbicara menceritakan tentang desain perhiasan yang baru di terbitkan oleh Aggam dan istrinya dua minggu lalu.
Putra sulung Oma Annisa yang menikah dengan orang biasa dan dari kalangan biasa juga. Gadis itu memiliki segudang bakat yang tidak orang tahu. Hanya Aggam yang mengetahuinya.
Dzaka tiba di kamar Dzaki dan Riana dengan jantung bergemuruh hebat. Sebab, suara Riana begitu keras terdengar ketika kakinya baru menginjak tangga lantai dua. Dari kejauhan sudah terdengar suara Riana yang begitu melengking menolak kehadiran Dzaki yang ia kira lelaki itu.
__ADS_1
Dzaka mempercepat langkahnya. Tiba di sana, ia mematung melihat keadaan adik sepupu sekaligus adik iparnya yang sedang Kiana dan Dzaki berusaha tenangkan.
"Tidak!! Pergi! Jangan ganggu saya! Anda jahat! Lelaki bejat! Pergi!!! Jangan ganggu saya! Aaaa, bang Dzaki!! Tolong adek!!" suara teriakan Riana begitu melengking.
Kiana sekuat yang ia bisa untuk mendiamkan tangan Riana yang meronta dengan mata menyala merah. Dzaki sudah menangis melihat keadaan istrinya seperti itu. Ia berusaha semampunya untuk menenangkan sang istri yang semakin kalap meronta-ronta di dalam pelukannya.
Mami Tania berlari sekuat yang ia bisa hingga membuat Abi Prince yang sedang membawa nampan minuman terkejut. Ia pun jadi mengikuti mami Tania untuk naik ke lantai dua melalui tangga. Baru separuh perjalanan, Abi Prince mematung di undakan tangga.
"Tidak!! Kamu bukan bang Dzaki!! Kamu orang itu! Awas! Menyingkir! Saya rusak! Saya ternoda akibat ulahmu! Pergi!!" teriak Riana yang membuat Abi Prince berlari mengikuti mami Tania yang sudah lebih dulu masuk ke kamar itu.
Dzaki kewalahan menangani Riana yang terus mengamuk dan meronta. Abi Prince yang tahu Riana sedang tidak baik-baik saja, segera masuk melewati mami Tania yang mematung di sana. Abi Prince mendekati Dzaki dan memegang jempol kaki Riana kiri dan kanan.
Spontan saja Riana berhenti meronta. Seperti terjatuh ke bawah, tubuh Riana terhenyak ke ranjang dengan Dzaki ikut bersamanya. Kiana menghela napas lega. Akan tetapi, ketika ia melihat jika itu adalah Abi Prince, tubuh Kiana membeku seketika saat melihat wajah datar Abi Prince pada kakaknya.
__ADS_1
Abi Prince terus memijat titik sensitif pada kaki Riana hingga membuat Riana rileks. Mami Tania tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri saat ini. Dzaki mengedurkan pelukannya setelah melihat sang istri terdiam dengan mata terpejam.
Abi Prince duduk di kaki ranjang dengan sebelah kaki ia naikkan ke ranjang Dzaki dan Riana. Matanya tak lepas melihat keponakannya itu. Ruangan itu mendadak sunyi dan lengang. Hanya terdengar deru napas Dari Riana yang sedikit gusar.
"Sejak kapan Riana seperti ini? Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak ngomong sama Abi? Abi 'kan bisa membantunya untuk mengurangi rasa traumanya? Kiana!" seru Abi Prince dengan suara rendahnya tetapi, dingin itu membuat tubuh Kiana membeku lagi dan lagi.
Kiana menunduk. "Ma-maaf, Bi. Kakak sudah lama sakit seperti ini. A-aku sudah berusaha mencari dokter terbaik mengobatinya, tetap saja. Trauma itu kembali lagi. Baru kali ini a-aku melihatnya terdiam seperti ini," lirih Kiana dengan kepala menunduk dan tangannya memelintir ujung hijabnya hingga kucel.
Dzaka mendekati istrinya dan memeluknya. Kiana merasa tenang sejenak mencium aroma maskulin dari tubuh suaminya. Kiana mendongak melihat Dzaka yang kini tersenyum padanya. Kiana membalas pelukan Dzaka.
"Seharusnya, kalian katakan ini pada kami. Keluarga kita memiliki dokter yang bisa menanganinya. Salah satunya, mami Tania dan Abi. Kalian bisa mengatakannya sama Abi dan mami kalian. Lantas, kenapa kalian diam? Kalian tahu, jika penanganannya tidak tepat, maka inilah yang terjadi. Riana akan terus mengamuk hingga ia merusak tubuhnya. Beruntungnya ada Dzaki. Kalau Dzaki bekerja, Riana tiba-tiba kambuh, apa kalian bisa menanganinya? Huh?" tanya Abi Prince yang membuat ke empat pengantin baru itu terdiam tanpa suara.
Riana sudah sadar dari amukannya. Ia tahu, jika Abi Prince sedang memijat kakinya yang langsung menuju urat saraf di kepalanya yang membuat dirinya tenang. Riana terisak.
__ADS_1
"Ma-maaf, Bi. A-aku me-menyusahkan ka-kalian semua.. Maafkan a-aku.." lirihnya dengan air mata yang sudah beruraian di pipi halusnya.